Minggu, 25 Oktober 2026

            

Berita

Kode Merah untuk Orangutan Tapanuli

Pemerintah didesak untuk membuat rencana pemulihan darurat orangutan tapanuli.

Minggu, 25 Oktober 2026
Orangutan tapanuli, spesies endemik yang terancam punah. Sumber: Sumatran Orangutan Conservation Programme
Orangutan tapanuli, spesies endemik yang terancam punah. Sumber: Sumatran Orangutan Conservation Programme

BETAHITA.ID - Orangutan tapanuli, yang merupakan kera besar terlangka di dunia, akan menjadi spesies pertama yang punah di era modern tanpa intervensi segera dan mendesak dari pemerintah, demikian temuan sebuah laporan terbaru. 

Para ilmuwan menetapkan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) sebagai spesies tersendiri pada 2017. Satwa ini hanya ditemui di hutan Batang Toru di Sumatera Utara, dengan populasi tersisa 658 individu, yang membuatnya sebagai salah satu spesies paling terancam punah di dunia. 

Laporan baru tersebut, yang diterbitkan di Pertemuan ke-17 Conference of Parties - Convention on Biological Diversity (CBD COP 17) di Yerevan, Armenia, menyerukan rencana pemulihan yang mendesak dan terkoordinasi untuk orangutan tapanuli. 

“Ini adalah kode merah untuk orangutan tapanuli. Bahayanya sudah di depan mata, tetapi kepunahan bukanlah hal yang tak terelakkan. Masih ada kesempatan untuk melindungi populasi yang tersisa, tetapi waktunya semakin sempit,” kata Amanda Hurowitz, Great Ape Lead Program di Mighty Earth, 22 Oktober 2026. 

“Sangat memungkinkan untuk mengembalikan spesies kera besar dari ambang kepunahan dengan rencana pemulihan yang terkoordinasi, seperti yang telah kita lihat pada gorila gunung di Afrika Tengah. Waktu untuk bertindak bagi tapanuli adalah sekarang. Kita tidak boleh membiarkan salah satu kerabat terdekat kita lenyap dari muka Bumi di bawah pengawasan kita,” ujarnya.  

Pada November 2025, Siklon Senyar yang menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor merusak lebih dari 8.300 hektare hutan di Ekosistem Batang Toru Barat. Bencana ini menghancurkan sekitar 11,7% tutupan hutan dan berpotensi menewaskan 58 orangutan atau setara dengan 7% dari seluruh populasi spesies tersebut.

Peristiwa tersebut menambah daftar panjang faktor yang mengancam keberlanjutan populasi orangutan. Meskipun demikian, saat ini belum ada rencana pemulihan untuk menyelamatkan satwa ikonik tersebut, menurut Ketua Institute for Sustainable Earth and Resources Universitas Indonesia Jatna Supriatna. 

“Saat ini masih belum ada rencana pemulihan tunggal dengan target populasi, target habitat, dan pendanaan khusus. Kerja kolektif di lapangan telah dimulai melalui koalisi yang ada, termasuk kelompok kerja Batang Toru,” kata Jatna. 

“Kita tahu bahwa kepunahan bersifat permanen dan tidak ada teknologi yang dapat mengembalikan suatu spesies. Tugas kita sekarang adalah memperkuat kolaborasi antar mitra, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, masyarakat, dan pelaku usaha. Penting untuk mengkoordinasikan upaya di lapangan guna mencapai tujuan konservasi dan pemulihan kita,” katanya. 

Di sisi lain, deforestasi dan kehilangan habitat akibat pembangunan dan aktivitas industri masih terus menghantui populasi tersisa. Saat ini ruang hidup orangutan tapanuli terisolasi hanya dalam area seluas 1.420 kilometer persegi di hutan hujan Sumatera Utara.  

Juru Kampanye Satya Bumi Sadam Afian Richwanudin mengatakan, tekanan ini datang dari berbagai arah, mulai dari pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), ekspansi pertanian, deforestasi, dan perburuan. Proyek PLTA Batang Toru akan semakin memfragmentasi populasinya yang terisolasi, sementara tambang emas Martabe, yang dimiliki melalui konglomerat Inggris Jardine Matheson, telah melakukan perluasan ke arah utara menuju habitat orangutan.

Tekanan yang terus meningkat ini mengancam akan menghancurkan koridor vital hutan, mengisolasi populasi dan membahayakan kelangsungan hidup jangka panjang mereka, kata Sadam. 

“Dari deforestasi, bencana ekologis, hingga kebakaran hutan, populasi orangutan di Indonesia mengalami penderitaan terlalu banyak,” kata Sadam.

“Pemerintah Indonesia perlu memimpin langkah untuk membawa para pemangku kepentingan duduk bersama merencanakan masa depan bagi yang paling terancam, yaitu tapanuli. Bagi mereka, tidak ada rumah kedua. Hutan Batang Toru adalah satu-satunya rumah mereka,” ujarnya.

Laporan tersebut menyatakan bahwa para ilmuwan percaya spesies ini masih dapat diselamatkan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa pemulihan darurat yang terkoordinasi terhadap populasi orangutan tapanuli diperlukan, mulai dari pemerintah, bisnis, dan kelompok konservasi. 

Para penulis mendesak agar pemerintah segera memulai upaya penyelamatan darurat. Di antaranya menghitung populasi orangutan yang bertahan hidup dan menilai kerusakan habitatnya, memulihkan koridor hutan antara populasi yang terisolasi, serta habitat yang rusak akibat bencana. Pemerintah dan pihak terkait juga harus menyediakan pendanaan jangka panjang untuk membangun kembali populasi yang melibatkan masyarakat lokal. 

Serge Wich, dari Liverpool John Moores University, yang membantu mengidentifikasi orangutan tapanuli pada 2017 mengatakan, kepunahan spesies ini akan menjadi kegagalan fatal bagi umat manusia. 

“Ini akan menjadi kegagalan fatal bagi umat manusia, komunitas konservasi, dan pemerintah. Dengan semua pengetahuan dan uang yang kita miliki di dunia, jika kita tidak dapat menyelamatkan spesies karismatik seperti ini, apa harapan bagi semua spesies lain yang kita pedulikan?” katanya.