Sabtu, 24 Oktober 2026

            

Berita

Dampak Karhutla: Udara Memburuk, ISPA Melonjak

Penderita ISPA bulanan diperkirakan sampai jutaan kasus akibat meluasnya karhutla. Kemenkes mencatat 333,4 ribu kasus pada 18 Agustus - 21 Oktober.

Sabtu, 24 Oktober 2026
Ilustrasi: Kepulan asap akibat karhutla.
Ilustrasi: Kepulan asap akibat karhutla.

BETAHITA.ID - Ketika mendengar balita berusia empat belas bulan meninggal karena paparan asap, Windy Pranata buru-buru bertolak ke Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Kalimanta Timur, pada Kamis 15 Oktober 2026. “Kami ke sana untuk memastikan korban terkena paparan asap,” kata Anggota Divisi Advokasi dan Database Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur itu pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Bayi tersebut bernama Yazyn Syanindita atau dipanggil Canin—anak dari Cindy Jumatun, 25 tahun. Canin sebelumnya dilaporkan meninggal setelah mengalami kritis akibat sesak napas. Sakitnya berlangsung saat rumahnya di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 64 sedang diselubungi asap selama berbulan-bulan.

Tetapi Dinas Kesehatan Samarinda memastikan bahwa kematian Canin tidak berhubungan dengan asap pembakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini merujuk dari keterangan Rumah Sakit Mulya Medika Samarinda yang sempat merawat Canin. Mereka menyatakan Canin memang mengidap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), namun belum dipastikan penyebabnya.

“Dari diagnosis dokter yang terakhir merawat, tidak menyebutkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena karhutla,” kata Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih, dalam keterangannya pada Jumat, 16 Oktober lalu.

Sebelum pernyataan Ismed mencuat ke media massa, Windy terlebih dulu menelusuri lingkungan tempat Canin tinggal. Berada di dekat muara Sungai Mahakam, Windy mendapati Bukuan gelap oleh asap. Semakin parah karena rumah Canin berada di dekat pelabuhan, tempat bongkar-muat batu bara yang kerap menyemburkan debu.

Setibanya di rumah duka, dia menemui sejumlah anggota keluarga. Dari sana, aktivis yang kerap mendampingi korban bekas tambang itu mendapati cerita soal fenomena sesak napas di Kampung Bukuan. “Warga sekitar menceritakan bahwa anak atau cucu mereka juga mengalami sesak napas, persis seperti yang dialami Canin.”

Adapun sesak napas yang dialami Canin disinyalir lebih parah dibandingkan anak-anak lain lantaran memiliki riwayat penyakit bawaan. Kata Windy, Canin selama ini sering ke rumah sakit karena mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Ketika dugaan wabah ISPA menyerang, balita itu pun tumbang.

Cindy Jumatun turut mengamini dugaan Windy ihwal buruknya kualitas udara di kampungnya yang menjadi biang kematian anaknya. Kata dia, ketika musim karhutla tiba, asap menyelimuti kampung bersamaan dengan debu yang bertebaran. “Aneh bila anak saya mengidap gangguan pernapasan, karena enggak pernah punya riwayat asma,” kata dia pada Kamis lalu.

Karhutla di Kalteng. Foto: Inisiatif Solidaritas Publik Anti Asap Karhutla (ISPA)

Merujuk pada platform pemantauan kualitas udara Air Quality Index (AQI), langit Samarinda memang melampaui ambang batas normal. Hal itu telah dimulai sejak Agustus, September, hingga Oktober. Pada medio September-Oktober, kualitas terburuknya menyentuh di angka 278 pada 11 Oktober 2026 atau masuk kategori parah. Adapun angka rata-rata tiga bulan terakhir masuk kategori buruk—meningkat drastis dibandingkan catatan lima tahun ke belakang yakni kategori baik dan sedang.

Kepala Laporatorium Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Muhammad Yunus, bahkan menyebut Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Samarinda pernah menyentuh angka 357. “Kategorinya termasuk sangat buruk yang tercatap pada pukul 07.00 WITA, pada Kamis, 17 September 2026,” kata Yunus dalam keterangannya.

Memburuknya udara di Samarinda ini merupakan pertanda adanya konsentrasi partikel mikrometer atau PM2.5 yang mencapai 194,42 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Di sana juga didapati partikel PM10 yang mencapai 306,65 µg/m³. Konsentrasi partikel tersebut disertai gas sulfur dioksida (SO2) yang lazim ditemukan saat peristiwa karhutla.

Biang peningkatan polutan itu disinyalir akibat karhutla yang melanda sejumlah kabupaten di Kalimantan Timur. Kondisinya diperkuat dengan angin yang dominan dari arah timur laut dan timur melewati Samarinda. Kata Yunus, kecapatannya sekitar satu meter per detik yang memicu akumulasi asap di perkotaan.

Seketika Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mencatat lonjakan kasus ISPA di provinsi berjuluk Benua Etam tersebut. Hingga Minggu, 18 Oktober lalu, mereka sudah melaporkan adanya 327,2 ribu penderita ISPA yang tersebar di 10 daerah. Adapun Kota Samarinda mencatatkan kasus terbanyak dengan jumlah 66 ribu kasus—salah satunya yang menimpa Canin.

Karena pertimbangan ini, mereka menetapkan status kedaruratan kasus ISPA. Pemerintah kemudian membangun rumah oksigen di 20 puskesmas yang tersebar di 10 kabupaten tersebut. Dinas kesehatan setempat juga menyigakan ratusan tabung oksigen portable dan selang bantuan pernapasan.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, tak memungkiri ada tren peningkatan kasus ISPA di Kalimantan Timur dan sejumlah provinsi lainnya. “Secara kumulatif ada 333.470 kasus ISPA yang berlangsung pada 18 Agustus - 21 Oktober dari 7 provinsi dan 68 kabupaten atau kota,” kata Then pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Adapun data harian pasien ISPA mencapai 4.522 kasus yang tercatat pada 21 Oktober 2026. Bila dilihat berdasarkan sebarannya, peningkatan drastis berlangsung di Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah. Lonjakan terlihat bila dibandingkan dengan catatan tahun lalu.

 

Benarkah penderita ISPA meningkat akibat paparan karhutla?

Pakar Biostatistika dan Epidemiologi Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, tidak yakin dengan paparan Kementerian Kesehatan. Menurut dia, catatan penderita ISPA tidak sekadar 333,4 ribu kasus. “Karena data itu hanya di zona-zona terdampak dari 7 provinsi. Kalau secara nasional, data bulanan bisa mencapai satu jutaan kasus,” ucap Windhu ketika dihubungi pada Kamis lalu.

Jutaan kasus ISPA itu disebut telah melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, menurut Windhu, kasus ISPA sudah masuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB). Peningkatan kasus berbarengan dengan memburuknya kualitas udara secara nasional—rerata melewati ambang batas aman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Windhu menduga, lonjakan kasus diakibatkan meluasnya karhutla yang menyebar di banyak wilayah. Bukti argumentasinya adalah mayoritas pengidap ISPA adalah bayi dan balita yang berusia di bawah lima tahun. Selain itu, ISPA juga menyerang lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan dengan penyakit bawaan.

Karena alasan tersebut, Windhu mendorong agar pemerintah segera menetapkan status wabah ISPA nasional. Selain itu, hal yang paling utama adalah mengatasi musababnya: memadamkan kebakaran hutan dan lahan.

Jika skenario ini tak segera dijalankan, dia khawatir jumlah penderita ISPA akan semakin banyak dan meluas. Tentu masalah ini akan mengakibatkan rentetan penyakit di kemudian hari. Windhu mencontohkan, kasus ISPA yang berulang akan memicu terjadinya stunting pada balita, gangguan pada ibu hamil, hingga potensi kanker paru-paru. “Kasus kematian bisa seketika terjadi bila balita terkena pneumonia.”

Data kumulatif penderita ISPA di 7 provinsi yang terdampak karhutla pada rentang 18 Agustus - 21 Agustus 2026. Sumber: Kemenkes.

Gejala pneumonia biasanya ditandai dengan munculnya batuk disertai demam dan sesak napas. Kasus ini rupanya sedang terjadi di Pangkalan Bun—jantung kota Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Dalam sepekan terakhir, Palang Merah Indonesia (PMI) rutin membantu warga mengakses oksigen gratis karena terserang gejala sesak napas.

“Setiap hari ada 9-15 kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia yang membutuhkan bantuan oksigen,” kata Ketua Bidang Penanggulangan Bencana Palang Merah Indonesia (PMI) Kotawaringin Barat, Fajar Dewanto, pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Dinas kesehatan setempat mencatat bahwa kasus ISPA hingga pertengahan Oktober telah menembus 15 ribu kasus. Jumlah ini menempatkan kabupaten ini di peringkat kedua setelah Kota Palangka Raya yang menyentuh 16,2 ribu kasus. Data ini berhubungan erat dengan kualitas udara di dua kabupaten tersebut yang masuk kategori berbahaya.

Then Suyanti tak memungkiri bahwa peningkatan kasus di berbagai wilayah tersebut disebabkan karhutla. Kata dia, paparan asap mengandung senyawa berbahaya seperti karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), serta partikel halus PM2.5. “Yang tentunya dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti ISPA, asma, gangguan mata, dan dampak sistemik,” kata pejabat pada Kementerian Kesehatan itu.

Saat ini, Kementerian Kesehatan sedang berfokus memperhatikan kesehatan anak-anak di wilayah karhutla. Pemantauan juga dilakukan terhadap para lansia, ibu hamil, maupun penderita asma, atau pasien penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Pemerintah juga melakukan penyiagaan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 491 rumah oksigen yang tersebar di puluhan kabupaten.