Minggu, 20 September 2026

            

Berita

Ada Parasit Cacing Pita di Tubuh Komodo Liar

Peningkatan beban parasit akibat perubahan habitat atau stres lingkungan dapat mengancam daya tahan hidup komodo.

Minggu, 20 September 2026
Sejumlah komodo berebut makanan./Foto: KLHK
Sejumlah komodo berebut makanan./Foto: KLHK

BETAHITA.ID - Sejumlah peneliti mengidentifikasi parasit pada predator puncak kepulauan Nusa Tenggara Timur, Komodo (Varanus komodoensis). Temuan ini menjadi alarm tentang risiko persebaran parasit seiring kian seringnya interaksi antara komodo dengan manusia. 

Parasit tersebut adalah cacing pita endemik Kapsulotaenia sandgroundi dengan prevalensi 6,67 persen. Parasit ini memiliki adaptasi berupa kapsul pelindung ganda pada telurnya sehingga mampu bertahan hidup pada lingkungan peralihan antara ekosistem sabana tropis yang lebih basah dan ekosistem gurun yang sangat kering sabana (semi-arid) yang menjadi habitat komodo.

Temuan parasit ini merupakan hasil penelitian keragaman parasit pada komodo liar di habitat alami dengan pendekatan multidisiplin. Pendekatan ini memadukan parasitologi klasik, taksonomi molekuler, dan ekologi lanskap dalam kerangka One Health. 

Guru Besar Bidang Parasitologi FKH UGM, Wisnu Nurcahyo, mengatakan penelitian ini menunjukkan parasit tidak hanya dipandang sebagai penyebab penyakit, tetapi juga dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem. Temuan ini merupakan tonggak penting bagi kedokteran hewan satwa liar. 

“Parasit bukan sekadar patogen, melainkan indikator integritas ekologis. Ledakan populasi ektoparasit dan interaksinya dengan lingkungan serta manusia memproyeksikan perlunya manajemen biosekuriti yang lebih strategik,” ungkapnya seperti dikutip dari website UGM pada Kamis (2/7/2026).

Penelitian disertasi melalui skema Joint Supervision ini dibimbing oleh Prof. Dr. med. vet. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, Dr. drh. Dwi Priyowidodo, M.P., serta Assoc. Prof. MVDr. Ivona Foitová, Ph.D., dari Masaryk University, Republik Ceko.

Akademisi UGM yang melakukan penelitian Aji Winarso menyebutkan penelitian ini menyoroti aspek kesehatan komodo liar yang masih belum banyak dikaji dalam konservasi. Sebagian besar penelitian masih lebih menitikberatkan pada populasi dan ekologi. Padahal penyakit dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa endemik yang hidup di pulau-pulau kecil. 

“Kami ingin membangun baseline data mengenai patogen dan parasit komodo sebagai dasar untuk mendeteksi ancaman penyakit sejak dini, terutama di tengah meningkatnya interaksi komodo dengan manusia akibat aktivitas pariwisata,” ujarnya.

Penelitian diawali dengan pemenuhan aspek legal melalui ethical clearance dan perizinan akses sumber daya genetik dari Kementerian Kehutanan. Tim peneliti kemudian melakukan observasi habitat dan pengambilan sampel biologis berupa feses, darah, serta ektoparasit komodo liar.

Sampel ini diidentifikasi secara morfologis untuk memastikan identitas setiap parasit. Lalu tim menganalisis menggunakan metode molekuler sehingga hasil identifikasi dapat dipastikan secara lebih akurat.

Aji mengatakan keberadaan cacing di saluran pencernaan maupun caplak pada kulit komodo merupakan kondisi lazim di alam liar. Namun, peningkatan beban parasit akibat perubahan habitat atau stres lingkungan dapat mengancam daya tahan hidup komodo.

Ia menyoroti temuan caplak komodo yang menggigit manusia di Pulau Rinca sebagai sinyal penting bagi pengelola kawasan konservasi. Caplak berpotensi menjadi vektor berbagai mikroorganisme patogen sehingga interaksi yang terlalu dekat antara komodo, satwa mangsa seperti rusa dan babi, serta manusia di kawasan wisata dapat meningkatkan risiko spillover atau lompatan penyakit. 

“Jika terjadi interaksi yang terlalu dekat tanpa batas antara komodo, satwa mangsa (seperti rusa dan babi), dan manusia di zona wisata, risiko lompatan penyakit sangat nyata,” ungkapnya.

Ia menyarankan pengelola Taman Nasional Komodo (TNK) dan pemerintah agar membangun sistem cegah dini kesehatan berbasis one health. Pengelola arus rutin memantau tren parasit pada komodo secara berkala, memastikan satwa mangsanya bebas dari penyakit menular, dan memperkuat biosekuriti bagi petugas dan wisatawan agar rantai penularan zoonosis bisa terputus.