Sabtu, 26 September 2026

            

Berita

Ikan Kerapu Sunu Pulau Numbing Terancam Tambang Pasir

Ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) merupakan predator puncak ekosistem karang di perairan sekitar Pulau Numbing.

Sabtu, 26 September 2026
Puluhan nelayan dari Desa Suka Damai Kecamatan Rupat Utara yang mayoritasnya Suku Akit melakukan aksi bentang spanduk untuk menyuarakan tuntutan penyelamatan Pulau Rupat dari ancaman tambang pasir laut, Senin, 12 Juni 2023. foto: Istimewa
Puluhan nelayan dari Desa Suka Damai Kecamatan Rupat Utara yang mayoritasnya Suku Akit melakukan aksi bentang spanduk untuk menyuarakan tuntutan penyelamatan Pulau Rupat dari ancaman tambang pasir laut, Senin, 12 Juni 2023. foto: Istimewa

BETAHITA.ID - Ikan kerapu sunu terancam oleh pertambangan di sekitar Pulau Numbing, Kepulauan Riau. Ancaman ini merupakan buntut dari hancurnya ekosistem karang akibat pengerukan. 

Ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) merupakan predator puncak ekosistem karang di perairan sekitar Pulau Numbing. Ikan ini terancam oleh penambangan pasir laut di sekitar Pulau Numbing, Kepulauan Riau, mengganggu ekosistem karang. 

Pakar biologi laut sekaligus dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Dr Meutia Samira Ismet, menjelaskan dampak penambangan pasir laut tidak hanya terjadi di lokasi pengerukan, tetapi juga berpotensi memengaruhi ekosistem pesisir di sekitarnya.

Aktivitas pengerukan menyebabkan tingkat partikel tersuspensi akan meningkat dan menyebabkan kekeruhan perairan. Hal ini berdampak terhadap keberlangsungan ekosistem pesisir, terutama terumbu karang dan lamun.

Kekeruhan menghambat penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan sehingga mengganggu fotosintesis, termasuk alga Zooxanthellae yang memiliki hubungan simbiosis dengan karang. 

Pada saat yang sama, pasir dan debu yang tersuspensi menutupi polip karang sehingga menghambat kehidupan dan pertumbuhannya. Gangguan ini pun berefek domino terhadap biota lain. 

“Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai organisme laut yang saling berinteraksi dalam suatu ekosistem. Ketika kualitas habitat menurun, keanekaragaman dan kelimpahan organisme yang bergantung pada ekosistem tersebut juga berpotensi mengalami penurunan,” ujarnya.

Salah satu biota yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem terumbu karang adalah ikan kerapu sunu. 

“Kerapu sunu merupakan ikan karang yang bersifat teritorial yang memiliki keterikatan yang sangat tinggi terhadap wilayah habitatnya. Ketika habitat terganggu, kehidupan dan pertumbuhannya juga dapat ikut terganggu,” terangnya.

Selain bersifat teritorial, kerapu sunu merupakan predator tingkat atas yang membutuhkan ketersediaan mangsa di dalam ekosistem. Peningkatan kekeruhan dapat mengganggu kemampuan visual ikan dalam menemukan dan menangkap mangsa. Akibatnya, perubahan kondisi habitat dapat berpengaruh terhadap ketersediaan makanan dan pertumbuhan kerapu sunu.

Peningkatan bahan organik akibat pengerukan juga dapat mendorong pertumbuhan makroalga secara berlebihan. Pertumbuhan makroalga yang lebih cepat dibandingkan karang dapat mengubah keseimbangan ekosistem dan menutupi terumbu karang. 

Perubahan nutrisi perairan juga berpotensi menurunkan oksigen serta mengganggu keseimbangan mikroorganisme, termasuk meningkatkan risiko berkembangnya bakteri oportunis seperti Vibrio.

Dampak tersebut, lanjutnya, dapat berlangsung dalam jangka panjang apabila aktivitas gangguan terjadi secara terus-menerus dan menyebabkan degradasi terumbu karang. Ekosistem yang telah mengalami kerusakan membutuhkan waktu panjang untuk pulih secara alami. 

“Ketika terumbu karang yang sehat mengalami degradasi, pemulihannya secara alami akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi keanekaragaman hayati, termasuk jumlah dan kesehatan kerapu sunu,” ucapnya.