Minggu, 06 September 2026

            

Sosok

Marsella W. Muntia: Merawat Kesadaran Lingkungan Lintas Generasi

Berasal dari Desa Gesi, Sragen, Jawa Tengah, aktivitas Marsella diganjar penghargaan Kalpataru Yuvan 2026.

Minggu, 06 September 2026
Marsella Wahyu Muntia bersama komunitasnya.
Marsella Wahyu Muntia bersama komunitasnya.

BAGI sebagian orang, panggung penghargaan mungkin dianggap sebagai puncak dari sebuah perjalanan. Tepuk tangan bergema, nama dipanggil, dan sebuah pencapaian resmi dicatat. Namun, bagi Marsella Wahyu Muntia, panggung penghargaan mendatangkan pertanyaan mendasar tentang langkah apa yang harus dilakukan setelah tepuk tangan mereda.

Pada 11 Juni 2026, di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, mahasiswi asal Desa Gesi, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini dinobatkan sebagai penerima Penghargaan Kalpataru Yuvan 2026. Penghargaan tersebut merupakan kategori baru dalam regulasi Penghargaan Kalpataru yang ditujukan bagi generasi muda pelopor dan pemuda yang menghadirkan inovasi serta kepeloporan dalam perlindungan lingkungan hidup.

Marsella menerima penghargaan ini atas konsistensinya menginisiasi dan mengembangkan komunitas Warsa Kelana melalui kegiatan restorasi lahan, penanaman dan perawatan pohon, edukasi lingkungan bagi generasi muda, pelibatan masyarakat, serta pemanfaatan limbah organik. Namun, bagi Marsella, capaian itu bukanlah piala di ujung perjalanan, melainkan sebuah amanah untuk terus bergerak.

Guru Pertama: Alam

Keterikatan Marsella dengan alam tidak lahir dari warisan keluarga aktivis lingkungan. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional. Meskipun bukan pegiat lingkungan, orang tuanya selalu memberikan dukungan penuh terhadap setiap kegiatan positif yang ia lakukan. Dukungan sederhana itulah yang menjadi fondasi keberaniannya untuk melangkah.

Marsella lahir dan tumbuh di lingkungan pedesaan yang dikelilingi sawah, pepohonan, dan aliran sungai. Alam bukan hanya pemandangan sehari-hari, melainkan ruang belajar yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Sejak kecil, ia memahami bahwa manusia hidup karena alam menyediakan air, pangan, dan udara bersih. Kesadaran tersebut tumbuh tanpa ceramah panjang, melainkan melalui pengalaman langsung melihat musim berganti dan menyaksikan kehidupan desa yang sangat bergantung pada keseimbangan alam.

Memasuki usia 13 tahun, saat duduk di bangku SMP, ia mulai melihat kenyataan yang berbeda dari keindahan masa kecilnya. Sampah mulai berserakan di berbagai tempat dan ruang hijau perlahan berkurang. Banyak orang mengeluh, tetapi sedikit yang benar-benar bertindak. Pemandangan itu menimbulkan pertanyaan dalam dirinya bahwa jika semua orang hanya mengeluh tanpa melakukan apa pun, lingkungan akan terus rusak.

Ia pun memilih untuk tidak sekadar menjadi penonton atau ikut mengeluh. Marsella memulai tindakan dari hal yang paling sederhana: membersihkan lingkungan sekitar dan menanam pohon secara mandiri. Saat itu tidak ada kamera, tidak ada media sosial, dan tidak ada penghargaan. Langkah tersebut murni dijalankan atas dasar keyakinan bahwa satu tindakan nyata jauh lebih bermakna daripada seribu keluhan.

Marsella Wahyu Muntia, penerima Kalpataru Yuvan 2026

Komunitas Warsa Kelana

Perjalanan kepedulian Marsella menemukan titik balik dan momentum penting pada tahun 2023. Ia mulai menanam berbagai jenis pohon pangan, tanaman buah, dan tanaman keras sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Namun, jalan yang ditempuhnya tidak selalu mulus. Sebagian orang menganggap apa yang dilakukannya hanya semangat sesaat. Ada yang meremehkan, dan ada pula yang menilai bahwa usaha seorang remaja tidak akan membawa perubahan berarti. Marsella memilih untuk tidak membalas keraguan tersebut dengan perdebatan, melainkan menjawabnya dengan menanam pohon berikutnya. Ia memegang teguh prinsip bahwa satu pohon yang ditanam hari ini jauh lebih berarti daripada seribu ajakan tanpa tindakan.

Marsella menyadari bahwa menjaga lingkungan bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan seorang diri. Dari kesadaran itulah lahir komunitas Warsa Kelana pada tahun 2023. Komunitas ini dirancang bukan sekadar sebagai penyelenggara aksi tanam pohon atau bersih-bersih lingkungan, melainkan dibangun sebagai ruang belajar bagi anak muda agar memiliki kesadaran ekologis sebelum turun ke lapangan. Marsella meyakini bahwa perubahan yang lahir dari kesadaran akan bertahan jauh lebih lama daripada perubahan yang sekadar mengikuti tren.

Dari Restorasi hingga SAVIO

Perjuangan Warsa Kelana diuji saat melakukan kegiatan restorasi di daerah Poleng, Kabupaten Sragen. Lahan seluas sekitar satu hektare tersebut mulanya merupakan lahan yang kurang subur, bervegetasi jarang, dan kondisinya merekah serta kering berwarna kecokelatan saat musim kemarau tiba.

Sejak tahun 2023, Marsella bersama Warsa Kelana merestorasi lahan tersebut dengan menanam sekitar 300 bibit pohon. Jenis pohon yang dipilih mencakup tanaman produktif dan pangan seperti alpukat, nangka, dan kelapa. Pemilihan jenis tanaman ini bertujuan agar lahan tidak hanya menjadi hijau, tetapi juga dapat memberikan manfaat pangan dan ekonomi sehingga masyarakat memiliki alasan untuk terus merawatnya.

Namun, menanam bibit ternyata merupakan bagian yang paling mudah, sedangkan tantangan sebenarnya datang setelah penanaman dilakukan. Kondisi tanah yang keras, keterbatasan sumber air, serta cuaca ekstrem pada musim kemarau membuat sekitar 100 hingga 120 bibit pohon tidak mampu bertahan hidup.

Bagi Marsella dan kawan-kawannya, kematian bibit tersebut tidak dipandang sebagai kegagalan yang menghentikan langkah. Pohon yang berhasil bertahan justru menjadi alasan untuk melanjutkan perjuangan. Bibit yang mati diganti, tanah kembali digarap, dan pohon yang tersisa terus dirawat. Melalui proses yang melibatkan sekitar 100 relawan selama hampir tiga tahun, sebanyak 180 hingga 200 pohon berhasil bertahan dan tumbuh di lahan tersebut. Marsella menegaskan bahwa menanam pohon tidak boleh berhenti pada seremoni penanaman, melainkan harus siap merawat, mengganti yang mati, dan terus mencoba sampai berhasil.

Selain restorasi lahan, persoalan lingkungan lain ditemukan tidak jauh dari lokasi penanaman, tepatnya di RT 15 Desa Gesi. Di wilayah tersebut, banyak warga yang memelihara sapi, sehingga menghasilkan limbah kotoran ternak yang melimpah. Marsella dan Warsa Kelana melihat limbah tersebut sebagai sumber daya. Bersama warga, mereka mengolah kotoran sapi tersebut melalui proses pengeringan dan fermentasi dengan bahan pendukung hingga menjadi pupuk organik yang diberi nama SAVIO. Pupuk ini digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman di lahan restorasi maupun kebutuhan warga. 

Dari Media Sosial ke Media Tanam 

Bagi Marsella, tantangan lingkungan bukan hanya berkaitan dengan lahan kritis, tetapi juga bagaimana membuat generasi muda tidak sekadar menjadi penonton di balik layar media sosial. Walaupun informasi tentang kerusakan lingkungan mudah diakses lewat media sosial, pengetahuan tersebut tidak otomatis berubah menjadi tindakan nyata.

Melalui Warsa Kelana, anak-anak muda diajak untuk turun langsung ke lapangan: menggali tanah, membawa bibit, menanam, menyiram, dan merawat. Mereka menyaksikan sendiri bahwa tidak semua pohon yang ditanam akan bertahan. Dari pengalaman berinteraksi dengan tanah yang keras dan cuaca panas itulah kepedulian mulai tumbuh.

Marsella menjaga semangat para relawan dengan membangun suasana kekeluargaan tanpa jarak antara relawan lama dan baru. Salah satu cara terbaik untuk merawat semangat tersebut adalah mengajak relawan dan anak-anak kembali ke lokasi untuk melihat pohon yang pernah mereka tanam. Ketika seorang anak menunjuk tanaman dan berkata, "Ini pohon yang dulu saya tanam," di situlah hubungan personal dan emosional dengan alam mulai terbentuk.

Harapan Masa Depan Gerakan

Saat ini, Marsella adalah mahasiswi semester pertama di Fakultas Vokasi Manajemen Universitas Sebelas Maret (UNS). Jarak dari rumah kosnya menuju ruang kuliah hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit berjalan kaki. Di sela rutinitas perkuliahan dan kegemarannya membaca buku, ia  konsisten menjalankan tugas-tugas lingkungan.

Setelah menerima Kalpataru Yuvan 2026, fokus utama Marsella adalah memperluas kegiatan edukasi lingkungan di sekolah-sekolah, meningkatkan kegiatan restorasi, serta mendorong pemerintah agar memberikan ruang keterlibatan yang nyata bagi komunitas muda. Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan berupa materiil, tetapi memberi kesempatan bagi anak muda untuk merencanakan, menjalankan, dan menentukan arah perubahan.

Hal yang paling krusial bagi Marsella adalah proses kaderisasi. Ia tidak ingin Warsa Kelana bergantung pada satu nama atau satu orang saja. Marsella ingin membangun kesadaran bersama antargenerasi agar jika satu generasi menanam pohon, generasi berikutnya tidak hanya menikmati hasilnya, tetapi juga merawat dan menanam lebih banyak.