Kamis, 15 Oktober 2026

            

Sosok

Tessa Prastini: Tunggu Tubang Hutan Semende

Generasi muda menjaga hutan.

Kamis, 15 Oktober 2026
Tessa Prastini, salah satu perempuan penjaga hutan di kawasan Semende, Sumatera Selatan. Sumber: KUPS Pandan Indah
Tessa Prastini, salah satu perempuan penjaga hutan di kawasan Semende, Sumatera Selatan. Sumber: KUPS Pandan Indah

BETAHITA.ID - Berjarak satu jam dari rumahnya, Tessa Prastini menemukan tujuan baru di dalam hutan. Saban sebulan bersama anggota kelompok perempuan penjaga hutan, perempuan 25 tahun ini melakukan patroli di Semende, sebuah kawasan hutan di dataran tinggi di Sumatera Selatan. 

Sebelum terlibat dalam kegiatan pelestarian hutan di kampungnya di Desa Kota Padang, Semende Darat Tengah, Muara Enim, Tessa mengira dirinya akan terkurung adat selamanya. Sebagai anak perempuan pertama, ada aturan turun-temurun yang dianut Suku Semende, di mana Tessa memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengelola harta warisan keluarga. 

“Saya adalah tunggu tubang. Ini adat istiadat Semende, yang mana sebagai anak perempuan tertua ditugaskan menjaga harta warisan keluarga turun-temurun dan menurunkannya kembali ke generasi berikutnya. Saya sudah dilatih sejak kecil,” kata Tessa. 

“Awalnya saya merasa tertekan karena saya berpikir tidak bisa keluar dari desa karena adat yang mengikat saya. Tapi sekarang mata saya terbuka bahwa hutan yang ada di depan mata saya itu bisa dikelola dengan cara-cara berkelanjutan. Saya bisa kelola hasil hutan dan menjual hasil pangan, dan bahkan bisa ikut dan mendatangi tempat-tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya,” katanya. 

Tessa merupakan ketua monitoring hutan, yang menjadi bagian dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Pandan Indah yang diinisiasi perempuan di Desa Kota Padang pada awal 2023. Kelompok ini mengelola hutan kemasyarakatan seluas 1.414 hektare.

Beranggotakan 17 orang, kelompok ini fokus mengolah kopi petik merah menjadi produk bernilai tinggi melalui praktik agroforestri, yang dinilai sebagai pendekatan ramah lingkungan. Umumnya kopi petani di Sumatera Selatan dikemas dengan cara gelondongan sehingga kerap diganjar harga murah. 

Menurut Tessa, terdapat lima hingga enam yang berangkat setiap patroli. Dalam penyusuran hutan ini, kelompok Tessa bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Hutan Desa maupun anggota karang taruna. Biasanya kegiatan patroli melibatkan pengamatan kondisi air di sungai yang menjadi sumber air bagi masyarakat di desa, inventarisasi flora dan fauna, memeriksa jika ada kerusakan ataupun longsor, sekaligus mencari sumber pangan untuk dibawa pulang. 

“Akhir-akhir ini kita lagi tertarik nyari tanaman obat. Kita anak muda senang, masuk hutan untuk menjaga tetapi sekaligus healing juga,” katanya. 

Kegiatan patroli dan monitoring hutan di kawasan Semende, Sumatera Selatan. Sumber: KUPS Pandan Indah

Tidak hanya di hutan, perempuan penjaga hutan dari Semende juga kerap terlibat dalam kegiatan untuk mempromosikan kerja-kerjanya bersama sejumlah organisasi mitra. Hasil hutan yang dikelola oleh KUPS Pandan Indah pun telah dibawa ke berbagai acara dan pameran, termasuk Ubud Food Festival di Bali serta Bangkok Climate Action Week awal Oktober lalu. 

Di tengah kebakaran hutan dan lahan yang melanda Sumatera Selatan dan wilayah lainnya di Indonesia, Tessa semakin menyadari pentingnya menjaga hutan. September lalu, asap telah mencapai desanya, dan kelompok perempuan penjaga hutan juga harus melakukan patroli di tengah asap. 

Kabut asap juga bertamu di rumahnya September lalu. Dalam kebakaran hutan sebelumnya, kawasan Semende jarang terdampak karena terletak di perbukitan. Namun kebakaran hutan tahun ini begitu parah sehingga asap pun menyelimuti desa. 

“Seumur hidup baru kali ini juga merasakan kabut asap sampai di rumah. Karena di Semende tidak terdampak ya seperti Palembang. Waktu itu aku bangun tidur disambut asap, aku kaget karena baru terjadi kali ini. Syukurnya satu minggu sudah turun hujan di wilayah kami,” kata Tessa. 

Tessa mengatakan, saat ini kelompoknya juga aktif dalam melakukan sosialisasi pelestarian hutan dan kampanye media sosial untuk tidak membakar hutan. 

“Bagi saya menjaga hutan sama seperti menjaga adat. Hutan dijaga dan adat terus berjalan untuk generasi anak muda ke depannya,” kata Tessa. 

Tessa (kanan) saat mengikuti Ubud Food Festival di Bali pada Mei 2026. Sumber: KUPS Pandan Indah