Minggu, 25 Oktober 2026

            

Berita

Kukang Bangka: Primata yang Sempat Hilang dari Dunia Sains

Kukang bangka bertubuh kecil dengan punggung kemerahan dan topeng wajah pucat pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada 1906.

Minggu, 25 Oktober 2026
Salah satu kukang bangka yang dilepasliarkan ke alam di Pulau Bangka. Sumber: Andre Septian/Pusat Penyelamatan Satwa Liar Alobi.
Salah satu kukang bangka yang dilepasliarkan ke alam di Pulau Bangka. Sumber: Andre Septian/Pusat Penyelamatan Satwa Liar Alobi.

BETAHITA.ID - Kukang bangka (Nycticebus bancanus), spesies primata bermata besar endemik Pulau Bangka, Indonesia, ini ternyata sempat dianggap hilang dari dunia sains, karena belum pernah didokumentasikan dalam literatur ilmiah sejak 1930. Padahal primata yang bergerak sangat lamban itu kerap muncul di halaman rumah warga, sepanjang pinggir jalan dan tempat-tempat yang mudah terlihat.

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Spixiana menegaskan bahwa kukang bangka, salah satu primata yang hilang dan paling dicari oleh Re:wild, masih bertahan hidup di sebagian besar wilayah pulau tersebut. Bukti ini diperoleh dari lebih dari 90 ekor spesies ini yang diselamatkan oleh Alobi antara 2015 dan 2025.

Pusat Alobi menjadi salah satu penulis studi yang diterbitkan ini bersama dengan Kebun Binatang Haus des Meeres Aqua Terra di Wina dan Taman Safari Prigen Conservation Breeding Ark. Penerbitan studi ini bertepatan dengan perayaan Bulan Spesies Hilang pada Oktober.

Kukang bangka diklasifikasikan sebagai spesies yang terancam punah kritis (kemungkinan punah) oleh Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN. Meskipun para ilmuwan belum mendokumentasikan spesies ini selama hampir satu abad, spesies ini tidak pernah hilang dari ingatan masyarakat Bangka. 

Selama lebih dari satu dekade, Alobi telah menyelamatkan kukang yang dilaporkan oleh warga dan otoritas setempat di seluruh pulau, merawat, dan mengembalikan mereka ke hutan lindung. Namun hingga saat ini, temuan-temuan tersebut belum pernah dimuat dalam literatur ilmiah.

Penelitian ini bermula dari sebuah percakapan di Jawa. Saat mengunjungi Taman Safari Prigen Conservation Breeding Ark, salah satu penulis penelitian, Timon Glaw dari Kebun Binatang Haus des Meeres Aqua Terra, mengetahui dari pakar konservasi Jochen Menner bahwa kukang bangka terdaftar sebagai spesies yang terancam punah kritis (kemungkinan punah) dalam Daftar Merah IUCN dan termasuk dalam daftar primata yang hilang paling dicari oleh Re:wild. 

Menner menghubungkannya dengan Alobi, di mana ia mengetahui bahwa pusat penyelamatan tersebut memiliki sesuatu yang tidak tercatat dalam literatur ilmiah, catatan pertemuan langsung dengan spesies tersebut. Penemuan tersebut kemudian menyatukan Alobi, Kebun Binatang Haus des Meeres Aqua Terra, dan Taman Safari Prigen Conservation Breeding Ark untuk menganalisis catatan-catatan tersebut dan menerbitkan penelitian baru ini.

"Kami senang dapat berkontribusi pada catatan ilmiah untuk menunjukkan bahwa kukang bangka belum punah, namun spesies ini masih sangat terancam punah," kata Langka Sani, Direktur Pusat Penyelamatan Satwa Liar Alobi, dilansir dari Phys. 

Sani mengatakan, habitat alami kukang bangka di Pulau Bangka telah menyusut secara signifikan akibat penambangan timah ilegal dan pembukaan lahan besar-besaran untuk perkebunan sawit. 

"Kami meminta masyarakat di seluruh dunia untuk mendukung kami dalam menyelamatkan kukang bangka selagi masih bisa," ujarnya.

Menurut penelitian tersebut, Alobi telah menyelamatkan kukang bangka di keempat kabupaten di Pulau Bangka dan di Kota Pangkal Pinang, yang mengindikasikan bahwa spesies ini mungkin masih hidup di sebagian besar wilayah pulau tersebut. Dari lebih dari 90 ekor yang diselamatkan Alobi, 86 ekor di antaranya telah pulih dan dilepasliarkan di tujuh lokasi di Bangka. 

Tim Alobi memilih lokasi pelepasan dengan cermat, dengan fokus pada fragmen hutan yang lebih luas di pulau tersebut yang masih dapat menyediakan habitat yang baik serta memiliki tingkat perlindungan hukum atau praktis tertentu.

"Mengembalikan kukang bangka ke dalam radar ilmiah hanyalah langkah pertama," tutur Glaw. 

"Kami kini tahu bahwa spesies ini telah bertahan hidup di beberapa bagian Pulau Bangka, dan kami sangat membutuhkan strategi konservasi jangka panjang yang dibangun berdasarkan survei populasi, studi genetik, dan, yang terpenting, perlindungan habitatnya yang tersisa. Tantangan berikutnya adalah memastikan spesies ini tidak benar-benar punah," sambung Glaw.

Pulau Bangka sendiri merupakan tempat tinggal bagi lebih dari 1 juta manusia. Menurut penelitian tersebut, pemukiman manusia, jalan raya, dan saluran listrik merupakan ancaman signifikan bagi spesies ini. Kukang juga menjadi sasaran perdagangan hewan peliharaan di seluruh wilayah sebarannya di Asia.

Para penulis studi ini merekomendasikan program konservasi di Bangka yang melindungi habitat yang sesuai dan melanjutkan pelepasan yang dipantau sesuai dengan pedoman Komisi Kelangsungan Hidup Spesies IUCN. Mereka juga mengusulkan program pembiakan konservasi yang dapat membantu para konservasionis mempelajari lebih lanjut tentang biologi dan perilaku spesies ini. Langkah selanjutnya meliputi survei populasi, studi genetik, dan pemantauan bagaimana kondisi kukang yang telah dilepaskan setelah kembali ke hutan.

"Tim di Alobi telah menghabiskan lebih dari satu dekade secara diam-diam menyelamatkan, merawat, dan melepasliarkan hewan-hewan ini, dan catatan teliti merekalah yang akhirnya membawa primata ini kembali ke sorotan ilmiah," kata Benji Barca, manajer program eksplorasi Re:wild.

Menurut Benji, ini merupakan pengingat lain bahwa konservasi bergantung pada pengetahuan masyarakat lokal, masyarakat adat, dan pihak lain yang sangat mengenal spesies dan lanskap ini. Sebuah spesies bisa menghilang dari catatan ilmiah tanpa menghilang dari kehidupan orang-orang yang berbagi habitat dengannya.

Para penulis menjelaskan, kukang termasuk salah satu primata paling unik di dunia. Mereka adalah satu-satunya primata yang diketahui memiliki racun. Mereka menjilat kelenjar di bagian dalam lengan atasnya dan mencampurkan sekresinya dengan air liur, sehingga gigitannya bisa terasa menyakitkan dan menyebabkan pembengkakan.

Kukang memiliki mata besar dan bulat untuk melihat dalam kegelapan, deretan gigi bawah khusus yang berfungsi sebagai sisir untuk merawat diri, dan mereka bergerak perlahan, diam-diam, serta penuh perhitungan di antara pepohonan sehingga dapat menyatu dengan lingkungan di malam hari. Kukang bangka adalah jenis kukang dengan punggung kemerahan dan topeng wajah pucat, pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada 1906, namun baru diakui sebagai spesies tersendiri pada 2013.