Sabtu, 24 Oktober 2026

            

Berita

Megamendung: Rest Area Burung Migran Koridor Pasifik dan Siberia

Konservasionis mendorong larangan berburu burung di Jawa Barat.

Sabtu, 24 Oktober 2026
Burung elang-alap cina (Accipiter soloensis), salah satu spesies burung migran yang singgah di Hutan Paseban, Megamendung, Bogor. Sumber: Komiu
Burung elang-alap cina (Accipiter soloensis), salah satu spesies burung migran yang singgah di Hutan Paseban, Megamendung, Bogor. Sumber: Komiu

BETAHITA.ID - Pegiat konservasi mendorong perlindungan habitat persinggahan burung di Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Kawasan ini diketahui sebagai tempat persinggahan burung migran serta habitat keanekaragaman hayati dan satwa endemik. 

Dalam sebuah pengamatan baru-baru ini, para pengamat mendokumentasikan 915 pengamatan terhadap tiga jenis raptor migran di Hutan Paseban, Megamendung, yang merupakan bagian dari migrasi burung Eastern Asia Flyway. Kawasan konservasi ini berada di ketinggian 1.150 mdpl dan menjadi tempat persinggahan sebelum burung melanjutkan migrasinya ke Bali. 

Yayasan Paseban mencatat, terdapat 828 pengamatan elang-alap Cina (Accipiter soloensis), 76 pengamatan sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus), dan 11 pengamatan elang-alap Nipon (Accipiter gularis), yang dicatat sepanjang 16-18 Oktober 2026. Selain raptor migran, para pengamat juga mencatat jenis burung migran lainnya, 54 jenis burung lokal, serta beragam jenis amfibi dan reptil. 

Pengamatan lapangan juga menjumpai raptor penetap, antara lain elang-ular bido (Spilornis cheela), elang hitam (Ictinaetus malaiensis), dan elang Jawa (Nisaetus bartelsi). 

Direktur Konservasi Yayasan Paseban Ady Kristanto mengatakan, hasil pengamatan tersebut mengungkap pentingnya kawasan Megamendung sebagai lintasan jalur migrasi burung serta satwa liar yang menghuni kawasan tersebut. 

“Burung-burung migran adalah tamu yang singgah sementara untuk beristirahat di area hutan Paseban. Menjaga mereka berarti menjaga hutan tempat mereka bernaung. Data-data burung yang singgah ini akan menjadi dasar penting untuk menentukan langkah konservasi ke depannya di area hutan Paseban,” kata Ady, 21 Oktober 2026. 

Direktur Raptor Indonesia Zaini Rachman, menilai Megamendung sebagai salah satu kawasan penting dalam jalur migrasi burung pemangsa. 

Burung pemangsa bermigrasi melalui dua koridor. Koridor utama timur (East Asian Continental Flyway), bergerak dari tenggara Siberia melalui timur China dan utara Indonesia, Semenanjung Malaysia, dan berakhir di Jawa, Bali, Lombok. Koridor ke dua, Koridor Pasific (East Asian Oceanic Flyway), mereka bergerak dari Kepulauan Jepang dan Taiwan, ke selatan Filipina, dan berakhir di Sunda Besar. 

Menurutnya, upaya konservasi membutuhkan keterlibatan banyak pihak, antara lain dengan memperkuat simpul-simpul pengamatan dan regenerasi para pengamat. 

“Saya berharap pengamatan dilakukan setiap tahun agar pergerakan burung dapat dipetakan dan peran kawasan ini bagi perjalanan mereka semakin dipahami,” ujarnya. 

Ady mengatakan, perlindungan dan restorasi hutan di sekitar Megamendung, khususnya ekosistem hutan pegunungan di atas 1.000 meter di atas permukaan laut, memiliki nilai penting bagi kelangsungan migrasi burung dan kehidupan masyarakat. 

Dia mengatakan pihaknya telah menyurati Gubernur Jawa Barat untuk mendorong penerbitan surat edaran larangan berburu burung dan perlindungan biodiversitas di seluruh provinsi Jawa Barat. 

Direktur Eksekutif Burung Indonesia Dian Agista mengatakan: “Kelancaran migrasi burung merupakan pertanda kesehatan ekosistem. Keberadaan kawasan yang terjaga seperti hutan di area Paseban berperan penting sebagai tempat persinggahan yang aman bagi burung pemangsa untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.”