Sabtu, 24 Oktober 2026

            

Sosok

Mama-mama Jambujop: Ketika El Nino Mengeringkan Soa Senayu

Pohon jambu mete menghasilkan biji berkualitas yang menjadi sumber penghidupan mama-mama. Namun, di kebun lain, nanas mengering, air pun menipis.

Sabtu, 24 Oktober 2026
Jambu mete dari Soa Senayu, Papua Selatan. Foto: Dok Kresensia Kurniawati
Jambu mete dari Soa Senayu, Papua Selatan. Foto: Dok Kresensia Kurniawati

BETAHITA.ID - Di Kampung Soa Senayu, Merauke, Papua Selatan, musim kering membawa dua kenyataan yang berbeda. Pohon-pohon jambu mete tetap menghasilkan biji berkualitas yang menjadi sumber penghidupan mama-mama pengolah kacang mete. Namun, di kebun lain, tanaman jagung dan nanas mengering karena pasokan air semakin terbatas. Di tengah kondisi itu, kebakaran hutan dan lahan turut mengancam kebun serta sumber penghidupan masyarakat adat Marind.

Di atas tanah kering dataran rendah Kampung Soa, pohon jambu mete atau jambu monyet berdiri tegak dengan buah yang melimpah. Bagi mama-mama yang tergabung dalam kelompok usaha kacang mete Jambujop, kondisi tahun ini membawa kabar baik. Biji mete yang mereka panen lebih banyak berkualitas premium dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

“Di tahun ini panasnya cukup lumayan dan buahnya juga cukup bagus. Kulit luarnya dia kelihatan bagus bahkan di dalamnya lebih bagus lagi. Jadi ada dampak positifnya,” ungkap Klara Berenun, Ketua Kelompok Usaha Jambujop, saat ditemui pada akhir September 2026.

Jambujop berarti buah jambu dalam bahasa Muyu. Kelompok ini terdiri atas 10 mama-mama di Kampung Soa yang mengolah biji mete menjadi camilan dengan beragam varian rasa. Sejak 2024, Yayasan Dahetok Milah Lestari (YDML), Gereja Protestan Indonesia di Papua, dan Yayasan EcoNusa mendampingi kelompok tersebut untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kemandirian dalam mengelola potensi sumber daya alam setempat.

Bagi kelompok Jambujop, kualitas biji menentukan harga jual. Hasil panen disortir menjadi tiga kelas. Kacang mete kelas pertama atau premium merupakan biji utuh tanpa cacat maupun pecahan, dengan harga jual mencapai Rp200.000 per kilogram. Kacang mete kelas kedua memiliki retakan atau pecahan kecil di bagian samping maupun depan. Harganya berkisar Rp150.000 hingga Rp160.000 per kilogram. Sementara itu, kacang mete kelas ketiga, yang telah pecah atau terbelah menjadi dua, dijual dengan harga Rp60.000 per kilogram.

Tahun ini, menurut Klara, kelompok Jambujop lebih banyak memperoleh kacang mete kelas premium. Kondisi tersebut turut meningkatkan potensi pendapatan para anggota kelompok. “Dua tahun lalu curah hujannya besar, jadi buahnya memang banyak tetapi di dalamnya luka (jamur). Sementara tahun kemarin itu kita gagal panen, karena dia gugur semua bunganya. Tahun ini buahnya tidak ulat, semua utuh dan bagus di dalamnya,” kata Klara sambil menunjukkan karung berisi kacang mete premium.

Jambu mete dikenal relatif toleran terhadap kondisi kering dan dapat tumbuh di wilayah dengan curah hujan terbatas. Namun, hasil serta kualitas buahnya tetap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca dan kesehatan tanaman hingga gangguan hama, penyakit, serta penanganan pascapanen. Karena itu, kualitas biji mete yang lebih baik tahun ini menjadi kabar baik bagi mama-mama Jambujop. 

Bagi masyarakat Kampung Soa, jambu mete merupakan salah satu komoditas penting yang telah lama dibudidayakan. Sejak 1997, lebih dari 200 hektare lahan disebut telah dimanfaatkan untuk penanaman jambu mete. Para petani melaporkan dapat memanen lebih dari 1.000 ton per tahun. Namun, kondisi yang menguntungkan komoditas ini tidak berarti seluruh masyarakat terbebas dari dampak El Niño.

Kebakaran hutan dan lahan mengancam kebun warga

Di balik panen mete yang lebih baik, kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman bagi masyarakat Kampung Soa. Api tidak hanya membakar vegetasi yang mengering, tetapi juga menjalar ke lahan pertanian dan mengancam tanaman milik warga, termasuk pohon jambu mete.

El Nino mengeringkan Soa Senayu, Papua Selatan. Foto: Dok Kresensia Kurniawati

Kebakaran dilaporkan terjadi pada 18 Agustus 2026 dengan luas sekitar enam hektare.  Salah satu area yang terdampak adalah lokasi pembibitan jambu mete milik kelompok Jambujop. Bibit-bibit tersebut dipersiapkan untuk program penanaman ulang dan pemupukan bersama EcoNusa dan Kopernik. Kerusakan itu menjadi tantangan tersendiri bagi kelompok yang tengah berupaya menjaga keberlanjutan usaha mereka.

Kepala Kampung Soa Senayu, Oktovianus Wikom, mengatakan kebakaran hutan dan lahan bukan kejadian baru bagi masyarakat adat Marind di kampung tersebut. Dalam beberapa tahun sebelumnya, kebakaran juga kerap terjadi ketika musim kemarau tiba. Namun, menurut Oktovianus, kebakaran pada 2026 terasa lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan semakin berkurangnya kawasan hutan dan kelembapan lingkungan.

“Kebakaran ini tahun-tahun sebelumnya juga, tapi tidak terlalu parah dibandingkan tahun 2026. Karena dulu hutan belum banyak yang dibongkar. Jadi, hutan itu masih lembap,” ujar Oktovianus. 

Kampung Soa berada di kawasan dataran rendah yang sebagian lahannya dapat menampung kelembapan pada musim hujan. Namun, ketika kemarau berlangsung panjang, vegetasi mengering dan permukaan tanah kehilangan kelembapannya. Perubahan tutupan lahan juga dapat memengaruhi kemampuan lingkungan menyimpan air serta kondisi bahan bakar alami yang tersedia bagi api. Sejak kebakaran terjadi, masyarakat berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya. Kabut asap yang muncul juga sempat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kekeringan memperparah gagal panen

Jika pohon jambu mete masih dapat menghasilkan biji berkualitas, kondisi berbeda dialami petani yang menanam jagung, nanas, dan serai wangi. Tanaman-tanaman tersebut membutuhkan ketersediaan air yang memadai agar dapat tumbuh dan menghasilkan panen dengan baik. 

Di Kampung Soa, dampak kekeringan terlihat pada permukaan tanah yang mengeras dan retak-retak, disertai lapisan debu tebal. Tanaman jagung dan nanas milik masyarakat adat serta warga setempat dilaporkan mengering hingga menyebabkan gagal panen.

“Panas yang ada ini memang mengakibatkan tanaman juga semua kering karena memang sama sekali air tidak ada untuk kita bisa siram seperti itu,” tutur Oktovianus saat berjalan di kebun jagungnya yang kini mengering.

Bersama pemerintah kampung, masyarakat telah berupaya membuat parit atau saluran di kebun mereka. Saluran tersebut dirancang untuk mengalirkan air pada musim hujan sekaligus membantu menampung air ketika musim kering tiba.

Namun, upaya tersebut belum cukup untuk mengatasi kebutuhan air dalam jangka panjang. Sejak menjabat sebagai kepala kampung pada 2022, Oktovianus berharap pemerintah daerah membangun infrastruktur penyimpanan air, seperti waduk atau bendungan, untuk membantu masyarakat menghadapi musim kemarau. 

Selain itu, masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Papua Selatan melalui Dinas Pekerjaan Umum dapat merealisasikan pembangunan sumur bor agar warga memiliki akses terhadap sumber air tanah. “Dinas PU Provinsi Papua Selatan sudah melakukan survei dan penandaan lokasi untuk pembuatan sumur bor,” kata Oktovianus. Rencana tersebut menjadi harapan bagi warga yang selama ini bergantung pada hujan dan air permukaan.

Bagi petani di Kampung Soa, ketersediaan air bukan hanya kebutuhan selama satu musim kemarau. Infrastruktur air yang memadai juga penting untuk menjaga keberlanjutan usaha pertanian ketika cuaca ekstrem kembali terjadi.

El Niño dan meningkatnya risiko kebakaran di Tanah Papua

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Niño masih akan bertahan hingga awal 2027. Proyeksi periode dan tingkat intensitasnya perlu merujuk pada pembaruan resmi BMKG yang berlaku saat tulisan ini diterbitkan.

El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat memengaruhi pola curah hujan di berbagai wilayah. Di Indonesia, fenomena ini dapat meningkatkan risiko berkurangnya curah hujan dan memanjangnya periode kering di sejumlah daerah. Besarnya dampak berbeda-beda menurut wilayah dan kondisi setempat.

Berdasarkan data pengamatan citra satelit NASA LANCE FIRMS, jumlah titik panas di Kepulauan Maluku dan Tanah Papua pada periode 29 September–5 Oktober 2026 meningkat sekitar 55,9%, dari 22.119 menjadi 34.492 titik. Titik panas dengan kategori high confidence juga dilaporkan naik sekitar 88,6%, dari 613 menjadi 1.156 titik.

Titik panas merupakan indikasi adanya anomali suhu yang dapat berkaitan dengan kebakaran. Namun, titik panas tidak selalu berarti satu kejadian kebakaran yang telah terkonfirmasi. Karena itu, data tersebut perlu dibaca bersama informasi lapangan dan data area terbakar.

Sementara itu, data Januari hingga Agustus 2026 dari platform MapBiomas Fire yang dikembangkan Auriga dan jejaring MapBiomas Indonesia mencatat area terbakar di Provinsi Papua Selatan seluas 147,868 hektare. Untuk Kabupaten Merauke, luasnya tercatat 110,951 hektare.

Menghadapi risiko tersebut, Yayasan EcoNusa berupaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan mitra lokal di Tanah Papua untuk mengantisipasi serta merespons dampak El Niño. Pendekatan yang diterapkan meliputi pemantauan, antisipasi, respons, dan pemulihan. Kegiatan menyasar sejumlah wilayah prioritas, termasuk wilayah dampingan EcoNusa di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku, daerah berisiko tinggi, kampung terpencil, serta lokasi berdasarkan laporan mitra dan informasi pemerintah daerah.

Dukungan EcoNusa bersifat saling melengkapi dengan respons pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, sehingga tidak terjadi duplikasi bantuan, wilayah intervensi, maupun penerima manfaat.

Mama Papua Soa Senayu, Papua Selatan, di depan jemuran jambu mete. Foto: Dok Kresensia Kurniawati