Sabtu, 07 November 2026

            

Berita

Alih Fungsi Hutan Jadi Ancaman Besar bagi Siamang

Padahal siamang merupakan petani hutan yang baik, yang membantu penyebaran biji-bijian tumbuhan.

Sabtu, 07 November 2026
Eksistensi siamang semakin terancam akibat alih fungsi lahan. Sumber: Doreen/iNaturalist.
Eksistensi siamang semakin terancam akibat alih fungsi lahan. Sumber: Doreen/iNaturalist.

BETAHITA.ID - Perburuan dan hilangnya habitat karena alih fungsi lahan, membuat siamang (Symphalangus syndactylus) kini semakin terancam. Padahal primata bersuara khas dengan daya jangkau yang luas tersebut sejak lama menyandang status dilindungi, menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List mengklasifikasikan primata endemik Sumatera ini dalam daftar spesies terancam punah (endangered), dan memperkirakan habitat siamang telah berkurang hingga 50 persen dalam beberapa dekade terakhir, dengan populasi tersisa sekitar 22.390 individu. 

Habitat siamang membentang di sepanjang pegunungan Bukit Barisan, termasuk Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, hingga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Meski begitu, akademisi melihat krisis ekologis serta ancaman terhadap tutupan hutan yang dihadapi di sepanjang pulau Sumatera menjadikan eksistensi siamang sebagai sebuah kekhawatiran.

Dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, mengatakan ancaman ekologis yang dihadapi di hutan, seperti deforestasi dan alih fungsi lahan, merupakan sebuah ancaman terbesar bagi keberadaan siamang. Sebab, siamang merupakan primata arboreal atau kelompok primata yang mayoritas aktivitasnya bergantung pada pohon, mulai dari mencari makan hingga beristirahat. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, siamang sangat bergantung pada pepohonan yang menjulang tinggi untuk mencari makan, bersosialisasi, hingga bergerak dan mengayun. Tak hanya itu, lantaran bentuk tubuh siamang yang sudah berevolusi untuk hidup di atas pohon yang tinggi, ancaman ekologis terhadap hutan akan menjadi salah satu sumber utama bagi potensi kepunahan siamang. 

“Jadi jika tidak ada hutan dengan pepohonan tinggi menjulang, maka populasi siamang jelas akan turun dan punah,” katanya, pada Kamis (5/11/2026).

Donan melanjutkan, selain kehilangan suaranya yang khas, kepunahan siamang juga dapat menghambat perkecambahan tumbuhan. Hal ini dikarenakan siamang merupakan primata frugivora yang menelan buah secara utuh dan mengeluarkan biji buah tersebut melalui fesesnya ke berbagai penjuru hutan, tak hanya berpatokan pada tempat ia memakan. 

Berdasarkan penelitian, kata Donan, siamang memakan dan menyebarkan biji dari sekitar 22 spesies tumbuhan berbeda dan 233 meter lebih jauh serta acak dari pohon utama. Meskipun siamang tergolong primata frugivora, beberapa spesies tumbuhan berbiji juga membutuhkan siamang untuk penyebaran bijinya. Dengan begitu, tumbuh sebuah simbiosis mutualisme antara siamang dan pohon berbiji dalam keseimbangan ekosistem hutan.

"Beberapa spesies pohon berbiji bergantung pada primata untuk penyebarannya, jadi antara pohon dan primata terutama sianang saling membutuhkan.” ujar Donan.

Dikatakan oleh Donan, tumbuhan yang tidak mendapatkan bantuan dari hewan primata untuk menyebarkan bijinya akan mengalami keterbatasan akses ke lokasi lain dalam regenerasi spesies. Biji tumbuhan yang jatuh di dekat pohon induknya menyebabkan persaingan antara kecambah dan induknya sehingga menyebabkan kegagalan generasi.

Dengan begitu, sambung Donan, kepunahan siamang akan mengubah komposisi spesies penyusun hutan. Awalnya, hutan memiliki pohon tajuk, berkayu padat, dan berbiji besar. Namun, ketika terjadi kegagalan regenerasi, hutan akan didominasi oleh tumbuhan berbiji kecil yang penyebaran perkecambahan dan bijinya dibantu oleh angin. Pada aspek komposisi tanah, hilangnya siamang sebagai penyebar biji hutan mengakibatkan penyimpanan karbon ikut menipis. 

Jika karbon tidak tersimpan di dalam pohon, imbuh Donan, akan terjadi pelepasan gas rumah kaca atau CO2 yang biasanya tersimpan di dalam batang, daun, akar pohon, dan tanah, terlepas kembali ke atmosfer. Konsekuensinya, suhu bumi akan meningkat dan cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, turut hadir acap kali di dalam ekosistem.

Fragmentasi habitat yang disebabkan oleh ancaman ekologis turut mengancam eksistensi siamang. Jika hutan terfragmentasi, Donan mengatakan bahwa siamang terpaksa akan turun ke permukaan tanah. Di permukaan tanah, tubuh siamang tidak dapat beradaptasi secara sempurna sehingga pergerakannya terbatas dan mendapatkan ancaman dari predator sekitar. 

Lalu, hutan yang terfragmentasi mengakibatkan siamang kesulitan untuk berpindah dari satu hutan ke hutan lainnya dan menempatkannya pada posisi tertekan serta kelaparan. Jika pada satu sisi hutan sedang tidak musim berbuah, maka siamang akan pindah ke sisi lain hutan yang sedang musim berbuah, tetapi jika hutan terfragmentasi, siamang akan kesulitan pindah ke sisi hutan lain yang terpisah. 

Dari segi genetik dan populasi, ketika hutan terfragmentasi maka populasi siamang akan terpisah satu sama lain. Kondisi demikian mengakibatkan siamang muda kesulitan berpindah untuk mencari pasangan yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. 

Isolasi paksa tersebut, menurut Donan, mengantarkan siamang pada perkawinan sedarah yang seiring waktu akan mengurangi keragaman genetik. Akibatnya, populasi siamang akan rentan terhadap penyakit genetik, penurunan kesuburan, dan kematian massal akibat penyakit.

Donan menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan tergerusnya populasi siamang di hutan Sumatera. Pertama, tentu penebangan hutan yang masif akan menghilangkan habitat asli siamang dan memaksanya untuk hidup di dalam keadaan yang tidak seharusnya, seperti di permukaan tanah, dan mengancam populasinya karena predator yang berkeliaran. 

Kedua, fragmentasi habitat yang ekstrim akibat pembangunan mega infrastruktur di Sumatera, seperti Jalan Tol Trans-Sumatera, serta ekstraksi kayu komersial, dan konversi lahan menjadi perkebunan sawit menjadikan kelompok siamang terisolasi. Dengan begitu, mereka akan menghadapi penyempitan genetik (genetic bottleneck) dan kerentanan terhadap peristiwa acak.

Ketiga, kehilangan sumber diet pada buah-buahan di hutan menyebabkan rendahnya tingkat kelangsungan hidup bayi dan anakan siamang akibat hilangnya nutrisi utama.

Terakhir, soal tingkat reproduksi siamang yang rendah turut berkontribusi dalam ancaman kepunahan siamang. Berdasarkan sudut pandang biologis, siamang memiliki karakteristik riwayat hidup yang sangat lambat. 

Mereka menerapkan sistem berpasangan monogami, memiliki masa kehamilan yang panjang, tingkat kelahiran yang rendah, serta memerlukan pengasuhan yang lama bagi anak-anaknya. Dengan begitu, ketika populasi lokal mengalami penurunan akibat beberapa faktor ekologis lainnya, kemampuan alami siamang akan berlangsung sangat lambat. 

“Begitu populasi lokal mengalami penurunan, kemampuan alaminya untuk pulih atau bangkit kembali dari gangguan akan berlangsung sangat lambat,” ucap Donan.