Senin, 19 Oktober 2026

            

Sorot

Berapa Luas Api Membakar Taman Nasional Tanjung Puting?

Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, disinyalir mencapai ratusan ribu hektare. Diduga akibat pengabaian api sejak Maret.

Senin, 19 Oktober 2026
Beberapa relawan pemadaman kebakaran berlari memasuki areal yang terbakar di Taman Nasional Tanjung Puting, Oktober 2015 lalu. Foto: Raden Ariyo Wicaksono/Betahita,id
Beberapa relawan pemadaman kebakaran berlari memasuki areal yang terbakar di Taman Nasional Tanjung Puting, Oktober 2015 lalu. Foto: Raden Ariyo Wicaksono/Betahita,id

BETAHITA.ID - Duduk melingkar bersama relawan pemadam api, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, berceramah soal kebakaran gambut di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. “Teori besarnya, pencegahan pasti lebih baik daripada mengobati,” kata Antoni dalam sebuah video yang dipublikasi di akun media sosial Kementerian Kehutanan pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu lantas menerangkan bahwa para ahli sudah melakukan pemetaan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). Setelahnya, dia bicara mengenai rancangan membuat sekat kanal dalam skala besar. Eksekusinya bakal berbasis jumlah yang sudah dipetakan oleh kementerian.

Sekat yang dimaksud Antoni merujuk pada bangunan penahan aliran air yang dipasang di saluran drainase. Metode ini diperlukan ketika gambut sebelumnya dibangun kanal untuk pengeringan. Fungsi sekat untuk menjaga gambut agar tetap lembab sekaligus metode pengendalian air.

Indikator kelembaban tersebut dapat dipantau melalui pemantauan tinggi muka air tanah (TMAT). Kata Antoni, ambang batas maksimal kekeringan yang ditoleransi adalah minus 40 centimeter dari permukaan tanah. Bila air menyusut melebihi kedalaman itu, pembasahan harus dilakukan.

Kekeringan ekstrem ini yang dia temukan di Taman Nasional Tanjung Puting. Bahkan bukan sekadar kekeringan, melainkan api yang sedang membara di bawah permukaan tanah. “Setengah jam saya di sana, terdengar pohon jatuh, karena bawahnya sudah keropos terbakar.”

Menteri Kehutanan Raja Juli dalam pelantikan pejabat di lingkungan Kementerian Kehutanan. Foto: Kementerian Kehutanan.

Berbasis peta zonasi, Antoni menunjukkan strategi pemadaman yang harus dilakukan oleh para relawan. Doktor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional di University of Queensland, Australia, itu juga mengerahkan tim pengebor sumur, penginderaan berbasis drone thermal, dan peralatan pemadaman. Skenario water bombing dan operasi modifikasi cuaca (OMC) tak ketinggalan.

Persoalannya, kebakaran telah meluas, masuk ke dalam zona inti taman nasional. Sehingga, kata dia, dibutuhkan pembukaan akses jalan sepanjang kira-kira 1,5 kilometer untuk menjangkau titik api. Salah satunya berada di Resort Pesalat—satu dari enam wilayah yang ada di Taman Nasional seluas 415.040 hektare tersebut.

Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting menjadi sorotan pemerintah sesudah ramai diperbincangkan di media sosial. Musababnya adalah gerakan protes dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat yang meminta bantuan water bombing setelah mereka kewalahan menangani api.

Di luar itu, muncul video yang memperlihatkan api dari kedua sisi yang saling bertemu membakar hutan. Tidak sekadar kebakaran, bangkai orangutan juga ditemukan mengambang di perairan Sungai Kumai—berdekatan dengan area taman nasional. Kera besar itu diduga mati akibat peristiwa kebakaran hutan.

Orangutan betina dan bayinya di Taman Nasional Tanjung Puting. Studi baru menyebut asap karhutla menyebabkan perubahan perilaku dan suara orangutan. Foto: Raden/Betahita.

Seorang pegawai di Taman Nasional Tanjung Puting mengaku cemas dengan kondisi orangutan liar yang hidup di habitat Resort Tanjung Harapan, khususnya di Sungai Buluh. “Karena di sana apinya yang paling luas, mencapai 65 ribu hektare yang tercatat hingga 13 Oktober 2026,” kata pegawai yang enggan disebutkan identitasnya itu.

Tidak jauh dari sana, kebakaran juga sedang melanda Sungai Besar selama empat bulan tanpa jeda. Perkiraannya, tragedi ini telah meluas hingga mencapai ratusan ribu hektare. Indikasinya dari area Pesalat yang saat ini sedang terbakar. “Di lokasi yang dikunjungi menteri kehutanan itu adalah titik yang sebelumnya tidak pernah terbakar.”

Menurut dia, kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting meluas akibat tidak adanya penanganan dari pemerintah. Selama berbulan-bulan, pemdaman hanya dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil, komunitas, dan masyarakat desa terdekat. Sedangkan Balai Taman Nasional Tanjung Puting yang mestinya melakukan pembakaran justru berdiam diri.

Bantuan baru muncul ketika Raja Juli Antoni berkunjung ke taman nasional pada Kamis, 15 Oktoberr 2026. Masih menurut sumber yang sama, Antoni memang mengerahkan pasukan TNI. “Tapi mereka hanya nongkrong di atas kapal di sekitar sungai dan tidak masuk ke dalam hutan,” ucap dia.

Dia memperkirakan kebakaran bakal semakin meluas. Perhitungan sementara yang dia lakukan, lebih dari seratus ribu hektare hutan di Taman Nasional Tanjung Puting telah terbakar.

Betahita.id berupaya meminta penjelasan dari Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting, Yohan Hendratmoko, melalui sambungan telepon pada Jumat lalu. Namun dia hanya terlihat membaca daftar pertanyaan yang dikirim ke nomor WhatsApp-nya. Pada Selasa, 15 September lalu, Yohan sempat menyatakan pihaknya sudah menerjunkan sekitar 70 personel pemadam ketika api melahap 3.105 hektare area taman nasional.

Dugaan Pengabaian Api Sejak Dini

Asap yang menyelubungi sebagian besar cagar biosfer United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) tersebut, tidak muncul tiba-tiba. Sejak awal Maret, titik api sudah terlacak membakar sejumlah lokasi. “Mulanya api hanya membakar 27,58 hektare hutan pada Maret lalu,” kata peneliti data dan spasial Yayasan Auriga Nusantara, Jumrio Nakul, pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Perlahan kobaran api telah meluas di empat titik dan melahap sekitar 25,61 hektare pada April 2026. Saat itu adalah masa transisi berakhirnya masa La Nina, menjadi El Nino. Pada bulan-bulan berikutnya, bara muncul silih-berganti.

Pertanda ledakan api itu dimulai pada Juli, saat 21 titik api melahap sekitar 137,5 hektare hutan. Pada Agustus, api sudah membesar menjadi 412,7 hektare. Adapun total luasan kebakaran di sepanjang Januari-Agustus mencapai 603,7 hektare. “Waktu itu masih kecil sebaran apinya, tapi dilihat dari penginderaan jauh, tidak ada tanda-tanda padam.”

Kebakaran hutan dan lahan pada 2026 di Indonesia. Sumber: Greenpeace Indonesia

Senada dengan Jumrio, Senior Wildlife Campaginer Geopix, Annisa Rahmawati, ikut menemukan pola perluasan titik panas. Pada Agustus, titik panas masih sekitar 282 hotspot. “Lalu tiba-tiba meningkat menjadi 10.121 titik panas pada September,” kata Annisa dalam keterangannya Jumat lalu.

Adapun pada periode 1-12 Oktober, organisasi nirlaba bidang perlindungan satwa liar, itu mendapati 8.176 hotspot. Angka ini dimungkinkan meningkat, meningat Oktober belum berakhir. Secara total, luas titik panas di Taman Nasional Tanjung Puting telah mencapai 19.189 hotspot.

“Sebaran titik panas cenderung terkonsentrasi pada wilayah tertentu,” ucap Annisa. Wilayah yang dimaksud Annisa berada di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) III Resort Sungai Cabang, Teluk Pulai, dan SPTN II Sungai Perlu. Sebagian dari wilayah itu merupakan kawasan ekosistem gambut tua yang mengalami kekeringan.

Dugaan Annisa, kekeringan gambut terjadi lantaran taman nasional telah dikepung oleh konsesi perusahaan. Dari sisi timur hingga utara, Taman Nasional yang menjadi rumah bagi ribuan individu itu, bermunculan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang membangun kanal-kanal di gambut. Akibatnya, area gambut di jantung taman nasional justru kehilangan fungsi hidrologisnya, mengering, dan berubah menjadi bahan bakar api.

Kepala Biro Hubungan Massyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, memahami kekhawatiran masyarakat atas kondisi kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting. Kata dia, Balai Taman Nasional Tanjung Puting sudah mengerahkan 117 personel, ditambah 35 personal Manggala Agni, dan 21 polisi hutan.

“Kami menyadari keberadaan personel perlu ditunjang akses, peralatan, sumber air, dan logistik yang memadai agar penanganan semakin efektif,” kata Ristianto ketika dikonfirmasi Betahita.id pada Jumat lalu. Karena alasan itu, pemerintah sedang membangun 30-40 sumur bor di dalam hutan. Tujuannya agar mempermudah petugas menjangkau akses air.

Kata Ristianto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bekerja di taman nasional hingga malam untuk mempersiapkan dukungan air tersebut. Dengan demikian, menurut dia, terdapat tindak lanjut operasional yang konkret dari kehadiran menteri. “Pada saat yang sama, kami memahami bahwa masyarakat mengharapkan hasil berupa terkendalinya api, sehingga efektivitas setiap langkah tetap harus dievaluasi.”