Kamis, 29 Oktober 2026

            

Berita

Si Superkaya Kantongi Cuan dari Pemicu dan Dampak Krisis Iklim

Kelompok miliarder di dunia menginvestasikan uang mereka di sektor kesiapsiagaan, pemulihan, dan rekonstruksi bencana.

Kamis, 29 Oktober 2026
Ilustrasi jet pribadi, yang sering digunakan oleh kelompok orang terkaya di dunia sebagai transportasi mereka. Sumber: Wikimedia Commons
Ilustrasi jet pribadi, yang sering digunakan oleh kelompok orang terkaya di dunia sebagai transportasi mereka. Sumber: Wikimedia Commons

BETAHITA.ID - Orang-orang terkaya di dunia tidak hanya meraup untung dari aktivitas penyebab kerusakan iklim, tetapi mereka juga semakin banyak meraup keuntungan dari konsekuensi bencana yang ditimbulkannya, menurut sebuah studi oleh Oxfam.

Organisasi kesetaraan global ini menemukan bahwa 0,1% penduduk terkaya di dunia menanamkan modal dalam jumlah besar pada sektor kesiapsiagaan, pemulihan, dan rekonstruksi bencana—sebuah pasar yang diproyeksikan tumbuh dari $70 miliar menjadi $92 miliar per tahun pada 2029.

Menurut LSM tersebut, hal ini memberikan “keuntungan ganda” bagi orang-orang terkaya dan paling berpengaruh di planet ini dari krisis iklim. Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini justru menjadi insentif bagi mereka untuk menunda atau menghambat upaya penyelesaian masalah iklim.

Situasi ini juga memperburuk ketimpangan global, karena pihak yang paling tidak bertanggung jawab atas pemanasan global justru harus membayar pihak yang paling bertanggung jawab—melalui harga pangan yang lebih tinggi, biaya perbaikan rumah yang rusak akibat cuaca ekstrem, atau biaya untuk pindah ke wilayah lain.

Jean McLean, kepala bidang pengaruh (Chief Influencing Officer) di Oxfam, menuding kelompok miliarder mengubah kekacauan menjadi keuntungan.

“Kelompok superkaya diuntungkan dari kedua sisi krisis ini: pertama, melalui investasi berkelanjutan di industri yang mencemari lingkungan; dan kedua, melalui investasi dalam ‘ekonomi adaptasi’ yang sedang berkembang pesat—di mana layanan pemulihan dan pembangunan kembali dijual kembali kepada dunia yang kian memanas,” ujarnya, Selasa, 27 Oktober 2026. 

“Populasi yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim justru menanggung dampak terburuknya, sementara pihak yang menjadi penyebab krisis tersebut justru memiliki sarana terbaik untuk melindungi diri mereka sendiri,” kata Mclean. 

Laporan tersebut menyebutkan bahwa 0,1% penduduk terkaya di planet ini—kelompok yang terdiri dari 8 juta orang—bertanggung jawab atas emisi karbon yang lebih besar daripada total emisi dari 3,5 miliar penduduk termiskin di dunia. Akibatnya, kelompok ini tercatat berkontribusi 125 kali lebih besar terhadap kejadian cuaca panas ekstrem dibandingkan rata-rata orang pada umumnya.

Hal ini sebagian disebabkan oleh gaya hidup mereka. Sebagai contoh, jet pribadi di seluruh dunia melepaskan lebih banyak CO2 dalam dua detik dibandingkan jumlah yang dihasilkan oleh sebagian besar penduduk dunia dalam satu tahun penuh. Namun, dampak terbesar dari kelompok ini justru berasal dari investasi mereka.

Indeks "menghancurkan dan membangun kembali" (destroy and rebuild index) yang baru dari Oxfam mengidentifikasi 217 perusahaan yang berkontribusi terhadap kerusakan iklim atau justru meraup keuntungan dari upaya adaptasi terhadap perubahan iklim—melalui penyediaan perangkat pendingin, penghalang banjir, peralatan pemadam kebakaran, transportasi, pangan, asuransi, hingga pinjaman.

Tahun lalu, perusahaan-perusahaan ini mencatatkan laba rata-rata sebesar US1,8 miliar dan membayar dividen senilai US1 miliar kepada para pemegang sahamnya. Enam perusahaan manajemen aset besar—yang memberikan nasihat kepada para investor kaya—turut masuk dalam daftar ini, sekaligus memiliki investasi yang signifikan di perusahaan-perusahaan lain yang tercantum dalam daftar tersebut. 

Menurut Oxfam, dua perusahaan terbesar di antaranya, BlackRock dan Vanguard, memiliki saham di 92% perusahaan yang masuk dalam indeks ini, dengan total nilai lebih dari US1 triliun.

Oxford juga mencatat bahwa berbagai krisis—baik yang dipicu oleh cuaca ekstrem maupun perang—cenderung mendongkrak laba perusahaan besar di sektor perdagangan pangan. Sektor ini didominasi oleh para miliarder, yang kekayaannya telah meningkat sebesar US 120 miliar sejak 2020. 

Saat kekeringan, banjir, atau badai merusak hasil pertanian, kenaikan harga pangan yang menyertainya cenderung lebih banyak menguntungkan korporasi besar dan para investor mereka, sementara pihak yang dirugikan adalah produsen skala kecil serta konsumen pada umumnya.

Sebagai contoh, Oxfam menyoroti lonjakan harga kakao sebesar 231% akibat cuaca ekstrem di Afrika Barat pada 2024; dalam peristiwa tersebut, para petani lokal sama sekali tidak menikmati keuntungan dari kenaikan harga tersebut.

Ketimpangan semacam itu membawa konsekuensi. Menurut Oxfam, emisi tahunan dari 1% kelompok terkaya akan menyebabkan 1,9 juta kematian tambahan akibat panas—angka ini didasarkan pada perkiraan dampak terhadap kesehatan manusia, produktivitas pertanian, dan kenaikan permukaan laut.

Lebih dari tiga perempat kematian tersebut akan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang sebenarnya jauh lebih sedikit bertanggung jawab atas krisis ini karena mereka hanya menyumbang 8% dari total emisi.

Negara-negara kaya dan individu kaya cenderung lebih terlindungi—setidaknya untuk saat ini—dari krisis iklim. Hal ini dikarenakan mereka umumnya lebih mampu menanggung harga pangan yang lebih tinggi, memiliki hunian yang kokoh, mengakses evakuasi darurat, serta memanfaatkan layanan kesehatan swasta dan perlindungan keamanan pribadi.

Hal ini membuat mereka cenderung tidak menggunakan kekuatan lobi yang mereka miliki untuk mendukung aksi iklim, bahkan mungkin mendorong mereka untuk memperlambat atau menghalangi pengurangan emisi yang dapat memengaruhi kekayaan pribadi mereka, ungkap Oxfam. Sebaliknya, beberapa pihak justru memanfaatkan bencana untuk mendorong agenda privatisasi atau membujuk negara-negara miskin agar mengambil pinjaman.

Alex Maitland, salah satu penulis utama laporan tersebut, menyatakan bahwa kelompok orang yang sangat kaya bukan sekadar penerima manfaat pasif dari krisis iklim. 

"Ini adalah tindakan yang disengaja," ujarnya. "Jika mempertimbangkan pengaruh politik yang mereka miliki, ini merupakan bukti kuat bahwa mereka mampu mengatur apa yang sedang terjadi saat ini," katanya. 

Oxfam menuntut penerapan pajak yang lebih tinggi terhadap orang kaya, pemilik jet pribadi, perusahaan minyak dan gas, serta perusahaan-perusahaan yang menjadi sumber polusi.

"Salah satu aspek rumit dalam membahas perubahan iklim adalah anggapan umum bahwa ini merupakan masalah bersama, padahal kenyataannya tidak demikian. Mengatasi krisis iklim sebenarnya sangat sederhana: kendalikan kelompok yang paling kaya, batasi kekuasaan dan emisi mereka, serta kenakan pajak atas kekayaan mereka,"  kata Nafkote Dabi, kepala kebijakan perubahan iklim di Oxfam International.