Senin, 14 September 2026

            

Sorot

Bagaimana Mayawana Terbakar

PT Mayawana Persada menjadi satu dari lima perusahaan yang dibekukan izinnya karena karhutla. Bagaimana api berkembang di konsesi ini?

Senin, 14 September 2026
Citra satelit menunjukkan karhutla di sisi selatan konsesi PT Mayawana Persada. Data: Auriga Nusantara
Citra satelit menunjukkan karhutla di sisi selatan konsesi PT Mayawana Persada. Data: Auriga Nusantara

BETAHITA.ID - PT Mayawana Persada menjadi satu dari lima perusahaan yang dibekukan izinnya karena karhutla. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengumumkan pembekuan PT Mayawana Persada bersama empat perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) terkait kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat pada Kamis lalu (3/9/2026). Luas kebakaran konsesi perusahaan itu mencapai 326,93 hektare dari total luas konsesi sebesar 136.710 ha di Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.  

Empat perusahaan lainnya adalah PT Mahkota Rimba Utama, PT Hutan Ketapang Industri di Ketapang, PT Duta Andalan Sukses, dan PT Wana Lestari Jaya.

Alarm ancaman api di konsesi Mayawana sebenarnya sudah diberikan sejak perusahaan itu melakukan pembukaan masif pada 2021. Laporan koalisi pegiat lingkungan berjudul Pembalak Anonim: Deforestasi di hutan tropis dan konflik sosial yang dipicu oleh PT Mayawana Persada di Kalimantan Barat” menyebutkan tutupan hutan alam di konsesi Mayawana berkurang sebanyak 33.070 ha pada rentang 2021–2023. 

Pada akhir 2023, sisa hutan tropis dalam konsesi itu hanya 55.652 ha, termasuk 37.489 ha diantaranya hutan di lahan gambut.

Koalisi yang menerbitkan laporan itu adalah Auriga Nusantara, Environmental Paper Network, Greenpeace International, Woods & Wayside International, dan Rainforest Action Network.

Penebangan yang dilakukan PT Mayawana Persada di lahan Gambut. Foto: Yudi Noviandi/Auriga Nusantara

Peringatan ancaman karhutla melalui laporan deforestasi ini pun menunjukkan bukti. Pemantauan citra satelit oleh Auriga Nusantara menunjukkan titik-titik api dalam konsesi Mayawana bagian selatan pada 2 Agustus 2026. Visualisasi melalui citra satelit sentinel 2 juga menunjukkan asap mengepul di kawasan bukaan perusahaan.

Pada 28 Agustus 2026, titik panas semakin banyak menjadi sekitar 19 hotspot pada sekitar lokasi itu. Selain itu titik panas terdeteksi di wilayah sisi sungai, yang alirannya menuju Desa Sungai Mata Mata. Visualisasi melalui citra satelit sentinel pun menunjukkan asap yang kian banyak.    

Direktur Hutan Auriga Nusantara, Supintri Yohar, menyebutkan titik-titik panas itu kemungkinan terjadi di area hutan gambut yang telah dibuka. Latar warna coklat dalam peta menunjukkan bahwa kondisi tutupan bukan hutan alam lagi. Selain itu terdapat garis lurus pada citra satelit yang diperkirakan adalah sekat kanal.

“Nah, pada citra satelit 28 Agustus 2028, kalau dilihat polanya maka api sudah melompat dari sekat kanal dan membakar vegetasi tersisa,” ucapnya dalam perbincangan dengan Betahita. 

Citra satelit melalui sentinel 2 atas areal terbakar di konsesi PT Mayawana Persada. Data: Auriga Nusantara

Data pemberitaan Betahita berjudul “Kanal Sirotol Mustaqim di Kebun Kayu Mayawana” memperkirakan lokasi kebakaran ini terjadi di area bukaan yang dilakukan pada 2024. Pada saat investigasi tersebut dilakukan, perusahaan masih membuat kanal-kanal di atas kawasan gambut sebelum melakukan pembukaan. 

Karhutla di Mayawana tak hanya terjadi di sisi selatan konsesi saja. Analisis Pantau Gambut menunjukkan titik panas di konsesi perusahaan itu memuncak pada Agustus 2026 dengan jumlah 1.549 titik panas. 

Peningkatan titik panas ini sebenarnya sudah terjadi sejak Juli, yakni mencapai 58 titik panas. Jumlah ini pun meningkat dari bulan-bulan sebelumnya yang hanya mencapai satu hingga enam titik panas, kecuali pada Maret 2026 yang mencapai 17 titik panas.

Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menyebutkan luasnya kebakaran di konsesi ini tak lepas dari perubahan ekosistem gambut dalam skala besar. Pembukaan hutan dan pembangunan kanal untuk kepentingan produksi telah mengubah fungsi hidrologis gambut. Fungsi hidrologis telah dirusak dari ekosistem, muka air tanah turun, dan ekosistem gambut kehilangan fungsi ekologisnya. 

Lahan gambut di konsesi Mayawana mencapai 81.835 ha, seluas 42.138 ha ekosistem gambut budidaya dan 39.697 ha dalam ekosistem gambut lindung.  

Gambut yang seharusnya menjadi ekosistem basah berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Temuan lapangan dan pemantauan terbaru menunjukkan adanya titik api di dalam konsesi Mayawana, sementara aktivitas kanalisasi diduga telah membuat ekosistem gambut mengering secara masif. 

“Makanya, karhutla di sekitar konsesi PT Mayawana Persada tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan api, asap, dan pemadaman,” ucapnya.

Menurutnya evaluasi tidak boleh berhenti pada siapa yang memegang korek api ketika api sudah membesar. Pemerintah harus memeriksa siapa yang mengubah lanskap gambut menjadi kering dan mudah terbakar, termasuk Mayawana.

Sejurus dengan Putra, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Refki Saputra, menyebutkan karhutla di konsesi Mayawana ini tidak hanya bisa dipandang soal bagaimana api berkobar saja. Pengeringan dan pembabatan hutan kawasan gambut yag dilakukan korporasi seharusnya turut menjadi perhatian pada penegakan hukum dan tanggung jawab pemulihan pasca bencana. 

Kebakaran di atas lahan gambut tidak hanya terjadi dengan melempar api saja karena pada dasarnya gambut tetap selalu basah sebelum ada pembukaan lahan.  

“Tidak mungkin gambut kering di tengah terik dan mungkin terbakar tanpa pemantik, maka kuat dugaan memang ada yang membakar. Pembukaan lahan gambut merupakan satu langkah menuju karhutla,” ucapnya. 

Manajer Kampanye dan Advokasi Lingkaran Advokasi dan Riset (Link-AR) Borneo, Yetno Budi Wibowo, menceritakan kebakaran lahan gambut di Mayawana benar-benar tak terkendali. Ia bertandang ke Dusun Lelayang, Desa Kualan Hilir, Ketapang pada Agustus lalu. Area ini merupakan sisi utara konsesi Mayawana.

Api membakar berbagai area blok perusahaan dan kondisi angin yang kencang menyebarkan kobaran ke berbagai wilayah. 

“Sekitar jam 11-12 siang, angin sangat kencang. Ketika kami eksana untuk melakukan pemadaman, api sudah mau menyambar pemukiman,” ucapnya. 

Rekaman video yang didapatkan redaksi api turut menyambar satu unit ekskavator di kawasan konsesi. Diduga, ekskavator itu hendak membuat sekat untuk mencegah api namun sudah terlambat hingga turut terbakar. 

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Banjar Lestari di Desa Padu Banjar, Samsidar, menyebutkan kebakaran di Mayawana turut memperparah daerah sekitarnya. Desa tempat tinggalnya berbatasan dengan dengan sisi selatan konsesi perusahaan itu dan kondisinya terkepung asap ketika berbincang dengan redaksi pada 3 September 2026 lalu.

Ia menyebutkan api memang tidak hanya dari dalam konsesi, pada perkebunan warga dan hutan desa terdapat titik panas dan membesar. Bahkan kebakaran hutan desa parah, dari sekitar luas 6,800 ha kini tinggal 2.000 an ha yang tersisar karena terbakar. 

“Kondisinya kabut dimana-mana. Pergerakan api sudah merembet apalagi gambut sudah kering,” ucapnya. 

Ia mengakui berbagai bantuan oleh perusahaan telah diberikan, termasuk rencana mendatangkan alat berat untuk membuat sekat api.

Citra Planet terbaru menunjukkan adanya pembukaan hutan alam di areal yang disebut sebagai Kawasan Lindung berdasarkan RKUPHHK-HTI Tahun 2012-2021 PT Mayawana Persada. Sumber: Auriga Nusantara.

Nasib Mayawana Sebagai Pemasok APRIL

Karhutla dan status pembekuan Mayawana seharusnya berdampak pada penerima kayu Mayawana. Refki menyebutkan pada Mei 2026 lalu, Asia Pacific Resources International Holdings Ltd. (APRIL) telah mengumumkan bahwa Mayawana akan menjadi pemasok pabrik kayu APRIL Group, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), di Pangkalan Kerinci, Riau.

Perusahaan itu terdata sebagai pemasok APRIL nyaris bersamaan dengan PT Industrial Forest Plantation (PT IFP). 

Kini Forest Stewardship Council (FSC), sebuah lembaga sertifikasi atas produk kayu berkelanjutan, masih mempertahankan penangguhan Nota Kesepahaman dengan APRIL terkait pasokannya dari Mayawana dan PT IFP. 

“Artinya dengan karhutla ini FSC seharusnya dapat memberikan tekanan kepada APRIL maupun Mayawana,” ucapnya. 

Direktur FSC Indonesia, Hartono Prabowo, memastikan suspensi atas proses remedi dengan APRIL terus berlanjut. Pihaknya masih mempertanyakan kenapa APRIl menerima kayu dari Mayawana. Mereka pun mendesak kepada APRIL untuk mengembalikan ketentuan cut off date

APRIL Group telah mengubah jatuh tempo (cut-off date) deforestasi dari 2015 menjadi akhir 2020 sekaligus meninjau kembali komitmen Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0. Artinya kayu pasokan ke perusahaan itu dapat ditanam dari kawasan hutan yang ditebang (land clearing) sebelum tahun 2021.

“Jadi pembekuan tidak ada masalah baru, suspensi (oleh FSC) karena pembelian baru (dari Mayawana). Sampai sekarang belum ada keputusan baru,” ucapnya kepada redaksi. 

Sementara pihak Mayawana dan APRIl sendiri belum menjawab permintaan konfirmasi yang dikirimkan redaksi melalui email.