Opini
Seni yang Diam
Tentang seniman, privilese, dan netralitas yang tak pernah benar-benar netral.
Kamis, 22 Oktober 2026
PEMANDANGAN yang seharusnya merobek-robek rasa kemanusiaan kita yang paling rapuh itu mungkin melintas di layar gawai kita: di antara asap tebal berwarna merah yang mengurung satu lokasi di Kalimantan Tengah, seorang perempuan bermasker terlihat sedang menyunggi baki berisi dagangan; satu tangannya menenteng kantung plastik yang penuh berisi entah apa. Mereka yang pernah menonton Mad Max, atau film-film post-apocalyptic lainnya, pasti ingat suasana dunia yang digambarkan dalam adegan-adegannya. Bedanya, di sini tak ada sutradara yang memerintahkan kamera berhenti merekam.
Kalimantan hanya kebetulan sedang mengalami situasi terburuk akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda pulau itu selama kurang lebih empat bulan. Pulau-pulau lain yang masih memiliki kawasan berhutan sesungguhnya juga tak lepas dari amukan api dan ancaman serupa.
Semua itu berlangsung tanpa intervensi memadai dari pemerintah, pihak yang memikul tanggung jawab terbesar untuk melindungi kehidupan masyarakat di wilayah terdampak. Pernyataan dan tindakan para pejabat memperlihatkan betapa mudahnya penderitaan warga tersisih dari prioritas kekuasaan.
Itu sebabnya protes bermunculan. Di media sosial kemarahan ini meluap. Tapi ada pula yang memilih bersikap “netral”. Di antara mereka ada sejumlah seniman dengan pengikut ratusan ribu, bahkan jutaan orang.
Ada musisi yang tetap mengumumkan album dan jadwal konser. Aktor sibuk mempromosikan film. Selebritas mengunggah produk yang mereka iklankan. Semua berjalan seperti biasa, seakan-akan tak ada yang terbakar selain hutan yang jauh dari jangkauan mata mereka.
Bayangkan seorang penyanyi yang mampu membuat ribuan orang menyenandungkan lirik lagunya bersama-sama. Dia punya kesempatan berbicara kepada khalayak yang mungkin tak akan pernah dijangkau organisasi pembela lingkungan mana pun. Tapi ketika masyarakat kehilangan ruang hidup dan hutan terbakar, dia memilih kembali menyanyikan lagu yang sama.
Atau aktor yang kerap berbicara tentang pesan kemanusiaan dalam filmnya, tapi mendadak “sakit gigi”: merasa seniman sebaiknya tak ikut campur dalam urusan politik. Rupanya, kemanusiaan adalah tema yang menarik selama masih ada dalam skenario.
Ada pula seniman yang menjadikan alam, kebudayaan lokal, dan masyarakat adat sebagai sumber inspirasi. Hutan menjadi latar pemotretan, motif tradisional mempercantik koleksi, dan kisah masyarakat pinggiran memperkaya karya. Tapi ketika hutan yang menghidupi masyarakat itu musnah atau ruang hidup mereka dirampas, inspirasi itu seperti kehilangan pemiliknya. Keindahan layak dibawa ke panggung; nasib orang-orang yang menjaganya tidak.
Benar, kita tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan setiap orang yang memilih bungkam. Mungkin mereka takut kehilangan kontrak iklan, kesempatan tampil, atau dukungan penggemar. Mungkin mereka menganggap persoalan politik terlalu rumit. Tapi apa yang sedemikian berharga sehingga harus dilindungi dengan membiarkan ketidakadilan berlalu tanpa suara?
Dunia musik internasional menyediakan beberapa cermin untuk bahan renungan. Pada 2024, vokalis Radiohead, Thom Yorke, ditegur seorang penonton karena dianggap diam tentang nasib Gaza. Dia sempat meninggalkan panggung. Berbulan-bulan kemudian, setelah kritik terus berdatangan, dia akhirnya mengeluarkan pernyataan panjang. Kita bisa berdebat tentang cara orang yang menuntutnya bersuara. Tapi satu hal jelas: bahkan seorang musisi besar tak bisa sepenuhnya mengendalikan bagaimana publik menilai kebungkamannya.
Sebaliknya, ada harga yang lebih konkret bagi mereka yang terang-terangan memilih berada di pihak yang tertindas. Pada September 2026, rapper Macklemore dicoret dari sisa tur Ed Sheeran di Amerika Serikat setelah menyuarakan dukungan bagi Palestina di panggung. Sejumlah musisi yang semula dijadwalkan menjadi penampil pembuka lalu menarik diri sebagai ekspresi solidaritas. Respons penggemar pun tak seluruhnya berupa kecaman. Ada yang mengaku justru menemukan musisi baru yang mereka dengan terbuka mau mendukungnya.
Tentu saja, kita tak perlu berpura-pura bahwa keberanian selalu berbuah manis. Ada kontrak yang hilang, panggung yang tertutup, dan penggemar yang pergi. Tapi ada pula orang-orang yang justru datang karena menghargai keberanian semacam itu. Popularitas bukan sesuatu yang hanya bisa dipertahankan dengan menghindari kontroversi; terkadang justru sikaplah yang membuat seseorang layak didengarkan.
Popularitas bukan kewajiban untuk berkomentar tentang segala hal. Tapi, kalau jutaan pengikut merupakan aset yang terus dirawat demi perhatian, tawaran komersial, dan penghasilan, sulit diterima alasan bahwa jangkauan itu sama sekali tak memiliki arti ketika masyarakat membutuhkan dukungan.
Perkataan George Orwell ini patut direfleksikan: “Pandangan bahwa seni tidak boleh ada kaitannya dengan politik, pada hakikatnya, merupakan suatu sikap politik.”
Pengarang yang masyhur melalui Animal Farm dan Nineteen Eighty-Four itu tidak mengada-ada. Politik memang bukan hanya urusan partai, tentang pemilu, atau hal ihwal perebutan jabatan. Politik juga menyangkut siapa yang menguasai tanah, siapa yang menghirup udara bersih, siapa yang memperoleh keuntungan dari penebangan dan pembukaan hutan, serta siapa yang harus menanggung akibatnya.
Ketika seorang seniman memilih tidak membicarakan semua itu, pilihannya mungkin tidak lahir dari niat mendukung ketidakadilan. Tapi, dalam situasi ketika ketidakadilan berlangsung terang-terangan, diam bisa menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang relatif terlindungi dari akibatnya.
Dalam hal itulah kita perlu membahas perihal privilese. Bukan untuk menyalahkan keberhasilan seorang seniman, melainkan untuk mengingatkan bahwa tak seorang pun bisa sampai di tempatnya sekarang sendirian.
Karya yang tampak sebagai hasil kreativitas individual sesungguhnya bertumpu pada kerja sosial yang jauh lebih luas. Seorang musisi mungkin menggubah lagu sendirian, tapi dia tumbuh dengan bahasa yang diwariskan masyarakat, belajar melalui pendidikan yang ditopang kerja banyak orang, menggunakan infrastruktur yang dibiayai publik, dan berkarya dalam ekosistem yang melibatkan pekerja dari berbagai bidang.
Ada petugas kebersihan yang menjaga ruang pertunjukan, buruh yang membangun gedung, pekerja transportasi yang mengantarkan penonton, dan masyarakat yang memungkinkan ekosistem seni terus hidup. Perhatian publiklah yang mengubah karya menjadi sesuatu yang bernilai sosial dan, sering, bernilai ekonomi.
Hal itu tak berarti masyarakat berhak mengatur setiap karya atau menentukan apa yang boleh diciptakan. Kebebasan berkarya justru patut dipertahankan. Tapi, kalau kesempatan berkarya lahir dari hubungan sosial, sulit menganggap keberhasilan sebagai prestasi individual semata-mata, seakan-akan sang seniman berutang kepada dirinya sendiri dan tidak kepada siapa pun.
Maka, yang terpenting bukanlah mempertanyakan apakah seniman wajib terus-menerus berbicara tentang politik. Yang mesti disoal adalah apakah mereka bersedia mengakui bahwa kebebasan yang mereka nikmati juga bergantung pada kondisi masyarakat yang memungkinkan kebebasan itu ada.
Apa arti puisi tentang kemanusiaan kalau penderitaan manusia yang nyata tak cukup penting untuk disebutkan? Apa makna lagu tentang kebebasan kalau penggubahnya tak peduli ketika orang kehilangan ruang hidup atau dibungkam karena menentang kekuasaan? Apa gunanya merayakan keindahan alam dalam karya kalau kehancuran alam di luar panggung dianggap bukan urusannya?
Ada kutipan yang kerap diatribusikan pada Dante Alighieri: “Tempat paling kelam di neraka disediakan untuk mereka yang tetap bersikap netral pada masa krisis moral.” Atribusinya tak sepenuhnya benar, tapi gagasan di dalamnya tetap layak menjadi bahan perenungan: ada saat ketika menolak memilih bukanlah tindakan tanpa konsekuensi.
Ketika satu pihak merusak hutan dan meraup keuntungan, sementara pihak lain kehilangan ruang hidup dan harus menghirup asap, netralitas tak otomatis membuat seseorang berdiri di luar persoalan. Dia bisa saja hanya membiarkan ketimpangan terus berlangsung tanpa gangguan.
Kita memang tak butuh seniman yang setiap hari berkhutbah tentang politik. Kita perlu seniman yang tak kehilangan kepekaan terhadap dunia yang memungkinkan mereka berkarya.
Seniman boleh terus mencipta. Menggubah lagu cinta, melukis bunga-bunga, membuat film komedi, memotret kehidupan manusia, dan merayakan keindahan sebanyak-banyaknya. Tapi ketika api melahap hutan dan kekuasaan membakar batas-batas kepantasan, ada baiknya mereka bertanya, “Seni macam apa yang sedang kita perjuangkan kalau kita begitu sibuk membela kebebasan berkarya sampai lupa membela kebebasan manusia untuk hidup?”




