Berita
Untuk Bertahan Hidup, Orangutan Muda Perlu Belajar Banyak Hal
Para peneliti sepakat bahwa banyak satwa perlu belajar untuk menguasai berbagai keterampilan yang diperlukan guna bertahan hidup di alam liar.
Minggu, 27 September 2026

BETAHITA.ID - Anak orangutan menghabiskan delapan tahun pertama hidupnya bersama induknya, dan selama periode ini, mereka dapat memanfaatkan pengetahuan sang induk. Namun, setelah itu, orangutan harus sepenuhnya mandiri.
Agar dapat bertahan hidup sebagai orangutan yang mandiri, anak-anak orangutan perlu mempelajari banyak keterampilan bertahan hidup, dan yang bisa dibilang paling penting di antaranya adalah keterampilan mencari makan.
Pola makan orangutan dewasa terdiri dari hampir 250 jenis makanan berbeda, yang dipilihnya dari ribuan pilihan berbeda—beberapa di antaranya berpotensi beracun—di labirin hutan hujan yang luas. Sebelum mereka mulai hidup mandiri, bayi orangutan juga harus belajar bagaimana mengolah makanan, serta kapan dan di mana makanan tersebut dapat ditemukan di hutan
“Bagaimana bayi orangutan menguasai kurikulum pola makan yang kompleks ini pada tahun-tahun awal mereka?” tanya Revathe Thillaikumar, seorang peneliti pascadoktoral Marie Sklodowska-Curie Actions di Institut Max Planck untuk Perilaku Hewan, pada Kamis (24/9/2026), dikutip dari Institut Max Planck.
Manusia memberikan petunjuk. Sepanjang sejarah evolusi kita, manusia harus mempelajari serangkaian keterampilan yang sangat luas yang diperlukan untuk bertahan hidup selama bertahun-tahun perkembangan. Banyak dari keterampilan ini, seperti pengetahuan tentang sumber makanan baru atau teknik berburu, dipelajari dari budaya masing-masing melalui interaksi kompleks antara berbagai bentuk pembelajaran sosial dan individu.
“Namun hingga saat ini, apakah dan bagaimana hewan liar menggunakan berbagai bentuk pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan yang relevan bagi kelangsungan hidup mereka masih belum diketahui,” katanya.
Dalam sebuah studi baru, Thillaikumar dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa orangutan liar membentuk profil pola makan yang beragam melalui interaksi yang tak kalah menarik antara pembelajaran sosial dan individu selama masa bayi.
Penelitian ini, yang diterbitkan di jurnal Science dan dipimpin oleh para peneliti dari Max Planck Institute of Animal Behavior (MPI-AB) di Jerman, bekerja sama dengan Universitas Nasional di Indonesia, merupakan penelitian pertama yang menunjukkan bahwa berbagai bentuk pembelajaran saling berinteraksi selama bertahun-tahun untuk membentuk keterampilan ekologis yang luas dan relevan bagi kelangsungan hidup pada kera besar di alam liar.
Belajar dengan mengamati dan mempraktikkan
Para peneliti sepakat bahwa banyak satwa perlu belajar untuk menguasai berbagai keterampilan yang diperlukan guna bertahan hidup di alam liar. Namun, masih diperdebatkan sejauh mana hewan belajar dari sesamanya (pembelajaran sosial) atau melalui latihan mandiri (pembelajaran individu).
Caroline Schuppli, penulis utama studi ini dan pemimpin kelompok di MPI-AB, mengatakan bahwa menjawab pertanyaan ini merupakan tantangan, terutama pada spesies berumur panjang seperti kera besar. Untuk benar-benar memahami bagaimana bentuk-bentuk pembelajaran ini diterjemahkan menjadi keterampilan dan pengetahuan yang nyata, para peneliti perlu mengaitkan peristiwa pembelajaran dengan hasil yang konkret dan dapat diukur, seperti pola makan.
"Namun, karena orangutan berkembang sangat lambat, terdapat jeda bertahun-tahun antara proses pembelajaran dan perubahan perilaku yang dapat diukur,” kata Schuppli.
Para peneliti mengatasi tantangan ini dengan memanfaatkan data jangka panjang dari stasiun penelitian Suaq Balimbing, Taman Nasional Gunung Leuser di Indonesia, tempat tim peneliti dan asisten lapangan internasional memantau orangutan sumatra (Pongo abelii) liar sepanjang siklus hidup hewan-hewan tersebut. Dalam penelitian ini, tim menganalisis data dari 21 orangutan muda yang direkam sejak lahir hingga mencapai kemandirian pada usia sekitar 8,5 tahun.
Selama 4.700 jam pengamatan, mereka meneliti tiga perilaku utama, yakni saat orangutan mengamati ibunya dan sesama spesies di sekitarnya dengan saksama melalui perilaku yang disebut “peering” (indikator perilaku pembelajaran sosial); saat mereka menjelajahi berbagai benda di habitatnya (indikator perilaku pembelajaran individu); dan makanan apa saja yang berhasil mereka makan tanpa bantuan ibu mereka (ukuran kompetensi ekologis).
Thillaikumar bekerja sama dengan ahli statistik teoretis Paul-Christian Bürkner dari Universitas TU Dortmund untuk menganalisis hampir tujuh ribu catatan pembelajaran sosial dan individual, dengan memisahkan riwayat setiap hewan guna menentukan bagaimana perilaku pembelajarannya berkaitan dengan keragaman pola makan yang akhirnya dimilikinya.
“Menganalisis setiap individu secara terpisah merupakan kunci utama dalam penelitian kami karena hal ini memungkinkan kami akhirnya menghubungkan dua bagian yang sebelumnya tak dapat dijembatani—pembelajaran dan pengembangan keterampilan,” kata Thillaikumar.
Para peneliti menemukan bahwa orangutan yang belum dewasa memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal seberapa sering mereka terlibat dalam pembelajaran sosial dibandingkan dengan pembelajaran individu. Thillaikumar mengatakan, para peneliti terkejut melihat betapa berbedanya kecenderungan belajar antar bayi orangutan.
Meskipun terdapat variasi tersebut, semua orangutan yang belum dewasa lebih sering terlibat dalam pembelajaran sosial daripada pembelajaran individu—rata-rata hingga lima kali lebih sering.
Menurut Schuppli, belajar semata-mata melalui eksplorasi individu bisa berisiko bagi orangutan yang belum berpengalaman, terutama bagi yang masih muda yang sedang tumbuh dan tidak boleh melewatkan kesempatan untuk makan.
"Jadi, pilihan yang lebih aman mungkin adalah mengamati dan belajar dari panutan yang berpengalaman, seperti ibu mereka,” kata Schuppli.
Kontribusi tiga kali lipat dari pembelajaran sosial
Tim peneliti menemukan bahwa ketika bayi terlibat dalam pembelajaran sosial, hal itu memicu eksplorasi lanjutan yang berlangsung hingga dua setengah jam. Thillaikumar menuturkan, setiap kali bayi orangutan mengamati, hal itu menimbulkan efek berantai yang berkepanjangan pada eksplorasi-eksplorasi berikutnya.
Para penulis ingin mengidentifikasi secara tepat dampak dari masing-masing dari kedua proses tersebut, sehingga mereka hanya mempertimbangkan eksplorasi yang diprakarsai secara mandiri untuk menguji bagaimana pembelajaran individu dan sosial bekerja sama.
Mereka menemukan bahwa pembelajaran sosial dan pembelajaran individu bekerja secara bersamaan selama periode perkembangan. Bayi yang terlibat dalam kedua bentuk pembelajaran tersebut dengan tingkat yang tinggi akhirnya memiliki profil pola makan yang paling beragam saat mencapai kemandirian.
Sebaliknya, ketika kedua bentuk pembelajaran tersebut rendah, individu-individu tersebut berakhir dengan keragaman pola makan terendah, dengan perbedaan tiga kali lipat antara tingkat pembelajaran tinggi dan rendah untuk kedua bentuk tersebut. Peningkatan pembelajaran sosial bahkan dapat sebagian mengkompensasi rendahnya pembelajaran individu dengan meningkatkan keragaman pola makan.
“Pembelajaran sosial mengambil alih peran utama, yang menunjukkan betapa pentingnya hal ini dalam kehidupan kera besar,” ujar Thillaikumar.
Hasil penelitian ini mendorong pemahaman yang lebih mendalam mengenai mekanisme yang mendasari budaya kera besar. Schuppli menuturkan bahwa hal ini bukan sekadar soal pembelajaran sosial atau individu. Tetapi juga tentang interaksi mekanisme pembelajaran yang kompleks yang telah mendorong perkembangan kompetensi budaya yang luas dan sangat relevan bagi kelangsungan hidup pada salah satu kerabat terdekat kita yang masih hidup di alam liar.
"Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran budaya yang canggih yang terlihat pada manusia mungkin memiliki akar evolusioner yang dalam,” ujar Schuppli.
Mengaitkan pembelajaran dengan kelangsungan hidup
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan belajar menghasilkan pola makan yang lebih beragam, namun masih ada pertanyaan mengenai bagaimana tepatnya keunggulan ini muncul.
“Apakah mereka mempelajari banyak jenis makanan, ataukah mereka menjadi lebih mahir dalam belajar?” tanya Thillaikumar.
Tim peneliti kini berencana untuk melihat lebih jauh dari sekadar keragaman pola makan guna menentukan apakah kemampuan belajar yang lebih baik juga meningkatkan asupan energi, dan pada akhirnya, apakah hal ini benar-benar berdampak pada kelangsungan hidup dan reproduksi.
“Pertanyaan-pertanyaan seperti ini hanya dapat dijawab dengan mengamati hewan di lingkungan alaminya sejak lahir hingga mati,” kata Sri Suci Utami-Atmoko, rekan penulis dari Universitas Nasional di Indonesia.
Suci mengatakan, studi lapangan jangka panjang memberikan waktu dan ruang untuk mengikuti hewan berumur panjang sepanjang sejarah hidup mereka.
"Bagi orangutan, studi-studi ini memberi kita wawasan tentang bagaimana budaya dan kelangsungan hidup telah saling terkait sepanjang proses evolusi,” ucapnya.




