Berita
PBB: Gas Rumah Kaca Pecah Rekor dan Terus Naik Karena El Nino
Gelombang panas, siklon tropis, dan badai hujan dapat semakin sering dan intens.
Jumat, 30 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Tingkat gas rumah kaca di atmosfer mencapai rekor tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2025. Kondisi ini berpotensi membuat planet bumi semakin panas dan memicu lebih banyak peristiwa iklim ekstrem, menurut laporan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).
Laporan tersebut, yang dirilis Selasa, 27 Oktober 2026 di Jenewa, mengungkap bahwa konsentrasi rata-rata global CO2 di atmosfer mencapai 426,8 bagian per juta (ppm) pada 2025, atau sekitar 153% dari tingkat sebelum era industri pada 1750. Angka ini meningkat 2,8 ppm dibandingkan tahun sebelumnya—kenaikan tahunan yang lebih besar daripada rata-rata peningkatan selama satu dekade terakhir.
Konsentrasi gas rumah kaca penting lainnya—metana dan dinitrogen oksida—juga mencapai rekor tertinggi pada 2025, masing-masing sebesar 267% dan 126% dari tingkat sebelum era industri. Laporan ini mengukur jumlah gas yang terakumulasi di atmosfer, bukan emisi tahunan yang baru dihasilkan.
WMO akan memaparkan temuan ini kepada para negosiator dalam konferensi iklim PBB COP31 di Antalya, Turki, pada November mendatang. WMO juga memperingatkan bahwa fenomena El Niño yang kuat dapat mendorong konsentrasi gas-gas tersebut ke tingkat yang lebih tinggi tahun ini.
"Setiap tambahan satu bagian per juta sangatlah berarti karena memerangkap lebih banyak panas. Pada dasarnya, kita sedang membuat lautan dan atmosfer menjadi jauh lebih panas," ujar Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett, Selasa, 27 Oktober 2026.
"Ini berarti gelombang panas, siklon tropis, dan badai hujan kini semakin intens dengan laju yang melampaui apa yang pernah kita alami dalam catatan sejarah," ujarnya.
Tahun ini, berbagai wilayah di dunia—termasuk Eropa—mengalami suhu musim panas yang sangat terik, serta banjir yang menghancurkan di Asia dan tempat-tempat lainnya. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia juga diperparah oleh El Nino.
WMO menyatakan bahwa konsentrasi CO2 diperkirakan akan terus meningkat tahun ini akibat pembakaran bahan bakar fosil serta munculnya fenomena El Niño yang kuat, yang akan menyebabkan cuaca lebih kering dan menyulitkan penyerap karbon (carbon sinks) dalam menyerap emisi.
WMO juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai sulfur heksafluorida (SF6), yaitu gas rumah kaca yang banyak digunakan dalam peralatan listrik, seraya menyebutkan bahwa peningkatan kadar gas tersebut pada 2025 mencapai rekor tertinggi. Potensi pemanasan global dari SF6 lebih dari 24.000 kali lipat dibandingkan CO2, dan gas ini dapat bertahan di atmosfer selama lebih dari 1.000 tahun.
Badan tersebut juga menyoroti peningkatan konsentrasi hidrogen, yang naik sebesar 5,3% antara tahun 2010 dan 2024. Meskipun hidrogen bukan merupakan gas rumah kaca, kebocoran dari infrastruktur yang digunakan untuk memproduksi, mengangkut, dan menyimpannya dapat memengaruhi kimia atmosfer serta berkontribusi secara tidak langsung terhadap pemanasan global. Hidrogen yang diproduksi menggunakan listrik dari sumber terbarukan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar rendah karbon untuk sektor transportasi.
WMO menyatakan bahwa kebocoran hidrogen maupun persistensi SF6 yang bertahan lama di atmosfer dapat mengurangi sebagian manfaat iklim dari transisi energi global.
"Transisi energi sangat penting dan patut disambut baik, namun seperti transisi lainnya, proses ini harus dilakukan dengan cara yang cerdas dan didasarkan pada pengamatan lingkungan," kata Barrett.



