Berita
El Nino Ditaksir Sebabkan Kematian 19 Ribu WNI
Banyak kematian diperkirakan akan terjadi akibat kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir yang ditimbulkan oleh El Nino.
Sabtu, 26 September 2026

BETAHITA.ID - Indonesia menjadi negara kedua dari 10 negara yang paling terdampak dari kematian yang disebabkan oleh suhu panas yang dipicu fenomena super El Nino.
Menurut perkiraan para ilmuwan iklim dalam analisis terbaru, lebih dari 450.000 jiwa diperkirakan akan meninggal dunia akibat suhu panas ekstrem hingga Februari 2027. Indonesia diperkirakan akan mengalami 19.251 kematian, kedua tertinggi setelah Nigeria dengan proyeksi kematian sebanyak 31.320 jiwa.
Angka kematian dalam laporan ini merupakan tambahan dari kematian dini yang sudah terjadi akibat kenaikan suhu akibat krisis iklim. Dampaknya akan terasa di seluruh dunia, mulai dari Indonesia hingga India, serta Nigeria hingga Amerika Serikat. Banyak lagi kematian yang diperkirakan akan terjadi akibat kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir yang ditimbulkan oleh El Nino.
"Angka perkiraan 451.000 jiwa merupakan jumlah yang sangat besar hingga terasa mencengangkan, namun angka ini mencakup orang tua dan anak-anak, kakek-nenek dan tetangga, serta orang-orang yang pergi bekerja, mengurus keluarga, dan menjalani kehidupan mereka," ujar Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab di Universitas Chicago yang juga turut menyusun laporan tersebut, Rabu, 23 September 2026.
El Niño merupakan fenomena iklim alami, namun dampaknya dapat diperparah oleh pemanasan global. Saat ini El Nino tengah memanaskan bumi dan telah melampaui rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat sebelumnya, beberapa bulan sebelum puncak yang diperkirakan. Tingkat panas yang jauh melampaui peristiwa sebelumnya juga membuat para ilmuwan menyebutnya berskala “Godzilla”.
Perkiraan jumlah kematian ini mencakup periode dari Juni 2026—saat sebagian kematian akibat panas diperkirakan sudah terjadi—hingga Februari 2027, yaitu batas akhir dari prakiraan suhu saat ini. Namun, tingkat kematian akibat panas yang tinggi diperkirakan akan terus berlanjut hingga Juni atau Juli 2027.
Negara-negara yang paling terdampak dalam enam bulan ke depan adalah negara-negara tropis, yaitu Nigeria, Indonesia, Sudan, India, dan Brasil. Amerika Serikat termasuk dalam daftar 20 negara yang paling terdampak, dengan proyeksi tambahan 3.500 kematian akibat panas. Secara lebih luas, wilayah Sahel di Afrika dan Asia Tenggara juga terdampak parah.
Estimasi kematian akibat suhu panas ini dilakukan pada tingkat regional. Para peneliti menyatakan bahwa proyeksi tersebut dapat membantu menentukan lokasi penerapan langkah-langkah perlindungan bagi masyarakat guna menyelamatkan nyawa.
Langkah-langkah tersebut dapat mencakup prakiraan suhu panas yang lebih akurat, penyediaan pusat pendingin sebagai tempat berlindung, penambahan staf medis pada saat suhu mencapai puncaknya, serta perlindungan bagi pekerja lapangan.
"Meningkatkan respons darurat dan menargetkan upaya kita dengan lebih baik dapat menyelamatkan banyak nyawa tahun ini," ujar Tamma Carleton dari University of California, Berkeley dan salah satu penulis laporan.
"Namun, 20 tahun dari sekarang—ketika suhu ekstrem saat ini menjadi kenormalan baru—kita tentu tidak ingin terus-menerus berada dalam situasi darurat. Kita perlu bergerak sekarang untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi berbagai sarana yang akan menyelamatkan nyawa di masa mendatang," katanya.
Proyeksi ini dibuat menggunakan metode yang telah melalui tinjauan sejawat (peer-reviewed) untuk melacak hubungan bulanan antara suhu dan kematian tambahan akibat panas di 24.378 wilayah di seluruh dunia. Data tersebut dipadukan dengan prakiraan kenaikan suhu akibat fenomena El Niño dalam beberapa bulan ke depan. Angka dasar yang digunakan adalah jumlah kematian akibat panas pada bulan rata-rata dalam kurun waktu 1996 hingga 2025.
"Selama ini, orang sudah mampu memprediksi kapan akan terjadi gangguan pada tanaman pangan dan memberikan peringatan dini terkait hal tersebut," kata Greenstone.
"Laporan baru ini membuka peluang untuk melakukan hal serupa bagi dampak yang jauh lebih penting—bahkan bisa saya katakan dampak yang paling penting—yaitu kematian," ujarnya.
Pasokan pangan juga akan terdampak oleh El Nino. Agustus lalu, Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa dampaknya kemungkinan akan menyebabkan sekitar 50 juta orang mengalami kelaparan akut dan memicu kenaikan harga. Peristiwa El Niño besar pada 1877-1878 juga mengakibatkan lebih dari 50 juta kematian akibat kekeringan dan kelaparan, dengan India, Brasil, dan Tiongkok sebagai wilayah yang terdampak paling parah.




