Sabtu, 19 September 2026

            

Berita

Laut Indonesia: Jalur Maut Hiu Paus

Hiu paus dilindungi di Australia, tapi mereka bermigrasi ke Indonesia dan kegiatan penangkapan ikan. Perlu Konservasi internasional.

Sabtu, 19 September 2026
Hiu paus diketahui bermigrasi antara Australia, Indonesia, Mikronesia, Papua Nugini, dan samudra lepas. Sumber: Adobe Stock, Ollie.
Hiu paus diketahui bermigrasi antara Australia, Indonesia, Mikronesia, Papua Nugini, dan samudra lepas. Sumber: Adobe Stock, Ollie.

BETAHITA.ID - Memahami jalur migrasi hiu dan pari adalah kunci untuk melestarikan beberapa spesies laut yang paling terancam punah di Dunia. Demikian menurut penelitian baru dari Universitas Queensland, yang diterbitkan dalam jurnal Conservation Biology.

Para peneliti dari School of the Environment menganalisis data pelacakan satelit, studi akustik, dan studi penandaan-penangkapan ulang selama 30 tahun untuk memetakan bagaimana spesies hiu yang bermigrasi menghubungkan perairan Australia dengan negara-negara tetangga.

"Kami menyaring 29 spesies yang ditemukan di perairan Australia, mengembangkan model jaringan, dan membangun garis dasar konektivitas migrasi lintas batas pertama untuk hiu dan pari Australia," kata kandidat PhD Diego Bezerra, pada 16 September 2026.

Hal ini, lanjut Bezerra, memungkinkan para peneliti mengidentifikasi spesies mana yang memerlukan kerja sama internasional untuk mendukung pemulihannya, dan juga mengungkap kesenjangan besar dalam data yang tersedia.

Penelitian ini mengidentifikasi hiu paus, hiu biru, hiu mako sirip pendek, hiu sekolah, dan hiu putih yang melintasi perbatasan internasional. Beberapa di antaranya melakukan perjalanan sejauh Afrika Selatan, Selandia Baru, Indonesia, Mikronesia, serta ke wilayah lepas pantai di luar yurisdiksi nasional.

Bezerra mengatakan bahwa perjalanan jauh ini dapat membuat hiu dan pari terpapar ancaman di berbagai yurisdiksi dan melintasi batas-batas politik.

“Hiu terancam oleh penangkapan berlebihan dan tertangkap secara tidak sengaja saat spesies lain menjadi sasaran—hiu biru dan hiu sekolah sangat rentan menjadi tangkapan sampingan,” katanya.

Associate Professor Daniel Dunn mengatakan bahwa penelitian ini juga menyoroti kesenjangan yang signifikan dalam pengetahuan ilmiah. Dari 29 spesies hiu dan pari di perairan Australia yang terdaftar dalam Konvensi Konservasi Spesies Migran (CMS), 18 spesies atau 62 persen di antaranya, tidak memiliki informasi pergerakan yang dipublikasikan.

"Anda tidak dapat mengelola spesies migran hanya dengan melihat satu bagian dari migrasi mereka," kata Dr Dunn.

Dr Dunn mengatakan, dua pertiga dari spesies yang pihaknya teliti tidak memiliki informasi, dan para peneliti tidak dapat mengelola spesies atau menyusun kebijakan jika tidak memiliki informasi sama sekali.

Salah satu masalah besar yang peneliti hadapi, sambung Dr Dunn, adalah satwa-satwa laut ini tidak bernapas dengan udara dan tidak secara teratur muncul ke permukaan, sehingga jauh lebih sulit untuk diberi penanda dan dideteksi. Sementara kelompok taksonomi lain, seperti burung, jauh lebih mudah dilihat dan dilacak, sehingga memiliki data pergerakan yang jauh lebih banyak. 

"Kami menemukan 8 spesies dengan data yang cukup untuk membangun model jaringan dan mengidentifikasi 5 spesies yang melintasi perbatasan internasional, sehingga diperlukan upaya yang jauh lebih besar untuk memahami pola migrasi hewan-hewan ini," katanya.

Bezerra mengatakan bahwa temuan tersebut menyoroti pentingnya memahami bagaimana pergerakan hiu dan ikan pari, serta ancaman yang mereka hadapi, melampaui batas-batas negara. Ia mengatakan, Australia relatif berhasil dalam hal perlindungan, tetapi negara-negara lain tidak selalu memiliki kapasitas yang sama untuk menerapkan langkah-langkah yang tegas. 

“Misalnya, hiu paus dilindungi di sini, tetapi mereka bermigrasi ke Indonesia di mana kegiatan penangkapan ikan dapat membahayakan mereka. Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan tingkat perlindungan antar negara. Penting juga bagi Australia untuk mendukung negara-negara tetangga melalui kerja sama serta berbagi teknologi dan informasi,” ucap Bezzera.