Berita
Kerugian Akibat Karhutla 2026 Ditaksir Rp565 T
Perhitungan tersebut melonjak drastis dari perhitungan angka kumulatif karhutla Januari-Agustus 2026.
Selasa, 03 November 2026

BETAHITA.ID - Angka kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2026 diperkirakan mencapai Rp565 triliun, atau 14,92 persen dari APBN 2026.
Riset terbaru dari Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios) mencatat, total kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla sepanjang Januari-Oktober tahun ini paling rendah mencapai mencapai Rp359,58 triliun. Sementara itu angka tertinggi berada di Rp565 triliun.
Angka ini juga melonjak dari perhitungan Celios sebelumnya, yang mencatat potensi kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla pada Rp123,1 triliun untuk periode Januari-Agustus 2026.
Lebih rinci, riset terbaru tersebut mencatat total biaya ekonomi dari hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi yang mencapai Rp340,38 triliun (2,69 persen PDB) dan menghilangkan potensi penerimaan pajak daerah mencapai Rp4,06 triliun.
“Secara sektoral, 77 persen kerugian ekonomi berasal dari sektor kehutanan dan penebangan kayu, lalu diikuti oleh sektor industri pengolahan,” kata Nailul Huda, Direktur Ekopnomi Celios sekaligus penulis utama riset tersebut, Senin, 2 November 2026.
Dari sisi wilayah, Papua mengalami dampak negatif paling besar. Celios mencatat pulau tersebut menderita kerugian ekonomi terbesar sebesar Rp59,43 triliun, diikuti Kalimantan Barat Kalimantan Barat (Rp41,91 triliun), Kalimantan Tengah (Rp32,89 triliun), dan Nusa Tenggara Timur (Rp31,33 triliun).
Relatif terhadap ukuran ekonominya, dampak terberat terjadi di Papua (40,60 persen PDRB), Nusa Tenggara Timur (36,16 persen), Kalimantan Barat (31,97 persen), dan Kalimantan Tengah (28,26 persen).
"Hal ini menandai bahwa karhutla bukan hanya didominasi oleh wilayah Kalimantan dan Sumatera, namun juga sudah merambat ke Indonesia Timur," kata Nailul.
Sementara itu total biaya kesehatan untuk masyarakat yang terdiagnosis infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mencapai Rp19,20 triliun yang berasal dari biaya kesehatan langsung dan biaya kesehatan tidak langsung.
Total biaya kesehatan untuk masyarakat yang terdiagnosis dan bergejala mencapai Rp224,65 triliun.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah mencapai 1,92 juta hektare sepanjang periode Januari-September 2026, berdasarkan data Nusantara Atlas. Papua Selatan mendominasi dengan 319.119,68 hektare atau sekitar 1,15 kali lipat dari provinsi kedua (Kalimantan Barat, 277.127,29 hektare), disusul Nusa Tenggara Timur (223.192,97 hektare), Kalimantan Tengah (220.329,68 hektare), dan Sumatera Selatan (170.775,03 hektare).
Mapbiomas Indonesia, platform pemantauan kebakaran lainnya, mencatat angka 1,1 juta hektare untuk periode Januari-September 2026. Sipongi, yang dikembangkan oleh Kementerian Kehutanan mencatat angka yang jauh lebih sedikit, yakni sekitar 202 ribu hektare untuk periode Januari-Juli 2026.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia juga merenggut ribuan nyawa. Studi terbaru dari Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat 3.560 kematian akibat asap karhutla pada September 2026. Di sisi lain, jumlah warga terpapar kualitas udara “tidak sehat” hingga “berbahaya” mencapai rekor bulanan tertinggi sebanyak 58 juta jiwa pada September, melonjak 40% dari puncak paparan pada Agustus.
Warga yang menghirup udara “berbahaya” di Kalimantan meningkat hampir tiga kali lipat dari 2,8 juta menjadi 6,4 juta jiwa selama hari-hari dengan kualitas udara terburuk pada bulan tersebut.



