Senin, 26 Oktober 2026

            

Berita

9 Jenis Mangrove di Aceh Bisa Jadi Tanaman Obat

Salah satunya Rhizophora apiculata atau bakau. Masyarakat menggunakan bagian daun dan buahnya untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, dan luka.

Senin, 26 Oktober 2026
Hamparan hutan mangrove di pesisir utama Aceh. Dok. Rita Glaus/Selamatkan Hutan Hujan
Hamparan hutan mangrove di pesisir utama Aceh. Dok. Rita Glaus/Selamatkan Hutan Hujan

BETAHITA.ID - Ekosistem mangrove di Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, menyimpan potensi sebagai sumber tanaman obat bagi masyarakat sekitar. Penelitian terbaru menemukan sembilan jenis tumbuhan mangrove di sana dimanfaatkan masyarakat untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan.

Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Alin Fithor, mengatakan sembilan jenis tumbuhan mangrove yang memiliki potensi sebagai tanaman obat terdiri itu atas tujuh mangrove sejati dan dua tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove. Tumbuhan jenis mangrove sejati dimaksud yaitu Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. 

"Sedangkan tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove yaitu Acanthus ilicifolius dan Nypa fruticans,” kata Alin, pada Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, masyarakat lokal telah lama memanfaatkan tumbuhan dari ekosistem mangrove untuk membantu menjaga kesehatan mereka, terutama pada bagian daun dan buahnya. Pemanfaatan tersebut mencakup berbagai keluhan kesehatan seperti memar, luka bakar, cacar air, demam, diare, gatal-gatal, luka pada kulit, sakit perut, sariawan, dan sakit gigi.

Salah satu tanaman yang dimanfaatkan masyarakat adalah Rhizophora apiculata atau bakau. Masyarakat menggunakan bagian daun dan buahnya untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, dan luka. 

"Sementara itu, Rhizophora mucronata dimanfaatkan untuk diare, sakit perut, dan luka pada kulit,” katanya.

Penelitian tersebut juga mengungkap kandungan sejumlah senyawa bioaktif pada tanaman mangrove. Peneliti mencatat adanya senyawa seperti alkaloid, fenolik, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin. Senyawa tersebut memiliki potensi dalam aktivitas antibakteri, antikanker, antidiabetes, antijamur, antiinflamasi, antitumor, dan antivirus.

“Meskipun demikian, kami membedakan tanaman obat tradisional dengan tanaman yang telah terbukti secara ilmiah memiliki khasiat medis. Oleh karena itu, potensi tanaman mangrove sebagai bahan obat masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menguji efektivitas farmakologisnya,” ujar Alin.

Tapi di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman mangrove di Tadu Raya masih tergolong rendah. Periset membagi lokasi penelitian menjadi tiga stasiun dan melakukan pengamatan untuk mengidentifikasi komposisi vegetasi mangrove. 

Indeks keanekaragaman pada tiga stasiun berada pada rentang 0,83 hingga 0,89. Rhizophora apiculata memiliki nilai penting tertinggi di stasiun 1 dan stasiun 2, sedangkan Rhizophora mucronata memiliki nilai penting tertinggi di stasiun 3.

Meskipun seluruh jenis yang ditemukan masuk kategori risiko rendah, peneliti tetap menyoroti ancaman terhadap habitat mangrove. Penebangan dan pembangunan kawasan pesisir dapat menyebabkan hilangnya habitat dan mengganggu keberlangsungan ekosistem mangrove.

“Penelitian ini menyediakan dokumentasi dasar yang dapat mendukung pengelolaan mangrove, edukasi masyarakat, serta penelitian selanjutnya untuk memvalidasi efektivitas farmakologis dan memperkuat pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan,” ucap Alin

Menurut Alim, temuan ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove Tadu Raya memiliki nilai ekologis sekaligus nilai budaya bagi masyarakat. Selain mendukung ekosistem pesisir, mangrove menyimpan pengetahuan lokal mengenai pemanfaatannya sebagai tanaman obat yang dapat terus dikaji melalui penelitian ilmiah.

Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam Journal of Biological Diversity Volume 27 Nomor 3 pada Maret 2026 dengan judul Species Composition and Medicinal Uses of Mangrove Plants in Southwest Aceh, Indonesia. Adapun tim peneliti terdiri dari Alin Fithor, Wintah, Moh. Husein Sastranegara, dan Kiswanto.