Sabtu, 05 September 2026

            

Berita

Padang Lamun Beri Kehidupan 18 Juta Orang Miskin di Indo-Pasifik

Banyak masyarakat pesisir termiskin di dunia bergantung pada padang lamun setiap hari untuk pangan dan penghasilan.

Sabtu, 05 September 2026
Ikan di padang lamun (Enhalus acoroides) Sanur, Bali, Indonesia. Sumber: Ben Jones, Project Seagrass
Ikan di padang lamun (Enhalus acoroides) Sanur, Bali, Indonesia. Sumber: Ben Jones, Project Seagrass

BETAHITA.ID - Ekosistem padang lamun berfungsi sebagai jaring pengaman yang sangat penting bagi jutaan penduduk pesisir yang hidup dalam kemiskinan ekstrem di seluruh kawasan Indo-Pasifik, menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability. Banyak masyarakat pesisir termiskin di dunia bergantung pada padang lamun setiap hari untuk pangan dan penghasilan.

Dipimpin oleh para ilmuwan dari Project Seagrass, sebuah organisasi konservasi lamun, penelitian ini menemukan bahwa setidaknya 18 juta orang yang hidup dalam kemiskinan di seluruh kawasan Indo-Pasifik menangkap ikan di padang lamun, termasuk 6,5 juta orang yang sepenuhnya bergantung pada habitat tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memperoleh penghasilan dari kegiatan perikanan.

Rumput laut adalah tumbuhan berbunga yang membentuk padang luas di bawah air di sepanjang garis pantai dangkal. Meskipun kurang dikenal dibandingkan terumbu karang atau hutan tropis, padang rumput laut ini mendukung perikanan yang mudah diakses—baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan peralatan terbatas—sehingga sangat penting bagi rumah tangga yang memiliki sedikit sumber makanan atau penghasilan alternatif. Perempuan dan kelompok marjinal lainnya sering kali memainkan peran sentral dalam perikanan ini.

Penelitian ini mengidentifikasi bahwa, di seluruh kawasan Indo-Pasifik, rumah tangga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem jauh lebih mungkin bergantung sepenuhnya pada padang lamun untuk kegiatan penangkapan ikan mereka, dengan rumah tangga yang bergantung pada lamun memperoleh penghasilan 23% lebih rendah dibandingkan nelayan lainnya. 

Data ini menyoroti keberadaan jutaan orang yang hidup dalam kemiskinan, di mana mata pencaharian mereka terkait erat dengan habitat yang hingga kini masih kurang mendapat perhatian dalam agenda-agenda kemiskinan, pembangunan, dan konservasi.

Dengan menghubungkan data kemiskinan tingkat rumah tangga dengan perkiraan populasi yang tinggal di dekat padang lamun, penelitian ini mengungkap keberadaan populasi yang sebagian besar tak terlihat, yang mata pencahariannya sangat terkait erat dengan salah satu habitat laut yang paling terabaikan di dunia. 

Temuan ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada perikanan lamun dapat memperkuat jebakan kemiskinan pesisir, di mana rumah tangga dengan sedikit alternatif tetap bergantung pada mata pencaharian berpendapatan rendah yang terkait dengan ekosistem lamun yang rentan.

“Studi ini mengubah cara dunia memandang rumput laut. Rumput laut bukan sekadar padang rumput bagi ikan, penyu, atau penyimpanan karbon," kata Dr. Benjamin Jones, kepala petugas konservasi di Project Seagrass dan salah satu peneliti utama dalam studi ini, pada 3 September 2026, dikutip dari Phys.

Benjamin Jones menuturkan bahwa rumput laut adalah jaring pengaman tersembunyi bagi jutaan orang. Ketika rumput laut menghilang, bukan hanya alam yang hilang. Pangan, penghasilan, dan keamanan pun ikut lenyap, seringkali bagi orang-orang yang paling tidak bertanggung jawab atas kemundurannya dan paling tidak mampu beradaptasi. 

"Hilangnya padang lamun merupakan ancaman langsung terhadap ketahanan pangan, mata pencaharian, dan keadilan di sepanjang beberapa wilayah pesisir yang paling rentan terhadap perubahan iklim di dunia," katanya.

Penelitian ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan ekosistem lamun ke dalam strategi pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan untuk memutus siklus ini. Kegagalan dalam melakukannya berisiko memperdalam kemiskinan pesisir dan memperburuk kerawanan pangan, sehingga menghalangi kemajuan menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 1 dan 2 (mengakhiri kemiskinan dan kelaparan). 

Hanya dengan mengakui peran ekosistem lamun dalam kebijakan dan intervensi bantuan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan, kita dapat menghindari memperparah ketidaksetaraan dan sebaliknya mendukung masa depan pesisir yang lebih tangguh dan adil.

Dr. Leanne Cullen-Unsworth, CEO Project Seagrass, mengatakan lebih dari 20 tahun yang lalu di Indonesia, masyarakat pesisir dan rekan-rekan lokal membantu dirinya memahami sesuatu yang saat itu masih sangat kurang dibahas dalam perdebatan konservasi global. Beberapa masyarakat pesisir termiskin di dunia bergantung pada padang lamun setiap hari untuk pangan dan penghasilan. 

Sejak saat itu, banyak rekan, mitra, dan masyarakat telah berkontribusi dalam membangun bukti di balik hubungan tersebut. Studi ini memungkinkan kita untuk melihat skalanya untuk pertama kalinya. 

"Di balik angka-angka ini terdapat jutaan orang nyata yang bagi mereka, hilangnya padang lamun bukanlah masalah lingkungan yang abstrak; hal itu dapat berarti hilangnya pangan, penghasilan, dan keamanan. Hal ini memiliki implikasi mendalam terhadap cara dunia memandang konservasi padang lamun," katanya.

Ia mengatakan investasi dalam konservasi lamun dan perikanan berkelanjutan dapat mendukung masa depan pesisir yang lebih aman dan bermartabat, serta mengubah padang lamun dari sumber daya pilihan terakhir menjadi landasan ketahanan di seluruh kawasan.