Minggu, 08 November 2026

            

Berita

90 Juta Pengungsi di Dunia Terancam Bahaya Iklim: PBB

Krisis iklim membuat para pengungsi semakin sulit kembali ke kampung halaman mereka.

Minggu, 08 November 2026
Desa yang terendam di Matiari, provinsi Sindh, setelah banjir besar menghantam Pakistan Juni 2022. Sumber: UNICEF/Asad Zaidi A
Desa yang terendam di Matiari, provinsi Sindh, setelah banjir besar menghantam Pakistan Juni 2022. Sumber: UNICEF/Asad Zaidi A

BETAHITA.ID - Hampir 90 juta orang yang terpaksa mengungsi kini tinggal di negara-negara yang semakin rentan terhadap kekeringan, banjir, dan panas ekstrem akibat perubahan iklim. Badan PBB untuk urusan pengungsi (UNHCR) menyampaikan hal ini dalam laporan terbarunya bahwa diperlukan lebih banyak pendanaan untuk membantu komunitas rentan melakukan adaptasi.

Menurut laporan dari UNHCR yang dirilis menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB di Antalya, Turki, hampir tiga perempat dari jumlah pengungsi di seluruh dunia tinggal di negara-negara seperti Afghanistan dan Bangladesh, yang menghadapi risiko iklim yang parah. Laporan yang dirilis Jumat, 6 November 2026 tersebut, menunjukkan adanya keterkaitan antara konflik, pengungsian, dan perubahan iklim.

"Adaptasi iklim di wilayah yang rentan dan terdampak pengungsian merupakan masalah kelangsungan hidup," kata Anton Leis Garcia, Asisten Komisaris Tinggi untuk Operasi di UNCHR, Jumat, 6 November 2026. 

"Kita memerlukan pendanaan iklim yang menjangkau komunitas yang paling membutuhkan," ujarnya.

Laporan tersebut menyoroti pengalaman seorang pengungsi asal Sudan yang melarikan diri dari konflik di al-Fashir pada Juni 2023 menuju permukiman pengungsi Farchana di Chad bagian timur. Pengungsi tersebut menuturkan bahwa terkadang ia harus menjalani waktu selama sepekan tanpa air bersih, serta terpaksa menempuh jarak yang semakin jauh untuk mencari sumber air alternatif karena dasar sungai musiman di dekat tempat tinggalnya mengering di tengah suhu panas yang kian meningkat. 

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa krisis iklim membuat para pengungsi semakin sulit untuk kembali ke kampung halaman mereka secara berkelanjutan.

Pada paruh pertama tahun 2026, lebih dari dua pertiga pengungsi yang kembali ternyata menuju ke negara-negara yang sangat rentan terhadap bahaya iklim. Hal ini menempatkan mereka pada risiko harus mengungsi kembali, ungkap laporan tersebut.

Di Suriah, tempat hampir 4 juta orang yang sebelumnya mengungsi telah kembali, penduduk kini menghadapi krisis air yang kian parah serta pola curah hujan yang tidak menentu. Selain itu, banjir di sepanjang Sungai Efrat pada bulan Mei telah merusak rumah-rumah warga dan menyebabkan ribuan orang harus mengungsi kembali, menurut laporan itu.

Di wilayah Afrika sub-Sahara, satu dari tiga permukiman pengungsi diperkirakan akan mengalami setidaknya 100 hari dengan suhu panas yang berbahaya setiap tahunnya pada 2050, yang mengancam kesehatan serta mata pencaharian mereka. Di beberapa permukiman di Ethiopia, suhu panas yang berbahaya bahkan bisa berlangsung selama lebih dari 200 hari dalam setahun, sehingga meningkatkan risiko serangan panas (heatstroke) dan kematian dini.

"Para pengungsi sering kali memiliki akses terbatas terhadap pendingin, air, dan energi yang andal, sehingga mereka lebih sulit untuk menghindari suhu yang berbahaya," demikian bunyi laporan tersebut.

UNHCR juga memperingatkan bahwa prakiraan fenomena El Niño berskala besar dapat memperburuk risiko terkait iklim di banyak negara penampung pengungsi serta memicu perpindahan penduduk lebih lanjut.

Di Afrika Timur, banjir parah dapat menyebabkan hingga 3 juta orang di Somalia, Kenya, Sudan Selatan, dan Uganda kehilangan tempat tinggal pada akhir tahun ini, ungkap UNHCR. Di wilayah Sahel, kekeringan, banjir, dan konflik dapat meningkatkan persaingan untuk memperebutkan sumber daya yang langka, sementara beberapa wilayah di Asia menghadapi risiko kekeringan, banjir, dan siklon yang lebih tinggi.

UNHCR mendesak pemerintah dan lembaga pendanaan iklim yang bertemu dalam COP31 untuk meningkatkan pendanaan bagi adaptasi iklim, seraya menyoroti bahwa hanya sekitar 10% dari pendanaan iklim yang sampai ke negara-negara rentan atau negara yang terdampak konflik.