Berita
60% Karhutla di Kalimantan Terjadi di Rumah Orangutan
Jumlah titik api di habitat orangutan Kalimantan meningkat ekstrem pada bulan Agustus 2026 dengan total 17.375 titik api.
Minggu, 06 September 2026

BETAHITA.ID - Sebanyak 17.865 titik panas (78,5 persen) di Kalimantan berada di habitat orangutan. Geopix menekankan pendekatan konservasi orangutan kalimantan dan mendesak agar ada evaluasi setelah karhutla.
Laporan pemantauan Geopix terhadap titik panas di Kalimantan dengan data Kementerian Kehutanan (https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/) sepanjang 1 Juni - 28 Agustus 2026 pada semua tingkat kepercayaan menunjukkan karhutla telah menghanguskan habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Mereka melakukan tumpang susun titik panas dengan data habitat Orangutan Kalimantan.
Pemantauan ini meliputi habitat tiga subspesies, yakni Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio.
Jumlah titik api pada habitat orangutan Kalimantan meningkat ekstrem pada bulan Agustus 2026 dengan total 17.375 titik api. Sebaran titik api lebih masif dan padat di bulan Agustus 2026 dibandingkan dengan kondisi pada bulan Juni dan Juli 2026. Sebagian besar kebakaran tersebut terjadi tepat di dalam kawasan habitat orangutan.
Analisis kumulatif pada tiga bulan pemantauan menunjukkan 22.744 titik api terdeteksi di seluruh Kalimantan, sebanyak 17.865 titik (78,5 persen) berada di habitat orangutan. Areal terbakar selama periode pemantauan mencapai 25.812.699 ha di seluruh Kalimantan. Sekitar 60,2 persen berada di habitat orangutan kalimantan.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyebutkan temuan ini menunjukkan karhutla memiliki keterpaparan yang sangat besar terhadap habitat orangutan Kalimantan.
Lebih lanjut analisis matriks kerentanan orangutan terhadap karhutla dengan variabel interaksi antara jumlah populasi dan tingkat hotspot, terungkap bahwa setiap wilayah memerlukan prioritas konservasi berbeda.
Kuadran II seperti Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit menjadi wilayah paling kritis karena populasi kecil menghadapi titik api yang tinggi sehingga membutuhkan respons darurat karhutla. Kuadran III seperti Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau memiliki ancaman relatif rendah sehingga difokuskan pada pemantauan dan restorasi.
Kuadran IV seperti Rungan River, Katingan, dan Gunung Palung merupakan kantong populasi penting yang harus diprioritaskan untuk pencegahan kebakaran dan perlindungan habitat. Sementara Kuadran I saat ini belum terisi, tetapi menjadi skenario terburuk jika hotspot meningkat ekstrem pada wilayah dengan populasi orangutan yang tersisa.
“Yang paling penting saat ini adalah memadamkan api dan menyelamatkan habitat orangutan yang tersisa sebanyak mungkin, sekaligus mengurangi dampak langsungnya terhadap manusia maupun orangutan. Namun segera setelah krisis ini berakhir, ada pekerjaan rumah yang puluhan tahun belum selesai, yaitu memutus mata rantai karhutla dengan penegakan hukum yang tegas tanpa kompromi terhadap siapapun, korporasi manapun yang terlibat maupun lalai dalam mencegah karhutla,” ucap Annisa.
Geopix mendesak pemerintah melakukan survei ulang menyeluruh terhadap habitat dan populasi orangutan Kalimantan pasca kebakaran. Survei ini meliputi kerusakan aktual, kondisi populasi, ketersediaan pakan dan bahan sarang, serta perubahan-perubahan signifikan lainnya yang berpengaruh terhadap habitat orangutan Kalimantan.
Hasil survei ini harus menjadi dasar “reset” Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) orangutan Kalimantan, karena data dasar konservasi sebelumnya berpotensi menjadi tidak relevan lagi.
“Kami juga mendesak Pemerintah agar menyusun Rencana Aksi Darurat Penyelamatan Populasi dan Habitat Orangutan Kalimantan yang mencakup penyelamatan dan pemantauan populasi, perlindungan habitat dan koridor, pencegahan kebakaran berulang, penegakan hukum, serta pemulihan ekosistem,” ucap Annisa.
Sebelumnya laporan Auriga Nusantara melalui platform Map Biomas Indonesia Fire menyebutkan pada rentang Januari-Juni 2026 karhutla telah membakar empat habitat ikonik seluas 11.442 ha secara nasional. Spesies ikonik itu meliputi harimau harimau, badak, gajah, dan orangutan.
Mereka juga mencatat habitat orangutan Kalimantan yang terbakar pada rentang sama mencapai 2.594 ha.
Ironisnya pada Minggu 30 Agustus 2026 lalu, satu individu orangutan Kalimantan mati setelah ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.




