Berita
Salib Merah Simbol Perlawanan PSN Food Estate Dibakar
Simbol perlawanan adat masyarakat di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dibakar oleh orang tak dikenal. Penegak hukum diminta mengusut.
Selasa, 03 November 2026

BETAHITA.ID - Salib merah yang dipasang masyarakat Kampung Nakias, Distrik Ngguti, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dibakar oleh sekelompok orang tak dikenal pada Minggu, 1 November 2026. “Setelah membakar, kami sudah tidak tahu mereka pergi ke mana,” kata Norton Kamuyen, 26 tahun, tokoh masyarakat Kampung Nakias pada Senin, 2 November 2026.
Norton kemudian menunjukkan foto hasil pembakaran. Api terlihat menghanguskan tepat di bagian palang yang mengikat kayu dari kedua sisi. Pembakaran itu yang membuat salib ambruk, terbelah menjadi empat bagian. Pada masing-masing pangkal telah menjadi arang.
Norton menceritakan bahwa salib merah yang dibakar itu berada di persimpangan jalan, antara Jalan Cukimay di Kampung Nakias dan jalan Proyek Strategis Nasional (PSN) sepanjang 135 kilometer. Palang tersebut, sebelumnya ditancapkan warga pada tahun lalu sebagai simbol sasi adat atau tanda larangan mengesploitasi tanah leluhur Suku Marind Anim.
Dua tahun terakhir, masyarakat Kampung Nakias sedang berkonflik dengan pemerintah. Hutan mereka digusur untuk pembangunan PSN Kawasan Sentra Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) Papua Selatan. Proyek ini dicanangkan oleh pemerintah seluas 2,2 juta hektare—membentang di antara Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat.
Adapun simbol salib itu ditanam sebagai bentuk perlawanan masyarakat Nakias karena tanahnya digaruk tanpa persetujuan. Norton bersama sejumlah marga memasang salib di tiga lokasi. Salib pertama di dekat Kampung Wanam, Distrik Ilwayab; salib kedua di persimpangan Jalan Cukimay; dan salib ketiga di dekat Kampung Salam Epe, Distrik Ngguti.
Merespons pembakaran tersebut, norton bersama masyarakat kemudian menggelar protes di sekitar kilometer 57 jalan PSN. Caranya adalah menanam tiga salib sekaligus dengan ukuran raksasa. Salib yang saling terhubung itu membentang menutupi seluruh badan jalan yang selebar belasan meter. “Kami pasang kembali,” ucap Norton.
Sebetulnya ini bukan kali pertama masyarakat Nakias mendapatkan teror dari orang tak dikenal. Pada 3 Maret lalu, peristiwa yang sama juga sempat terjadi. Ketika itu, salib pertama di dekat Kampung Wanam dicabut oleh sekelompok orang. Dua bulan sebelumnya, keluarga Norton juga dikeroyok oleh orang tidak dikenal pada 23 Januari 2026.
Medio Juni 2026, rombongan tentara juga sempat mendatangi Kampung Nakias. Mereka datang dengan menenteng senjata laras panjang. Kedatangannya untuk menanyakan alasan warga memalang jalan PSN yang dibangun sepanjang 135 kilometer. Norton memberi penjelasan bahwa pemerintah membabat tanah leluhurnya tanpa izin.
Sebelumnya, Norton juga sempat melaporkan bahwa pemerintah tak hanya membuka jalan, melainkan membabat ribuan hektare hutan. Pembukaannya disinyalir dilakukan dengan mengerahkan alat berat dan metode pembakaran hutan. Dugaannya lahan itu bakal disulap untuk rencana food estate atau cetak sawah dan membangun perkebunan kelapa sawit di Papua Selatan.
Direktur Lembaga Bantuan Hukum Papua-Merauke, Johnny Teddy Wakum, meminta agar semua pihak memantau memanasnya isu di Kampung Nakias. “Supaya konflik tidak semakin meluas dan tidak ada korban, baik secara materiil maupun korban jiwa,” kata Teddy dalam keterangannya pada Senin, 2 November 2026.
Dia juga mendesak pejabat dan penyelenggara negara di tingkat Papua Selatan ikut menengok kasus kekerasan dan teror di Nakias. Teddy meminta agar ada penegakan hukum untuk menjerat orang yang merintangi perjuangan masyarakat adat dalam mendapatkan hak. Selain itu, pemerintah turut diminta agar memenuhi hak dan keadilan masyarakat setempat.



