Jumat, 28 Agustus 2026

            

Opini

Ketika Semua Orang Harus Menjadi Superman

Negara punya satelit, tentara, hingga kementerian. Rakyat punya gotong royong. Ketika hutan terbakar, siapa yang seharusnya paling diandalkan?

Jumat, 28 Agustus 2026
Gotong royong dan negara (Ilustrasi: Copilot AI)
Gotong royong dan negara (Ilustrasi: Copilot AI)

INDONESIA tampaknya sudah menemukan cara baru menghadapi kebakaran hutan dan lahan: semua orang harus menjadi superhero. Presiden menjadi Forest Hero, pemerintah mengerahkan segala kekuatan yang dimilikinya, sementara masyarakat diminta menjadi tangguh. Masyarakat harus mengenali risiko, mendeteksi api, melapor, bekerja sama, dan bila perlu ikut memadamkan api.

Dengan demikian, sebenarnya kita tak kekurangan pahlawan. Yang mungkin kurang pada kita adalah sesuatu yang lebih sederhana: sistem yang membuat rakyat tak perlu menjadi pahlawan setiap kali hutan terbakar.

Perlengkapan superhero kita sebetulnya cukup lengkap. Ada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk membaca cuaca, satelit untuk memantau titik panas, kementerian untuk mengoordinasikan penanganan, aparat untuk dikerahkan, helikopter untuk memadamkan api, dan teknologi modifikasi cuaca untuk mendatangkan hujan manakala diperlukan.

Belum lagi kapasitas yang ada pada masyarakat. Mereka punya pengetahuan lokal, kemampuan mengenali wilayah rawan, keberanian menjadi relawan, dan–yang paling penting–gotong royong.

Kalau kita menggabungkan semua kekuatan itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mestinya tak punya banyak kesempatan. Masalahnya adalah hutan rupanya belum membaca rencana kita.

Hingga Juli 2026, luas karhutla tercatat sekitar 200 ribu hektare, sebagian besar terjadi di kawasan hutan. Dan ketika ancaman El Niño kembali menguat, yang diperkirakan berlangsung intensif pada September-November, kita pun bersiap menghadapi musim api berikutnya.

Tetapi tak perlu khawatir. Superman telah datang.

Atau setidaknya begitulah kesan yang muncul dari opini Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Kompas, 26 Agustus 2026: ribuan personel dikerahkan, operasi modifikasi cuaca dilakukan, satelit memantau, dan masyarakat diminta meningkatkan ketahanan.

Semua terdengar memukau. Kecuali kalau kita mengajukan pertanyaan yang sedikit kurang heroik: mengapa api bisa timbul di sana sejak awal?

Di sinilah gagasan tentang fire fighting dan fire prevention menjadi menarik. Kita semua tahu bahwa pencegahan lebih baik ketimbang pemadaman. Tapi pencegahan memang kurang heroik. Tidak ada helikopter yang terbang dan melakukan aksi...ya, yang sinematik. Tidak ada pasukan berbaris. Tidak ada operasi kolosal. Bahkan tak ada foto dramatis seorang pejabat berdiri berlatar belakang hutan–atau yang tampak sebagai hutan–yang bisa diselamatkan.

Hutan yang tak terbakar memang tidak memberikan tontonan.

Maka, ketika api sudah menyala, kita memiliki kesempatan untuk menunjukkan betapa hebatnya negara bekerja. Masyarakat pun mendapat kesempatan untuk memamerkan betapa tangguh mereka menghadapi bahaya.

Tetapi justru di situ istilah “ketahanan masyarakat” perlu lebih dicermati.

Ya, masyarakat memang harus tangguh. Mereka perlu tahu risiko, mampu mengorganisasikan diri, dan dapat bertindak cepat ketika bencana terjadi. Gotong royong adalah kekuatan sosial yang luar biasa.

Yang sering luput ketika kita terlalu berfokus pada ketangguhan adalah perbedaan antara masyarakat yang berdaya dan masyarakat yang dipaksa tangguh karena sistem gagal memberi pelindungan. Dalam sistem demikian ini, inkompetensi pemerintah perlahan menggeser tanggung jawab pelayanan dan pelindungan kepada masyarakat, yang justru mestinya dilayani dan dilindungi. Gotong royong hanya menjadi dalih untuk menutupi lemahnya kapasitas negara.

Kalau setiap tahun masyarakat harus siap menghadapi kebakaran, mungkin kita perlu bertafakur sejenak sebelum melimpahkan pujian untuk ketangguhan mereka. Sebab pujian itu bisa menjadi cara yang justru menghindarkan pertanyaan tentang mengapa mereka harus terus-menerus tangguh.

Negara memiliki kewenangan, anggaran, aparat, teknologi, data, dan perangkat hukum. Masyarakat memiliki gotong royong. Akan menjadi ganjil kalau pembagian kerjanya menjadi begini: negara menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk menangani bencana, sementara masyarakat menyediakan sesuatu yang tak kalah penting, yakni kesabaran untuk terus hidup bersama bencana. Gotong royong seharusnya menjadi modal sosial, bukan subsidi bagi kelemahan negara.

Masyarakat tentu perlu tahu apa yang harus dilakukan ketika hutan terbakar. Tapi, dalam negara yang berfungsi baik, mereka seharusnya jauh lebih jarang menggunakan kesempatan untuk mempraktikkannya.

Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan karhutla seharusnya bukan hanya seberapa cepat api dipadamkan, berapa banyak personel dikerahkan, atau berapa banyak titik panas yang dapat ditangani. Ukuran yang lebih penting adalah apakah tahun depan masyarakat masih harus melakukan hal yang sama.

Pada titik itulah Superman seharusnya bekerja. Bukan datang ketika hutan sudah terbakar, melainkan memastikan api tak pernah mendapat kesempatan untuk menjadi bencana. Kenapa? Sebab kita sebenarnya tidak membutuhkan lebih banyak superhero.

Yang kita butuhkan adalah negara yang melakukan pekerjaan biasa dengan sangat baik sehingga rakyat tak perlu menjadi pahlawan setiap kali hutan terbakar.