Minggu, 13 September 2026

            

Berita

Faktor Tambahan Ini Memperparah Pemanasan Global hingga 30%

Bentang alam yang melepaskan emisi akibat memanasnya suhu bumi dapat memperparah krisis iklim.

Minggu, 13 September 2026
Dua personel Manggala Agni tengah melakukan upaya pemadaman kebakaran di Riau. Foto: Manggala Agni.
Dua personel Manggala Agni tengah melakukan upaya pemadaman kebakaran di Riau. Foto: Manggala Agni.

BETAHITA.ID - Kenaikan suhu global akibat pembakaran bahan bakar fosil sedang mengubah hutan, lahan basah, dan tundra dunia hingga ke titik di mana ekosistem tersebut melepaskan emisi yang dapat memperparah pemanasan global sebesar 30%. 

Seiring memanasnya suhu dunia, lapisan tanah beku abadi (permafrost)di wilayah lintang tinggi pun mulai mencair, kebakaran hutan yang lebih hebat melanda hutan yang kian mengering, dan suhu lahan basah dan danau turut meningkat, menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters, Kamis, 10 September 2026. 

Laporan tersebut menyatakan, semua perubahan ini memicu pelepasan metana dan karbon dioksida–gas penyebab pemanasan bumi yang sebelumnya tersimpan dalam pepohonan dan tanah–sehingga memperburuk krisis iklim. 

Meskipun para ilmuwan telah lama mengetahui adanya “mekanisme umpan balik” yang memperkuat dampak polusi langsung dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas, emisi dari sumber alami ini sebagian besar belum diperhitungkan dalam proyeksi iklim. 

Para peneliti menemukan, tambahan pemanasan ini tergolong signifikan. Emisi dari sumber alami diperkirakan akan memperkuat pemanasan global sebesar 20% hingga 30% menjelang akhir abad ini. Hal ini diprediksi akan menambah rata-rata suhu global sebesar 0,2°C hingga 0,4°C pada masa tersebut, bergantung pada langkah-langkah menyeluruh yang diambil berbagai negara untuk mengatasi krisis iklim.

Bahkan perubahan suhu yang kecil dalam iklim global dapat secara signifikan mengubah risiko gelombang panas yang parah dan mematikan, banjir, kekeringan, serta dampak-dampak lainnya.

Pekan lalu PBB mengakui bahwa kesepakatan internasional untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri akan terlampaui dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini menyebabkan dampak iklim—seperti gelombang panas ekstrem dan kebakaran hutan yang memecahkan rekor pada musim panas ini—terjadi lebih cepat, berdampak lebih parah, dan berlangsung lebih lama.

Namun, penelitian baru ini memperingatkan, kenaikan suhu bumi kemungkinan akan jauh lebih besar daripada yang diperkirakan dalam sebagian besar proyeksi saat ini. Hal ini dikarenakan proyeksi tersebut tidak memperhitungkan emisi metana dan CO2 yang akan dilepaskan dari lapisan permafrost, lahan basah, perairan tawar, dan kebakaran hutan—empat area yang dianalisis dalam makalah penelitian tersebut.

"Faktor peningkat dampak yang tersembunyi ini luput dari model-model yang menjadi acuan kebijakan iklim. Akibatnya, model-model tersebut kemungkinan meremehkan tingkat pemanasan yang akan terjadi di masa depan—sekaligus melebih-lebihkan seberapa banyak emisi karbon yang masih bisa kita lepaskan," ujar Sam Abernethy, ilmuwan dari Spark Climate Solutions yang memimpin penelitian tersebut. 

Rob Jackson, ilmuwan dari Standford University dan salah satu penulis studi tersebut mengatakan, hasil penelitian tersebut penting untuk menjadi pertimbangan dalam rencana dan kebijakan iklim pada generasi berikutnya. 

“Hasil penelitian ini merupakan peringatan keras, dan sangat penting untuk memasukkan temuan ini ke dalam kebijakan iklim generasi berikutnya. Jika hal ini tidak dilakukan, peluang untuk mencapai target iklim global akan semakin kecil,” kata Jackson. 

Terdapat kekhawatiran yang telah lama ada bahwa jika pemanasan global menyebabkan mencairnya lapisan es Greenland dan Antartika dalam jumlah besar, mencairnya lapisan tanah beku, terganggunya arus laut yang vital, serta berubahnya hutan hujan Amazon menjadi sabana, maka dunia akan melampaui serangkaian titik kritis yang membawa bencana—di mana sistem iklim menjadi kacau tak terkendali dan berada di luar kendali manusia.

Makalah baru ini menegaskan, langkah negara-negara untuk memangkas polusi bahan bakar fosil tetap akan mengurangi jumlah emisi tambahan yang berasal dari bentang alam.

Berdasarkan skenario iklim paling optimistis di mana emisi dipangkas secara cepat, sumber-sumber alami diperkirakan akan menambah pemanasan sebesar 0,2°C. Sementara itu, dalam skenario terburuk dengan tingkat emisi yang lebih tinggi, tambahan pemanasan sebesar 0,4°C kemungkinan besar akan terjadi.

Menurut Climate Action Tracker, kebijakan yang saat ini diterapkan oleh berbagai pemerintah diperkirakan akan menyebabkan kenaikan suhu global hingga 2,6°C di atas tingkat masa pra-industri. Hal ini kemungkinan besar akan menimbulkan gangguan parah dan kesengsaraan bagi miliaran orang akibat kenaikan permukaan laut, gagal panen, dan berbagai dampak lainnya.