Berita
Ada Serangga di Obat Luka hingga Krisis Iklim
Peran serangga penting dalam berbagai ekosistem. Tidak hanya sebagai sumber makanan.
Minggu, 04 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Bagi banyak hewan bertulang belakang (vertebrata), serangga bukan sekadar sumber makanan. Menurut sebuah studi baru, hewan invertebrata ini menjalankan fungsi krusial sebagai makhluk kecil yang menggerakkan dunia—seperti perlindungan, sanitasi, dan penyediaan tempat berlindung—di berbagai ekosistem.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Biodiversity, Rabu, 30 September 2026 ini menguraikan beragam cara serangga mendukung hewan bertulang belakang, mulai dari burung dan kelelawar hingga reptil, amfibi, dan mamalia.
Menurut makalah tersebut, hampir tiga perempat hewan bertulang belakang yang hidup di darat dan perairan tawar mengonsumsi hewan tak bertulang belakang, di mana serangga sering kali menjadi bagian besar dari pola makan mereka.
Namun, hubungan di antara keduanya melampaui sekadar interaksi predator dan mangsa.
Makalah penelitian yang dipimpin oleh Eliza Grames, seorang asisten profesor ilmu biologi di Binghamton University, mendokumentasikan berbagai cara—yang sering kali tidak disadari—di mana hewan vertebrata bergantung pada serangga. Diperkirakan terdapat antara 14 hingga 30 juta spesies serangga di seluruh dunia.
Sebagai contoh, simpanse tercatat menggunakan serangga untuk mengobati luka terbuka, sementara lebih dari 200 spesies burung memanfaatkan semut untuk menyingkirkan parasit atau merawat bulu mereka. Ada pula burung yang membangun sarang di dekat sarang tawon atau serangga penyengat lainnya, kemungkinan besar sebagai upaya untuk mendapatkan perlindungan dari predator.
Studi tersebut juga mencatat bahwa serangga menyediakan tempat berlindung. Burung, reptil, dan mamalia memanfaatkan gundukan rayap dan sarang semut, yang dapat menawarkan suhu serta kelembapan yang stabil. Kelelawar telinga bulat tenggorokan putih dari Amerika Tengah dan Selatan, misalnya, menggali rongga di dalam gundukan rayap dan menggunakannya sebagai tempat bertengger.
Jenis serangga lainnya berperan sebagai petugas sanitasi. Kumbang kotoran menyingkirkan limbah hewan serta membuat kotoran menjadi lebih kering dan memiliki sirkulasi udara yang lebih baik. Hal ini pada gilirannya mengurangi tingkat kelangsungan hidup parasit, menurut studi tersebut.
Sementara itu, ngengat yang hidup di sarang burung tertentu memakan kotoran, bulu, dan sisa-sisa material lainnya. Makalah tersebut mencatat bahwa serangga telah menjalankan fungsi serupa selama jutaan tahun, dengan mengutip bukti adanya kumbang yang memakan bulu di sarang dinosaurus pada periode Kapur (Cretaceous)—masa yang berlangsung sekitar 145 hingga 66 juta tahun yang lalu.
Interaksi lain antara serangga dan vertebrata mencakup perilaku kumbang yang membersihkan ektoparasit dari hewan pengerat dan ular yang memangsa larva kunang-kunang untuk memperoleh toksin pertahanan, serta burung yang menggunakan jangkrik hidup dalam ritual perkawinan.
Hubungan yang saling menguntungkan juga terjalin antara serangga dan vertebrata. Misalnya, kukang bergantung pada ngengat untuk menyetorkan nitrogen ke bulu mereka guna memicu pertumbuhan alga, yang kemudian menjadi sumber makanan bagi kukang tersebut. Kukang akan turun dari pohon sebulan sekali untuk buang air besar di tanah, sehingga menyediakan substrat tempat ngengat meletakkan telurnya.
Menurut studi tersebut, interaksi yang selama ini kurang diperhatikan ini bisa menjadi semakin penting seiring dengan evolusi komunitas serangga. Meskipun tingkat penurunan populasi serangga bervariasi di berbagai habitat dan wilayah, kajian tersebut menyatakan bahwa gangguan yang luas dan signifikan terhadap komunitas serangga merupakan hal yang tak terelakkan akibat perubahan penggunaan lahan.
Grames menyebut studi tersebut sebagai "seruan untuk sadar bagi siapa pun yang peduli terhadap krisis keanekaragaman hayati".
“Kita perlu memberikan perhatian pada serangga dan menjadikan pelestariannya sebagai prioritas utama, karena melestarikan serangga akan memberi manfaat bagi semua spesies lain yang bergantung padanya,” kata Grames.
“Serangga memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi sumber makanan bagi hewan bertulang belakang seperti burung dan kelelawar. Mereka menciptakan dan memelihara habitat, memberikan perlindungan bagi spesies lain, membantu mengurangi penyebaran penyakit dan mengurai limbah, serta menyediakan berbagai layanan ekosistem lainnya yang kita—dan spesies lain—andalkan. Mereka benar-benar merupakan pahlawan tak dikenal di dunia alam,” ujarnya.
Grames juga menyoroti peran krusial serangga dalam mengatasi krisis iklim. “Sekitar 12% dari cadangan karbon hutan global tersimpan dalam bentuk serasah daun dan kayu mati, dan serangga berperan menguraikan sekitar 30% di antaranya. Jadi, meskipun ukurannya kecil, aktivitas serangga memengaruhi siklus karbon global,” katanya.
“Serangga juga membantu regenerasi hutan dengan menyebarkan benih ke wilayah-wilayah yang telah kehilangan hewan penyebar benih berukuran besar lainnya. Penyerbukan dan penyebaran benih—keduanya dilakukan oleh serangga—merupakan dua faktor pembatas utama dalam regenerasi hutan,” ujar Grames.
Dampak terhadap hewan vertebrata masih sulit diprediksi karena minimnya studi mengenai hubungan antara serangga dan vertebrata. Studi tersebut mencatat bahwa kurangnya deskripsi sistematis mengenai interaksi trofik dan non-trofik—yang diperparah oleh terus menurunnya penelitian sejarah alam—menyulitkan pemahaman tentang bagaimana perubahan keanekaragaman hayati serangga memengaruhi spesies lain.
Bagi salah satu penulis studi, Chris Elphick—seorang profesor ekologi dan biologi evolusi di University of Connecticut—memahami beragam peran serangga dalam kehidupan hewan vertebrata merupakan hal yang krusial untuk merancang strategi konservasi yang efektif.
"Jika kita ingin melestarikan hewan vertebrata, kita juga harus memikirkan konservasi serangga, dan upaya kita dalam hal ini masih sangat kurang," ujar Elphick.




