Berita
2025, Salah Satu Tahun Terkering Sungai di Dunia
Jumlah air tawar yang tersimpan di permukaan maupun di bawah tanah berada 42% di bawah tingkat normal di seluruh dunia pada tahun lalu.
Minggu, 20 September 2026
BETAHITA.ID - Sebuah studi komprehensif mengenai sumber daya air global menemukan bahwa sungai-sungai di seluruh dunia mengalami salah satu tahun terkering dalam lebih dari tiga dekade pada 2025.
Penilaian terhadap siklus air global yang dilakukan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengungkapkan adanya penyusutan pada cadangan air dunia. Jumlah air tawar yang tersimpan di permukaan maupun di bawah tanah—termasuk air tanah, danau, sungai, salju, es, serta kelembapan di dalam tanah maupun di dalam tanaman dan pepohonan—berada 42% di bawah tingkat normal di seluruh dunia pada tahun lalu.
Dampak krisis iklim terhadap cuaca ekstrem dan munculnya fenomena yang disebut sebagai weather whiplash (perubahan cuaca ekstrem yang mendadak dan drastis) memicu siklus air yang semakin tidak menentu dan sulit diprediksi. Mulai dari mencairnya gletser hingga kekeringan ekstrem dan banjir bandang, sungai-sungai di dunia terus mengalami fluktuasi antara kondisi kelebihan dan kekurangan air yang parah.
Dalam tujuh tahun terakhir, tercatat jumlah sungai dengan aliran "normal" paling sedikit di seluruh dunia sejak 1991. Pada 2025—salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat—hanya sekitar sepertiga sungai berada dalam kisaran normal. Sementara itu, 36% wilayah daerah aliran sungai global mengalami debit di bawah atau jauh di bawah normal, dan 21% mengalami debit di atas atau jauh di atas normal. Data ini berasal dari studi WMO yang menggunakan simulasi dari 13 model hidrologi global yang didasarkan pada data hasil pengamatan cuaca.
"Kita sedang menguras 'rekening tabungan' tersebut. Cadangan air daratan global telah menunjukkan tren penurunan sejak periode 2014–2016—sebuah sinyal yang terus berlanjut selama satu dekade," kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo, Kamis, 17 September 2026.
Menurut laporan tersebut, tahun lalu, untuk tahun keempat berturut-turut, 19 wilayah gletser utama dunia mengalami penyusutan massa es. Gletser telah mengalami kehilangan massa es terbesar sejak 1990-an, dengan penyusutan paling masif terjadi pada masa-masa terkini. Pada 2025 saja, hilangnya massa es mencapai 400 gigaton, yang berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global sebesar 1,1 mm.
Analisis ini merupakan penilaian komprehensif berbasis sains terhadap keseluruhan siklus air, termasuk aliran sungai, air tanah, penguapan dan transpirasi, penyimpanan air di daratan, serta salju dan es. Wayne Jenkinson, direktur hidrologi WMO, menyatakan bahwa penelitian ini merupakan seruan untuk bertindak dalam menghadapi kondisi global di mana sumber daya air terus menyusut.
"Kita perlu melipatgandakan upaya untuk meningkatkan pemahaman kita mengenai sumber daya air secara global," kata Jenkinson.
"Hal ini menuntut peningkatan pengumpulan dan pertukaran data; itulah cara kita meningkatkan pemahaman serta perlindungan bagi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Studi ini diterbitkan di tengah kondisi sungai-sungai di seluruh dunia yang sedang menghadapi berbagai ancaman akibat kekeringan yang dipicu oleh krisis iklim, polusi, dan eksploitasi berlebihan.
Dampaknya terhadap sistem sungai kita juga membawa konsekuensi langsung bagi masyarakat, kesejahteraan, dan perekonomian global.
Penelitian WMO menunjukkan bahwa ancaman terhadap sungai terus berlanjut dan, dalam beberapa kasus, kian memburuk. Menurut laporan tersebut, pada 2025—untuk tahun ketujuh berturut-turut—jumlah daerah aliran sungai dengan kondisi "normal" berada dalam kelompok minoritas yang nyata, yakni berkisar antara 34% hingga 38%, dibandingkan dengan rata-rata 46% pada kondisi normal antara tahun 1991 dan 2020.
Selama lima tahun analisis WMO berlangsung (2021–2025), debit sungai yang terus-menerus berada di bawah tingkat normal teramati di sebagian besar wilayah daerah aliran sungai Amazon dan La Plata, Amerika Utara, Afrika bagian tengah dan timur, Asia Tengah, serta Timur Tengah.
Sementara itu debit sungai yang berada di bawah normal hingga jauh di bawah normal berdampak pada sebagian besar wilayah Amerika Utara, cekungan La Plata dan São Francisco di Amerika Selatan, cekungan Eropa Timur, Timur Tengah, serta Asia Tengah.
Dalam lima tahun terakhir, layanan meteorologi dan hidrologi nasional di seluruh dunia melaporkan kejadian banjir dan kekeringan yang memecahkan rekor. Di beberapa tempat, tidak ada jeda waktu pemulihan di antara kejadian-kejadian tersebut.




