Berita
Data Center Incar Perairan dan Pulau Indonesia
Proyek pembangunan Data Centre ini tak lepas dari ancaman ekologi dan sosial.
Sabtu, 26 September 2026

BETAHITA.ID - Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menawarkan pulau-pulau Indonesia sebagai lokasi pembangunan pusat data kepada investor. Namun proyek ini tak lepas dari ancaman ekologi dan sosial.
Tawaran ini diberikan Bahlil saat membuka acara Electricity Connect 2026 yang digelar di Tangerang, Banten, Selasa (22/9/2026). Ia menyebutkan wilayah luas dengan banyak pulau yang masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan investasi, salah satunya adalah operasional pusat data (data center).
“Bapak-ibu semua, tidak perlu ragu para investor kalau membangun data center di Indonesia. Wilayah kami ini wilayah yang terbesar di kawasan Asia Tenggara, pulau kami masih terlalu banyak,” ucap Bahlil.
Produksi listrik Indonesia juga kompetitif untuk pemenuhan kebutuhan listrik untuk data center tidak menjadi masalah. Indonesia memiliki banyak potensi sumber energi baru terbarukan.
Namun tawaran ini bukan tanpa harga ekologis dan sosial.
Fasilitas fisik berupa ruangan atau gedung untuk menempatkan, mengelola, menyimpan, dan memproses data serta sistem komputer berskala besar ini membutuhkan listrik dan sumber daya air yang sangat besar.
Manajer Riset Trend Asia, Zakki Amali, menyebutkan air dalam skala besar dibutuhkan pada sistem pendingin untuk Data Center. Saat ini setidaknya ada beberapa metode pendinginan, yakni menggunakan cooling system udara (AC), evaporasi air, hingga perendaman.
Namun pada data center di Batam, yakni proyek EGS AI Data Centre di Teluk Mata Ikan di Nongsa, kebutuhan air dipenuhi dengan penggunaan air permukaan.
“Pada beberapa daerah yang krisis air sudah terjadi konflik rebutan air ini,” ujarnya.
Selain itu proyek di Batam ini masih menggantungkan pada pasokan listrik dari PLN. Ke depan, mereka merencanakan pemenuhan listrik melalui PLTU captive.
Ini, kata Zakki, menimbulkan masalah lagi karena soal kapasitas listrik yang tidak seimbang sekaligus kehadiran PLTU yang menjadi biang karbon.
Menurutnya tawaran Bahlil soal pulau-pulau yang dijadikan lokasi data center tentu tak jauh dari permukiman karena lokasi pembangunan harus memiliki akses internet. Data Center yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan storage bagi pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelegence/ AI).
Saat ini pun pembangunan pusat data lebih menyasar kawasan ekonomi khusus (KEK) seperti di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jika pembangunan berada di dekat area pertanian berpotensi menimbulkan konflik terkait kebutuhan air untuk masyarakat maupun tanaman.
Terpisah, pada diskusi “Proyek Data Center dan Tantangan Pengelolaan Sumber Daya Energi dan Air di Batam” saat Festival Media Selat Malaka (FESMED) 2026 di Politeknik Negeri Batam, Minggu lalu (20/9/2026), Direktur Promosi dan Fasilitasi Investasi BP Batam, Dendi Gustinandar, mengatakan pengembangan data center menjadi bagian dari investasi yang terus didorong di Batam, termasuk di kawasan Nongsa.
Namun, kebutuhan sumber daya untuk menopang industri tersebut menjadi perhatian pemerintah.
Batam memiliki keterbatasan sumber air baku karena tidak memiliki sumber air alami yang besar. Ketersediaan air di Batam selama ini sangat bergantung pada curah hujan yang ditampung melalui waduk.
“Batam adalah daerah yang tidak punya sumber air. Air kita berasal dari curah hujan. Karena itu sejak dulu Batam membangun proyek waduk, saat ini ada delapan waduk,” kata Dendi dalam diskusi.
Saat ini pemerintah terus berupaya memitigasi kebutuhan air dan listrik seiring masuknya investasi baru, termasuk proyek-proyek data center.




