Senin, 14 September 2026

            

Berita

Abu Vulkanik Erupsi Gunung Membahayakan Ekosistem Perairan

Abu vulkanik mengandung mineral yang berpotensi melepaskan sulfat, klorida, fluorida, aluminium, besi, mangan, kalsium, magnesium, natrium, dan kalium

Senin, 14 September 2026
Tampak dari ketinggian kondisi Gunung Krakatau saat mengalami erupsi. Sumber: Kementerian ESDM.
Tampak dari ketinggian kondisi Gunung Krakatau saat mengalami erupsi. Sumber: Kementerian ESDM.

BETAHITA.ID - Erupsi sejumlah gunung api di Indonesia tak hanya berdampak negatif pada wilayah sekitar gunung saja, namun juga bisa menjadi ancaman bagi sumber air dan ekosistem perairan. Abu vulkanik hasil erupsi yang terbawa angin maupun aliran air hujan dapat masuk ke sungai, danau, embung, sumur dangkal, bak penampungan, hingga kolam budi daya.

Menurut Prof Etty Riani, pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, tingkat ancaman abu vulkanik terhadap sumber air bergantung pada ketebalan dan komposisi abu, jarak dari gunung api, volume air, serta kondisi pH dan alkalinitas.

“Ancaman abu vulkanik terhadap air, terutama pada sumber air terbuka seperti sungai, danau, embung, sumur dangkal, bak penampungan, dan penampung air hujan tentunya harus diperhatikan,” ujar Prof Etty, pada Jumat (11/9/2026).

Ia mengatakan, erupsi tidak serta-merta menyebabkan air terkontaminasi logam berbahaya. Dampak yang lebih cepat terjadi adalah peningkatan kekeruhan dan padatan tersuspensi atau total suspended solids (TSS). 

“Partikel abu yang sangat halus dapat bertahan lama di dalam air, menyumbat saringan, merusak pompa, sekaligus mengurangi efektivitas proses desinfeksi,” ujarnya.

Abu vulkanik, imbuh Prof Etty, juga mengandung berbagai mineral yang berpotensi melepaskan sulfat, klorida, fluorida, aluminium, besi, mangan, kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Pemeriksaan terhadap unsur toksik seperti arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri juga diperlukan apabila abu yang masuk dalam jumlah besar.

Jernih belum tentu aman

Prof Etty menegaskan, air yang terlihat jernih belum tentu aman dikonsumsi. Air yang telah mengendap masih mungkin mengandung unsur terlarut. Karena itu, air yang terkena abu sebaiknya dianalisis dan diolah terlebih dahulu.

“Merebus air hanya membunuh mikroorganisme, tetapi tidak menghilangkan abu halus, fluorida, garam terlarut, atau logam berat. Bahkan, penguapan selama perebusan berpotensi memekatkan bahan kimia terlarut,” ucapnya.

Abu vulkanik juga dapat mengganggu kehidupan ikan. Secara fisik, partikel abu dapat menempel pada insang, menyebabkan peradangan, menghambat pertukaran oksigen, dan memicu stres pernapasan. Kekeruhan tinggi juga mengurangi penetrasi cahaya sehingga fotosintesis fitoplankton dan tumbuhan air menurun.

“Jika paparannya sangat tinggi, ikan dapat mengalami gangguan fisiologis, kerusakan jaringan, perubahan perilaku, penurunan pertumbuhan, bahkan kematian,” kata Prof Etty.

Menurut Prof Etty, kematian langsung terutama berisiko terjadi pada kolam budi daya yang kecil, dangkal, padat ikan, dan memiliki pergantian air terbatas. Penurunan oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), perubahan pH secara mendadak, hingga penyumbatan aerator dan pompa dapat memperparah kondisi.

Untuk itu, Prof Etty menyarankan agar sumur, bak, tandon, dan wadah penyimpanan air ditutup. Air hujan pertama setelah erupsi sebaiknya tidak ditampung, sementara atap dan talang perlu dibersihkan sebelum kembali digunakan.

“Masyarakat sebaiknya tidak membuang abu ke selokan, sungai, dan kolam. Untuk minum dan memasak, sebaiknya menggunakan air kemasan atau pasokan resmi,” tuturnya.

Kepada pembudi daya ikan, Prof Etty merekomendasikan kolam agar ditutup sebagian dengan terpal tanpa menghambat pertukaran udara, aerasi ditingkatkan, serta DO, pH, kekeruhan, suhu, dan perilaku ikan dipantau secara berkala. 

“Jika ikan megap-megap atau kehilangan keseimbangan, segera lakukan langkah penyelamatan dan gunakan air pengganti yang telah dipastikan aman,” ucap Prof Etty.

Risiko kesehatan

Terpisah, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY), Dr. dr. Merita Arini, MMR., menjelaskan bahwa risiko kesehatan akibat abu vulkanik dipengaruhi oleh konsentrasi dan durasi paparan serta kondisi kesehatan setiap individu.

“Risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jumlah atau konsentrasi abu, durasi paparan, dan kondisi individu yang terpapar. Jadi, risikonya tidak bisa hanya dilihat dari seberapa jauh seseorang berada dari sumber erupsi, tetapi juga dari dosis paparan dan kerentanan setiap orang,” kata Dr. Merita pada Rabu (9/9/2026).

Dr. Merita mengatakan, abu vulkanik memiliki ukuran partikel yang beragam. Partikel berukuran besar umumnya dapat tertahan oleh sistem pertahanan alami tubuh, termasuk rambut hidung dan mekanisme pembersihan mukosiliar atau mucociliary clearance.

Namun, partikel yang sangat halus dapat menembus lebih jauh ke dalam sistem pernapasan. Partikel dengan diameter aerodinamis sekitar 4 mikrometer atau lebih kecil termasuk fraksi (respirable) yang berpotensi mencapai alveolus, yakni bagian paru-paru tempat pertukaran gas berlangsung.

“Tubuh manusia yang sehat sebenarnya memiliki mekanisme untuk mengeluarkan partikel yang masuk ke saluran pernapasan. Namun, ketika partikelnya sangat kecil, sebagian dapat mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam. Dampak yang paling umum biasanya berupa iritasi, seperti batuk, sakit tenggorokan, dan gangguan pada mata,” ujar Dr. Melita.