Berita
Hampir Semua Terumbu Karang Perairan Dangkal di Dunia Terancam
Ekosistem terumbu karang berisiko runtuh 50 tahun lagi tanpa tindakan, menurut asesment IUCN.
Sabtu, 31 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Hampir semua terumbu karang di perairan dangkal di seluruh dunia kini menghadapi risiko tinggi keruntuhan ekosistem sebelum 2075 akibat pemanasan global, menurut penilaian yang dilakukan oleh para penasihat lingkungan PBB.
Penilaian tersebut menyatakan, sekitar 24% terumbu karang di dunia, yang tersebar di lebih dari 80 negara, saat ini sudah berada dalam kondisi sangat terancam punah, termasuk di wilayah Indonesia. Angka ini diperkirakan akan melonjak hingga 96% jika dampak pemanasan global turut diperhitungkan.
Terumbu karang sering disebut sebagai "hutan hujan" di lautan. Seperempat dari seluruh spesies laut yang diketahui hidup di dalam maupun di sekitar ekosistem ini. Selain itu, terumbu karang menyediakan sumber pangan bagi ratusan juta orang, melindungi garis pantai, serta menopang sektor pariwisata.
Menurut penilaian tersebut, penangkapan ikan yang berlebihan, polusi, pembangunan di wilayah pesisir, dan pemanasan global telah menyebabkan penurunan kualitas ekosistem ini selama 50 tahun terakhir—yang terlihat dari hilangnya karang hidup serta perubahan populasi ikan.
Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa meskipun prospeknya tampak suram, temuan ini harus menjadi "peringatan keras". Terumbu karang masih dapat bertahan jika penggunaan bahan bakar fosil dikurangi secara drastis dan langkah-langkah konservasi yang kuat diterapkan di tingkat lokal.
“Risikonya nyata dan sangat mengkhawatirkan,” kata Mishal Gudka, direktur riset di Coastal Oceans Research and Development in the Indian Ocean (Cordio)sekaligus pemimpin ilmiah untuk penilaian tersebut, Kamis, 22 Oktober 2026.
“Kita berisiko kehilangan salah satu ekosistem paling berharga yang kita miliki—yang dampaknya akan memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia,” katanya.
Penilaian ini menganalisis status terkini dan tingkat ancaman di masa depan terhadap 127 wilayah terumbu karang, serta dikoordinasikan oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), sebuah organisasi internasional yang memberikan saran kepada PBB.
Penilaian tersebut mengasumsikan bahwa emisi gas rumah kaca—yang terutama berasal dari pembakaran bahan bakar fosil—akan mengikuti jalur “menengah”, yang menyebabkan pemanasan global sekitar 2,7°C pada akhir abad ini dibandingkan dengan suhu sebelum Revolusi Industri.
Menurut salah satu penilaian, kebijakan dan target iklim yang saat ini diadopsi oleh berbagai negara di dunia kemungkinan akan menyebabkan pemanasan global sekitar 2,6°C.
IUCN menyatakan bahwa proporsi wilayah ekosistem terumbu karang yang dikategorikan sebagai sangat terancam punah kemungkinan jauh lebih tinggi. Namun, empat wilayah tidak memiliki data yang cukup untuk dinilai, sementara terumbu karang di wilayah barat Kepulauan Galápagos telah mengalami kehancuran.
Klasifikasi “sangat terancam punah” menunjukkan adanya risiko yang sangat tinggi akan terjadinya keruntuhan ekosistem sebelum 2075.
IUCN menganggap suatu ekosistem terumbu karang telah runtuh jika terumbu karang itu tidak lagi mampu mempertahankan keberadaannya akibat hilangnya sebagian besar atau seluruh karang pembentuk terumbu yang masih hidup.
Penilaian ini belum sepenuhnya memperhitungkan dampak dari peristiwa pemutihan karang massal global keempat yang terjadi antara awal 2023 hingga pertengahan 2025. Ini merupakan pemutihan paling massal global paling luas dalam catatan, sebagaimana dikonfirmasi oleh Coral Reef Watch milik pemerintah AS.
Gelombang panas laut dapat menyebabkan karang terpisah dari alga simbiosis yang selama ini memberi mereka warna dan nutrisi. Meskipun tidak selalu berakibat fatal, pemutihan dapat melemahkan karang dan membuatnya lebih rentan terhadap penyakit.
Gudka mengatakan hasil tersebut merupakan “peringatan keras” dan “mengkhawatirkan, namun tentu saja belum sampai pada titik tanpa harapan”.
“Hasil ini harus dipandang sebagai seruan untuk bertindak – sebuah tanda peringatan dini sebelum dampak terburuk benar-benar terjadi,” ujarnya.
“Belum terlambat untuk memberikan kesempatan bagi terumbu karang agar dapat pulih, namun hal ini memerlukan tindakan tegas untuk mengatasi perubahan iklim dan menghentikan pemanasan laut lebih lanjut,” kata Direktur Jenderal IUCN Grethel Aguilar.
“Kita tahu apa yang diperlukan: pengurangan emisi yang ambisius, upaya perlindungan dan pemulihan yang lebih kuat, serta investasi berkelanjutan pada ekosistem pesisir yang tangguh beserta masyarakat yang bergantung padanya,” kata Aguilar.
Dalam daftar tersebut, sejumlah wilayah terumbu karang di Indonesia dikategorikan dalam kondisi kritis atau terancam punah, yang masuk dalam ekoregion Asia Timur.
Terumbu karang di Asia Timur ini tersebar di 16 negara dan wilayah, mulai dari Jepang dan Tiongkok di utara, hingga Indonesia dan Timor-Leste di selatan. Dalam kategori ini terdapat 25 ekoregion, 12 di antaranya berada atau beririsan dengan wilayah Indonesia. Semuanya masuk dalam kategori kritis atau terancam punah.
Di antaranya Laut Arafura, Laut Banda, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Selat Malaka, Sulawesi bagian timur laut, Papua, Laut Jawa, Sumatera Barat, Selat Makassar.




