Rabu, 04 November 2026

            

Berita

Bimpi Restu: Relawan yang Berjibaku dengan Karhutla Sejak 2018

Meski risikonya besar, Bimpi sejak awal sudah memutuskan untuk jadi relawan pemadam karhutla.

Rabu, 04 November 2026
Bimpi Permata Restu, relawan pemadam karhutla di Tim Cegah Api Greenpeace Indonesia. Sumber: Istimewa
Bimpi Permata Restu, relawan pemadam karhutla di Tim Cegah Api Greenpeace Indonesia. Sumber: Istimewa

BETAHITA.ID - Bimpi Permata Restu telah mengenal api sejak remaja. Pada usia lima belas tahun, ia bergabung dengan tim relawan pemadam kebakaran swasta di kampung halamannya di Pontianak, Kalimantan Barat. Dua tahun kemudian, pada 2018, Bimpi bergabung dengan Tim Cegah Api (TCA), sebuah satuan tugas relawan khusus yang dibentuk Greenpeace Indonesia untuk terjun langsung membantu pemadaman kebakaran hutan dan lapangan (karhutla). 

“Waktu itu saya ingin jadi relawan tim cegah api Greenpeace Indonesia, tapi karena masih di bawah umur, saya harus nunggu setahun dulu untuk dapat KTP,” kata Bimpi kepada redaksi, 28 Oktober 2026. 

Menjadi pemadam kebakaran hutan dan lahan berbeda dengan pemadam kebakaran swasta yang biasanya mengurus kebakaran rumah atau pertokoan. Durasinya bisa berbulan-bulan dan kerap Bimpi harus meninggalkan rumah, seperti saat berangkat ke Kalimantan Tengah pada 2019. Saat itu Bimpi bersama rekan-rekannya di TCA Greenpeace Indonesia ikut membantu upaya pemadaman karhutla selama empat bulan di Palangkaraya.

Selama di TCA, Bimpi pun telah menyaksikan tiga siklus kebakaran besar di Indonesia, yang sama-sama diperparah oleh fenomena El Nino. Di antaranya, kebakaran 2019 yang melalap lahan seluas 2,6 juta hektare dan tahun 2023 dengan total area terbakar seluas 1,16 juta hektare. Namun kebakaran tahun ini baginya menjadi salah satu yang terparah. Berdasarkan data dari sejumlah platform pemantauan, kebakaran sepanjang Januari-September 2026 berkisar antara 1,1 juta hektare hingga 1,92 juta hektare. 

“Agustus dan September menjadi bulan yang sangat berat dan membekas buat saya dan teman-teman. Suasananya sangat kacau,” kata pemuda kelahiran tahun 2001 ini. 

Menurut Bimpi, bulan-bulan tersebut menjadi bulan dengan api terbesar di Kalimantan Barat sepanjang tahun ini. Secara geografis, Kota Pontianak dikelilingi oleh Kabupaten Kubu Raya, yang didominasi oleh lahan gambut. Fokus tim pun terkonsentrasi di dua wilayah ini. 

Analisis dari Siar Nusantara, organisasi yang berbasis di Pontianak mengungkap, puncak hotspot di Kalimantan Barat terpusat pada Agustus dan September, sebanyak 9.246 titik. Jumlah terbanyak teridentifikasi di Kubu Raya, Sanggau, Melawi, dan Kayong Utara. Sementara itu platform pemantauan kebakaran Mapbiomas Fire mencatat, luas area terbakar di Kalimantan Barat selama periode Januari-September mencapai 80,918 hektare. 

Saat musim kebakaran, tim cegah api Greenpeace Indonesia memiliki tim patroli, yang memetakan titik api, sumber air, dan akses jalan, arah angin, perluasan api, serta status lahan yang terbakar hutan lindung atau perumahan. Biasanya tim pemadam kebakaran memprioritaskan kebakaran yang terjadi mendekati permukiman warga. Tim kemudian menyiapkan peralatan dan membawanya ke lokasi. Barulah tim pemadam api berangkat ke lapangan jika semua sudah siap. Terlebih dahulu, mereka juga berkoordinasi dengan pihak terkait seperti BPBD maupun damkar swasta. 

“Kita selalu koordinasi, di titik mana kita harus bantu,” kata Bimpi. 

Bimpi mengatakan, ketika berhadapan dengan kebakaran di lapangan, fokus tim pencegah api bukan lagi ke lahan yang terbakar, melainkan vegetasi yang belum terbakar. “Jadi vegetasinya itu dibasahin. Kita blokir sebelum terbakar, biar api tidak menjalar. Ini tujuannya untuk mengurangi atau memperlambat pelebaran penyebaran api.” 

Api yang lambat tidak serta-merta berarti urusan selesai. Tim pencegah api berurusan dengan gambut, yang seringkali menyimpan bara api di kedalaman tanah dan bisa menyala kembali sewaktu-waktu saat mendapat pasokan bahan bakar. 

“Mungkin di atas permukaan tanah dia kelihatan padam, tapi besok bisa terbakar lagi,” kata Bimpi. 

Upaya pemadaman karhutla 2026 di salah satu titik kebakaran di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Sumber: Istimewa

Selain karakter lahan gambut, tim pemadam karhutla juga menemui kendala lain saat sedang bertugas di lapangan. “Tantangan paling besar saat memadamkan api itu adalah sumber air,” kata Bimpi. 

Tahun ini menjadi salah satu yang paling membekas karena terjadi bersamaan dengan musim kekeringan yang cukup parah. Terkadang titik api dan sumber air itu jaraknya jauh, bisa mencapai 500-600 meter. Kendala lainnya termasuk akses jalan menuju lokasi kebakaran dan peralatan yang terbatas. 

Terkadang upaya pemadaman bisa berlangsung berjam-jam. Pada awal September, misalnya, kebakaran di Desa Wonodadi Dua, Kubu Raya, terjadi sejak jam 2 siang hingga 10 malam. TCA Greenpeace bersama dengan BPBD Kalimantan Barat pontang-panting meredakan lidah api yang menyambar-nyambar mendekati permukiman dengan jarak kurang lebih 10 meter. Tangki air berisi 9.000 liter air ludes hanya dalam setengah jam. Untuk pengisian kembali butuh waktu 1 jam. Saat menunggu air, para pemadam kebakaran hanya bisa memandangi langit merah dan asap yang mengepul. 

“Api tidak berhenti, dan air nggak ada. Kita harus koordinasi dengan damkar swasta untuk tangki air. Dalam setengah jam saja, air habis. Dan mereka harus ngisi tangkai lagi. Saat itu sampai bingung bagaimana cara mengatasinya,” kata Bimpi. 

Akhirnya api mereda pada jam 10 malam. Meskipun api belum padam, tim memutuskan untuk berhenti karena kelelahan. “Tapi saat itu api tidak terlalu besar, ataupun menyebar,” kata Bimpi. 

Bimpi pun sempat melihat gerombolan biawak yang kakinya terbakar berlari ke arah mereka. Di Desa Kalibandung, Kubu Raya, gerombolan rusa pun lari dari hutan lindung bekas terbakar ke tepian pemukiman di sebuah kampung Dayak. 

Selain kegiatan pemadaman api, tahun ini berat bagi Bimpi karena anak keduanya lahir pada bulan September. Dia harus menyaksikan anaknya yang baru lahir menghirup asap dan bolak-balik memeriksakan anaknya ke rumah sakit untuk pemeriksaan. 

“Apalagi saat itu terjadi kekeringan, air menjadi asin. Pasokan air galon di kota juga harganya menjadi mahal, padahal buat bayi baru lahir itu air bersih kan penting sekali,” katanya. 

Bimpi berharap pemerintah memperkuat upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan ke depannya. “Karhutla itu bukan bencana yang tidak bisa diprediksi. Hampir tiap tahun terjadi. Siapkan mitigasi dan hukum perusahaan-perusahaan besar yang berkontribusi pada kebakaran,” katanya. 

“Saya berharap pemerintah lebih peka. Jangan menganggap enteng masalah karhutla. Mitigasi itu sudah paling penting. Kalau solusinya hanya dengan pemadaman, itu tandanya sudah gagal karena api sudah muncul,” katanya. 

Bagi relawan seperti Bimpi, dia sadar berjibaku dengan karhutla setiap tahunnya memiliki risiko besar, mulai dari risiko kesehatan dari paparan beracun jerebu hingga taruhan nyawa saat sedang di lapangan. Per 23 Oktober 2026, tercatat 10 orang petugas dan relawan meninggal dunia saat sedang memadamkan karhutla. 

“Pasti ada rasa takut. Kalau kata orang entah menunggu waktu, kalau pemadaman karhutla itu seperti satu langkah lagi untuk ikhlas dan satu langkah lagi untuk niat membantu. Untuk sekarang saya hanya bisa mendoakan teman-teman yang sudah berpulang. Mereka orang hebat,” katanya. 

Relawan membentangkan poster protes penanganan karhutla 2026 di area terbakar di Kalimantan Barat. Sumber: Istimewa