Berita
NASA Rekam Asap Karhutla Papua
Asap yang melayang ke konveksi badai petir, terangkat ke troposfer, tetap berada di dekat permukaan hingga merusak kualitas udara.
Selasa, 27 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merekam besarnya dampak kebakaran Papua. Hasilnya, polusi udara tercatat melonjak.
NASA mempublikasikan rekaman citra satelit instrumen VIIRS pada satelit NOAA-20 pada 11 Oktober wilayah Papua bagian selatan yang diselimuti asap tebal. Citra ini mereka tayangkan dalam artikel bertajuk “Fires Char New Guinea”. Nama New Guinea inis endiri mengacu pada pulau besar termasuk Papua dan Papua Nugini.
Robert Field, seorang ilmuwan penelitian asosiasi di Institut Goddard NASA untuk Studi Luar Angkasa dan Universitas Columbia menyebutkan hasil rekaman ini sebagai situasi mengerikan.
"Terkadang asap yang telah melayang ke konveksi badai petir di dekatnya akan tersapu atau terangkat ke troposfer atas, tetapi banyak asap tetap berada di dekat permukaan dan menyebabkan masalah kualitas udara," ucapnya dalam artikel tersebut
Sistem pemantauan emisi kebakaran Papua Nugini (Data Global Fire Emission Database / GFED), kebakaran di Papua Nugini, bagian timur pulau itu, telah melepaskan hampir 32 megaton karbon pada 17 Oktober 2026. Ilmuwan kebakaran di Universitas & Penelitian Wageningen, Guido van der Werf menyebutkan emisi ini kemungkinan menjadi rekor tertinggi dalam sejarah emisi di Papua Nugini. Pastinya angka ini jauh lebih tinggi dari emisi kebakaran hutan dan lahan 2015 dan sangat mungkin melampaui tahun 1997.
Sedangkan di Papua bagian Indonesia, emisi karbon melebihi 35 megaton, tertinggi setelah karhutla 2015 dan 1998.
El Nino membuat seluruh ekosistem di Papua rentan terbakar. Bahkan di Trans-Fly, wilayah paling selatan Papua Nugini, telah mengalami 90 hari berturut-turut tanpa hujan.
Namun hal itu bukan satu-satunya penyebab kebakaran dan asap karhutla di Papua, para peneliti juga mengungkapkan wilayah yang biasanya basah ini justru terbakar karena ulah manusia. Aktivitas pembakaran lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, penggundulan hutan, pembukaan lahan, serta perburuan telah memicu api.
Global Forest Watch (GFW) mencatat wilayah Papua Indonesia, telah kehilangan 27.000 hektare hutan primer pada tahun 2025. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari total tahun 2024 dan merupakan angka tertinggi sejak 2017. Hutan dibuka untuk perkebunan kelapa sawit dan tanaman industri kayu pulp, yang menggeser praktik pertanian skala kecil, perluasan kawasan perkotaan, serta kegiatan pertambangan selama dua dekade terakhir.
Peneliti di University of California di Irvine, Yang Chen menyebutkan Papua telah menjadi garis depan deforestasi baru di Indonesia.
“Kami melihat tingkat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia bagian Timur, khususnya Papua dan Kalimantan Indonesia, tahun ini dibandingkan dengan Sumatra dan bagian lain di Indonesia bagian Barat,” kata dia.


