Sabtu, 31 Oktober 2026

            

Berita

Kebun Lautan Api: Ketika El Nino Datang ke Irarutu

Bukan hanya pepohonan di hutan, api juga membakar tanaman pala, durian, dan langsat milik warga.

Sabtu, 31 Oktober 2026
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi hingga malam hari di Kampung Kawaf, Teluk Bintuni. Sumber: Istimewa.
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi hingga malam hari di Kampung Kawaf, Teluk Bintuni. Sumber: Istimewa.

BETAHITA.ID - Suara pohon tumbang memecah malam. Satu demi satu, batang-batang besar roboh dilalap api. Pijarnya merobek-robek gelap ke berbagai arah, terutama setelah suara berdebum kencang. Bagi Lamek Esuru, malam di Kampung Kawaf dan Suga, Distrik Kaitaro, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, tak lagi menjadi waktu untuk beristirahat dengan tenang. Di tengah kebakaran yang terus meluas, suara pohon-pohon tumbang karena digerogoti api di kedalaman hutan, mengusik malam yang biasanya hening di kampungnya. Menghadirkan kecemasan tentang apa yang masih tersisa ketika pagi tiba.

“Tadi malam, saya mendengar pohon yang tumbang hampir 10–15 pohon. Robohnya pohon tersebut membuat kami di rumah tidak bisa tidur,” tutur Lamek, Minggu (25/10/2026).

Di sekitar Kampung Kawaf dan Suga, api membakar vegetasi hutan, merusak kebun, dan mengancam sumber penghidupan masyarakat. Itu berlangsung sejak awal September dan belum juga berakhir sampai sekarang. Kondisi kering yang berkepanjangan di tengah fenomena El Niño, disertai angin kencang, diduga telah meningkatkan risiko kebakaran dan dapat mempercepat penyebaran api. 

Di sepanjang ruas Jalan Trans Papua yang menghubungkan kedua kampung, tim EcoNusa menyaksikan pepohonan berukuran besar yang terbakar. Saat turut melakukan pemadaman di wilayah Kelapa Satu, tim menemukan pohon kayu besi yang tumbang dalam kondisi terbakar. Diameter batangnya sekitar 30 sentimeter. Hingga laporan ini disusun, akhir Oktober 2026, suara pohon tumbang masih terdengar dari dalam hutan.

Namun, kerusakan tidak berhenti pada pepohonan. Api juga membakar tanaman pala, durian, dan langsat milik warga. Tanaman yang dirawat selama bertahun-tahun itu rusak, bahkan mati akibat terbakar dan kondisi kering. Kehilangan ini terasa semakin berat karena kebakaran berlangsung ketika pala seharusnya memasuki masa panen.

“Mau panen apalagi, semua ikut terbakar dan mati karena kekeringan. Hidup kami mulai dari nol kembali. Semua ikut habis,” kata Abraham Esuru, Kepala Suku Kampung Kawaf.

Bagi Abraham dan warga lainnya, pohon-pohon yang terbakar bukan sekadar bagian dari lanskap hutan. Kebun yang rusak berarti hilangnya hasil panen dan sumber penghasilan yang selama ini menopang keluarga. Apalagi, tanaman seperti pala, durian, dan langsat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali menghasilkan buah.

Kehilangan itu juga mengingatkan betapa dekat kehidupan masyarakat dengan hutan dan laut. Bagi masyarakat adat suku Irarutu di Kampung Kawaf dan Suga, alam menyediakan lebih dari hasil kebun. Hutan menjadi tempat berburu rusa dan babi hutan, sementara kawasan mangrove menyediakan udang dan kepiting bakau untuk dikonsumsi maupun dijual.

Dalam kunjungan selama sepekan pada akhir Maret 2026, tim EcoNusa melihat bagaimana hasil alam telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Daging rusa hasil buruan disajikan di Kampung Kawaf dan dibagikan kepada warga maupun tamu. Di pesisir, hasil tangkapan dari kawasan mangrove membantu memenuhi kebutuhan pangan dan rumah tangga.

Bagi Fransina Waita, warga Kampung Kawaf, kepiting bakau bahkan menjadi sumber biaya pendidikan anaknya. Setiap hari, ia mendayung sampan ke kawasan mangrove dan memasang sekitar 15 perangkap kepiting. Dalam kondisi normal, ia dapat memperoleh sekitar 10 ekor sehari.

“Saya setiap hari pergi mencari kepiting. Dari hasil mencari itu yang saya pakai biaya anak sekolah,” ujarnya.

Kawasan mangrove Kampung Kawaf menyediakan udang dan kepiting bakau untuk dikonsumsi maupun dijual (Foto: Redemptus Anggur, Bintuni)

Ini menunjukkan bagaimana keberlangsungan hidup warga bertumpu pada ketersediaan sumber daya alam. Kebun, hutan, dan mangrove memiliki peran yang berbeda, tetapi sama-sama menopang kehidupan warga. Ketika kebakaran merusak kebun dan mengancam kawasan hutan, kekhawatiran warga bukan hanya tentang pepohonan yang hilang, melainkan juga tentang bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga ke depan.

Abraham bahkan pesimistis masih ada yang bisa dipanen dari hutan. 

“Mau harap apa lagi dari hutan, sudah habis toh,” ujarnya.

Kebakaran kali ini juga mengingatkan warga pada peristiwa serupa di Gunung Finana pada 1983, yang dikenal dengan sebutan api makan. Dalam periode yang sama, kebakaran juga menghanguskan hutan-hutan di Kalimantan dan Sumatera.  

Berdasarkan ingatan warga, kebakaran saat itu berlangsung dalam kondisi cuaca kering dan angin kencang. Gesekan antarkayu disebut sebagai salah satu pemicu munculnya api. Warga menilai kebakaran yang terjadi sekarang lebih besar dibandingkan peristiwa pada masa itu.

Kini, titik-titik kebakaran dilaporkan tersebar di bantaran Kali Kawaf, sepanjang jalan yang menghubungkan Kampung Kawaf dan Suga, Gunung Swaroh, Suguara, serta sekitar Kampung Suga. Titik lainnya berada di wilayah yang dikenal warga sebagai daerah pulo, seperti Logpon, Jamkof, dan Efatnfu. Sebagian titik kebakaran disebut berada di kawasan cagar alam Wagura Kote. 

Bagi warga, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah menghentikan kebakaran sebelum api menjangkau lebih banyak wilayah. Sumur-sumur yang mengering membuat proses pemadaman makin sulit dilakukan. warga berupaya memadamkan api dengan alat yang ada, termasuk dari bantuan EcoNusa berupa dua paket berisi mesin alkon, selang terpal dan spiral, drum besar, ember, pompa air, dan BBM. 

“Kalau tidak dipadamkan, hutan ini akan habis,” kata Abraham.

Pemadaman menjadi langkah pertama untuk membatasi kerusakan. Namun, ketika api berhasil dikendalikan, persoalan yang ditinggalkannya tidak serta-merta selesai. Kebun yang terbakar perlu dipulihkan, tanaman yang mati harus diganti, dan keluarga yang kehilangan hasil panen perlu mencari cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi warga Kawaf dan Suga, waktu pemulihan bukan hanya soal menunggu hutan kembali menghijau. Ada penghidupan yang harus dibangun kembali di tengah sumber daya alam yang selama ini mereka andalkan. Sebab, ketika hutan terbakar dan kebun kehilangan hasil, yang dipertaruhkan bukan hanya bentang alam, melainkan juga keberlangsungan hidup warga yang bergantung padanya.