Minggu, 08 November 2026

            

Berita

Transportasi Darat Sumbang 87% Emisi Transportasi Indonesia 

Dekarbonisasi transportasi tidak cukup hanya dengan mengganti kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik.

Minggu, 08 November 2026
Kendaraan bermotor menjadi penyebab utama polusi udara. (Teras/Tempo/Hilman Fathurrahman W)
Kendaraan bermotor menjadi penyebab utama polusi udara. (Teras/Tempo/Hilman Fathurrahman W)

BETAHITA.ID - Sektor transportasi menjadi penyumbang emisi tertinggi kedua di Indonesia, setelah energi dan pembangkit listrik. Di antaranya transportasi darat yang menghasilkan 8% emisi gas rumah kaca nasional. 

Berdasarkan inventarisasi dalam Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi yang dipimpin oleh WRI Indonesia, sektor transportasi Indonesia menghasilkan sekitar 157,5 juta ton karbon dioksida pada 2024. Sebanyak 87% atau sekitar 137,5 juta ton CO2, berasal dari transportasi darat. Sementara itu, transportasi laut menyumbang sekitar 8%, udara 4%, dan perkeretaapian 1%. 

Dimas Nu’man Fadhil, Urban Mobility Manager WRI Indonesia mengatakan, tingginya emisi dari transportasi darat dipengaruhi jumlah kendaraan maupun intensitas penggunaan energi. Pada 2024, sekitar 6,3 juta truk menghasilkan 43,6 juta ton CO2, lebih tinggi dibandingkan 139,5 juta sepeda motor yang menghasilkan sekitar 40,6 juta ton CO2. 

Di sisi lain, transportasi di Indonesia juga masih bergantung pada bahan bakar minyak. Berdasarkan Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2024, sekitar 34% dari penjualan BBM nasional dipenuhi melalui impor, sementara sektor transportasi menggunakan 36% dari kebutuhan BBM nasional. 

Menurut Dimas, temuan ini menunjukkan perlunya strategi mitigasi yang berbeda, mulai dari penguatan angkutan umum untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi hingga peningkatan efisiensi energi dan operasional angkutan barang. 

“Dekarbonisasi transportasi tidak cukup hanya dengan mengganti kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Kita juga perlu mengubah cara masyarakat bepergian dan barang didistribusikan. Melalui peta jalan ini, kita dapat mengidentifikasi intervensi yang paling berdampak terhadap pengurangan emisi sekaligus kebutuhan BBM nasional,” kata Dimas, Kamis, 5 November 2026. 

Selain menjadi sumber emisi, sektor transportasi juga menjadi salah satu sumber polusi udara, terutama partikulat halus (PM2.5) yang dihasilkan dari emisi kendaraan bermotor. Data Global Burden of Disease 2023 mencatat, paparan PM2.5 di udara luar ruangan dari berbagai sumber diperkirakan berkaitan dengan 147.126 kematian di Indonesia pada 2023. 

“Kondisi ini menegaskan pentingnya dekarbonisasi transportasi untuk mengurangi emisi, memperbaiki kualitas udara, dan melindungi kesehatan masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional,” kata Dimas. 

Menurut peta jalan tersebut, yang telah diserahkan kepada Kementerian Perhubungan, beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain peralihan penumpang ke angkutan umum, peningkatan angkutan barang berbasis kereta api, modernisasi kapal dan pesawat, efisiensi operasional transportasi dan  elektrifikasi kendaraan. Peta jalan juga memperkirakan potensi penghematan BBM fosil sebesar 5,6 juta kiloliter pada 2030. 

Aksi mitigasi ini diperkirakan dapat mengurangi emisi hingga 6,41 juta ton CO₂ pada 2030. 

Sementara itu, dalam jangka panjang, kombinasi elektrifikasi, peningkatan efisiensi energi, pengembangan kendaraan hidrogen, dan penguatan angkutan massal diproyeksikan dapat menurunkan emisi hingga 87% dibandingkan skenario tanpa intervensi, sekaligus mengurangi penggunaan BBM fosil hingga 31 juta kiloliter pada 2060. 

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Arif Toha mengatakan, pelaksanaan peta jalan membutuhkan koordinasi antarsubsektor serta pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan. 

“Dokumen peta jalan dekarbonisasi transportasi ini memperkuat kebijakan dan pelaksanaan aksi mitigasi di lingkungan Kementerian Perhubungan serta memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca nasional,” kata Arif.