Berita
Produksi Sawit Indonesia Diperkirakan Turun Akibat El Nino
Produksi sawit Indonesia diperkirakan susut hingga 5,8 juta ton.
Selasa, 27 Oktober 2026
BETAHITA.ID - Produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan turun akibat fenomena El Nino dan cuaca ekstrem. Risiko ini dikhawatirkan akan diikuti oleh kenaikan harga pangan dan naiknya permintaan untuk biodiesel.
Laporan khusus bertajuk Energy Disruption and El Nino: Leading to a Global Food Crisis?, yang dipublikasikan pada 19 Oktober 2026, S&P Global Institute mengungkap bahwa dampak El Nino terhadap industri sawit Indonesia akan mulai terlihat tahun depan.
El Nino ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur dengan kondisi di atas normal. BMKG juga telah mengonfirmasi bahwa Indonesia tengah menghadapi El Nino yang sangat kuat. September lalu Organisasi Meteorologi Dunia juga mengumumkan bahwa fenomena ini akan terus berlangsung hingga Februari 2027, dengan dampak iklim yang berlanjut hingga tahun depan, termasuk banjir, kekeringan, dan panas ekstrem.
Mengingat siklus perkembangan buah kelapa sawit berlangsung sekitar 22–24 bulan, dampak El Niño biasanya baru terlihat enam hingga delapan bulan setelah tekanan cuaca awal terjadi. Penurunan produksi diperkirakan akan lebih nyata mulai Maret 2027, dengan risiko penurunan sebesar 5,8 juta metrik ton di Indonesia dan 2,5 juta metrik ton di Malaysia.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak global membuat biodiesel semakin kompetitif dibandingkan bahan bakar berbasis minyak bumi, yang mendorong kenaikan permintaan terhadap komoditas yang digunakan untuk memproduksi bahan bakar nabati, termasuk minyak sawit.
S&P Global memproyeksikan konsumsi minyak sawit untuk kebutuhan industri Indonesia mencapai 18,4 juta ton pada 2026–2027. Angka ini sekitar lima kali lipat dibandingkan konsumsi pada periode 2015–2016 yang mencapai 3,7 juta ton, periode yang juga ditandai dengan pukulan terhadap produksi pertanian oleh fenomena El Nino yang kuat.
“Oleh karena itu, jika guncangan produksi seperti yang terjadi saat itu terulang kembali, dampaknya akan terasa jauh lebih berat pada pasar saat ini, mengingat kebijakan bahan bakar kini menyerap porsi yang jauh lebih besar dari pasokan minyak kelapa sawit,” kata para penulis laporan tersebut.
El Nino dan turunnya produksi juga memiliki risiko pada pangan. Menurut laporan tersebut, El Nino yang sangat kuat pada 2014-2025 berpengaruh pada kenaikan pangan global sekitar 10%. Pada era tersebut, negara berpendapatan menengah seperti Indonesia, Meksiko, dan Malaysia mengalami inflasi umum sebesar 2,5 hingga 3 poin persentase. Namun, pada periode 2027–2028, dampak inflasi akibat El Niño ini akan muncul bersamaan dengan guncangan harga pupuk dan energi.
Fenomena El Nino tahun ini memperparah kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Menurut data Sipongi Kementerian Kehutanan, luas kebakaran periode Januari - Juli 2026 mencapai 202.004 hektare, meningkat 47% dibandingkan kebakaran tahun 2019 dan 80% dibandingkan tahun 2023. Periode ini juga ditandai dengan kebakaran besar di Indonesia sejak 2015.
Sementara itu Mapbiopmas Indonesia mencatat, sepanjang Januari-September 2026, total kebakaran telah mencapai 1,10 juta hektare. Kebakaran tertinggi terjadi di Papua (313,777 ha), Kalimantan (258,149 ha), Bali & Nusa Tenggara (227,982 ha), Sumatera (89,899 ha), Sulawesi (82,494 ha), Maluku (69,749 ha), dan Jawa (61,081 ha).



