Senin, 21 September 2026

            

Berita

Induk dan Anak Orangutan Diselamatkan dari Kebun Sawit di Pelang

Sejak Agustus, sebanyak 25 orangutan terpaksa dievakuasi karena rumahnya dibakar.

Senin, 21 September 2026
Sepasang induk dan anak orangutan diselamatkan dari perkebunan sawit di Desa Pelang, pada 18 Septemebr 2026. Sumber: YIARI.
Sepasang induk dan anak orangutan diselamatkan dari perkebunan sawit di Desa Pelang, pada 18 Septemebr 2026. Sumber: YIARI.

BETAHITA.ID - Sepasang induk dan anak orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) terpaksa dievakuasi karena terjebak di perkebunan sawit di Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Dua individu orangutan ini, yang selanjutnya diberi nama Mama Lifa dan Lifa, diduga merupakan korban bencana pembakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluluhlantakkan habitatnya.

Keberadaan dua orangutan di perkebunan sawit ini awalnya dilaporkan oleh masyarakat melalui call center BKSDA Kalbar, pada 16 September 2026. Sebagai tindak lanjut atas laporan itu, tim Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (SKSDA) Wilayah Ketapang bersama Orangutan Protection Unit (OPU) Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan verifikasi ke lokasi pada Kamis (17/9/2026).

Hasil verifikasi memastikan keberadaan induk orangutan bersama anaknya di area yang sangat terbatas. Keduanya bertahan di antara beberapa pohon akasia dengan luas area sekitar 400 meter persegi. Area tersebut dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan tidak lagi menyediakan sumber pakan yang memadai bagi orangutan. 

Kondisi sekitar lokasi juga telah dibakar. Melihat kondisi habitat yang semakin terbatas dan tidak tersedianya sumber pakan, tim memutuskan untuk melakukan evakuasi terhadap kedua orangutan tersebut pada Jumat (18/9/2026).

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dengan tetap mengutamakan keselamatan orangutan, tim menggunakan senapan bius untuk melakukan evakuasi. Setelah kedua orangutan berhasil dievakuasi dan dipindahkan ke tempat yang aman, tim medis segera melakukan pemeriksaan kesehatan.

Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan luka bakar maupun luka lainnya pada Mama Lifa maupun Lifa. Meskipun begitu suhu tubuh Mama Lifa cukup tinggi dan mencapai 39,5°C. Tim medis segera memberikan pengobatan, support infus dan oksigen kepada Mama Lifa. Berdasarkan pemeriksaan pada gigi, Mama Lifa diperkirakan berusia sekitar 15 tahun dan Lifa diperkirakan berusia 1-2 bulan.

“Keberadaan Mama Lifa dan Lifa menunjukkan bagaimana orangutan dapat bertahan di area yang sangat terbatas ketika habitat di sekitarnya sudah tidak lagi mendukung. Dalam kasus ini, mereka hanya memiliki beberapa pohon akasia sebagai tempat bertahan, sementara area di sekelilingnya merupakan perkebunan kelapa sawit dan sebagian telah terbakar,” ujar Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program YIARI, pada Sabtu (19/9/2026). 

Argitoe menuturkan, keputusan untuk melakukan evakuasi dilakukan setelah tim memastikan kondisi lokasi dan keberadaan kedua orangutan tersebut. Karena area yang tersedia sangat kecil dan sumber pakan tidak memadai, risiko bagi orangutan menjadi semakin besar. 

"Karena itu, setelah verifikasi dilakukan dan kondisi lapangan dipastikan, kami bersama BKSDA memutuskan untuk melakukan penyelamatan terhadap induk dan anak ini,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, memberi apresiasi kepada masyarakat yang telah peduli dan segera melaporkan keberadaan orangutan ini melalui Call Center BKSDA Kalimantan Barat. Menurutnya, respons cepat dari masyarakat sangat membantu timnya memperoleh informasi awal sehingga tim dapat segera melakukan verifikasi dan mengambil langkah penanganan di lapangan. 

"Kami mengimbau masyarakat untuk terus berperan aktif dengan melaporkan apabila menemukan orangutan atau satwa liar lainnya yang berada dalam kondisi terancam, khususnya di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan," katanya. 

Murlan mengatakan, masyarakat tidak perlu melakukan penanganan sendiri terhadap satwa korban bencana karhutla. Cukup sampaikan informasi kepada BKSDA Kalbar melalui Call Center BKSDA Kalimantan Barat di 0811-5670-041 atau 0811-5776-767 agar dapat ditindaklanjuti bersama pihak terkait dengan cara yang aman bagi masyarakat maupun satwa.

Dengan dievakuasinya Mama Lifa dan Lifa, maka sudah ada sekitar 25 individu orangutan yang telah dievakuasi dan diselamatkan akibat bencana karhutla ini, sejak Agustus 2026. Daari 25 orangutan yang diselamatkan ini, 6 individu di antaranya telah ditranslokasi ke habitat orangutan yang lain, yakni 1 ke konsesi PT MPK dan 5 individu lainnya ke Taman Nasional Gunung Palung.

Selain orangutan, tim BKSDA Kalbar besama YIARI juga melakukan penyelamatan terhadap individu satwa liar lainnya yang juga menjadi korban bencana karhutla, yang terdiri atas 9 trenggiling, 3 kukang, 1 bekantan, 1 musang, dan 1 lutung kelabu. Tim juga tetap melakukan pemantauan satwa pada kawasan terbakar dan menyiagakan tim medis selama 24 jam.