Jumat, 30 Oktober 2026

            

Berita

Tokoh Agama dan Masyarakat Sipil Serukan Solidaritas Ekologi

Krisis iklim turut memicu dan memperburuk dampak bencana di Indonesia.

Jumat, 30 Oktober 2026
Gerakan “Suara Keprihatinan dan Doa Pemulihan Bangsa” di GPIB Imanuel Gambir, Jakarta. Foto: GPIB
Gerakan “Suara Keprihatinan dan Doa Pemulihan Bangsa” di GPIB Imanuel Gambir, Jakarta. Foto: GPIB

BETAHITA.ID - Pembakaran hutan dan lahan, gempa bumi, hingga banjir bandang dan longsor terjadi beruntun di Indonesia dari akhir 2025 hingga 2026 ini. Krisis iklim turut memicu dan memperburuk dampak bencana itu. Untuk itu Tokoh Lintas Agama dan Masyarakat Sipil menyerukan solidaritas ekologi. 

Seruan ini disampaikan dalam gerakan moral bertajuk “Suara Keprihatinan dan Doa Pemulihan Bangsa” saat kegiatan Doa Bersama Lintas Agama ini diselenggarakan di GPIB Imanuel Gambir Jakarta Pusat pada hari Selasa (27/10/2026). 

Gerakan ini diinisiasi oleh Departemen Germasa-Lingkungan Hidup GPIB bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Institut WJ Rumambi, WWF Indonesia, Interfaith Rainforest Initiative (IRI), Eco Bhinneka Muhammadiyah, Ummah for Earth, Eksekutif Nasional WALHI, Forest Watch Indonesia (FWI), serta Indonesian Working Group on Forest Finance (IWGFF). 

Mereka memandang berbagai peristiwa bencana akhir- akhir ini menunjukkan pembangunan fisik semata tidak cukup mengatasi permasalah. Persoalan ekologis seperti kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah (Sumatera, Kalimantan, Papua, Jawa, dan Maluku) serta aktivitas vulkanik di jalur ring of fire menegaskan rentannya kondisi geografis Indonesia. 

Head Project Ummah for Earth di Greenpeace Indonesia, Riska Rahman, menyebutkan krisis lingkungan ini dinilai tidak boleh hanya dilihat sebagai fenomena alam, melainkan juga krisis kemanusiaan yang berakar dari cara manusia memperlakukan alam dan mengelola kebijakan publik.

“Disini pemerintah harus segera bertindak. Tidak hanya untuk keselamatan warga, namun juga keelamatan bumi. Kita lihat sendiri asap yang timbul akibat karhutla sudah bermigrasi tak hanya ke negara tetangga, dampak bencana ini juga sudah berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus mengeluarkan ulang lebih karena setiap hari menghirup asap dan menimbulkan dampak kesehatan. Disini tampak jelas bahwa krisis iklim tak hanya berdampak ke alam, tapi juga ke manusia, ” ungkapnya.

Selain itu, berbagai tragedi kemanusiaan dan kecelakaan transportasi, tantangan ekonomi kerakyatan, dinamika politik yang berpotensi memicu polarisasi, serta kasus korupsi yang merusak kepercayaan publik, menjadi alarm bahwa kualitas kehidupan bersama sebagai bangsa harus terus dijaga dan diperbaiki.

Ketua Umum Majelis Sinode (FMS) GPIB, Pendeta Nitis Putrasana Harsono. menyebutkan para pemimpin dan umat beragama menegaskan komitmen moralnya. Menurutnya agama dipanggil untuk tidak sekedar menjadi tempat pencarian ketenangan pribadi, melainkan hadir aktif membela martabat manusia, merawat alam, memperjuangkan keadilan, dan merajut perdamaian.

"Ketika kita hidup oleh alam, semesta ini dipercayakan kepada kita untuk dikelola, dan hidup dalam keberlanjutan, yaitu kehidupan bukan hanya mengatasi masalah sosial ekonomi tapi juga masalah sosial ekologis," kata dia.

Mereka menggelar doa bersama lintas agama yang menjadi ruang perenungan spiritual dan kebangsaan

Sebanyak peserta dari perwakilan umat dan tokoh lintas agama, pimpinan gereja, aktivis lingkungan, serta pegiat pun mendesak penyelarasan komitmen bersama untuk merawat kehidupan, perdamaian, keadilan, dan kelestarian lingkungan.