Berita
Gajah Diego Meninggal di PLG Minas
Berdasarkan hasil bedah bangkai, Gajah Diego diduga meninggal akibat infeksi saluran pencernaan kronis.
Sabtu, 19 September 2026

BETAHITA.ID - Kabar duka kembali menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak bernama Diego, binaan Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, meninggal pada Rabu (16/9/2026) pukul sekitar 12.00 WIB, setelah tim dokter hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berjuang secara intensif memberikan perawatan medis selama beberapa hari.
Plh. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Ujang Holisudin, menjelaskan, gajah berusia kurang lebih 17 tahun itu sudah menampakkan gejala sakit sejak 10 September 2026. Saat itu Gajah Diego mengalami penurunan kondisi kesehatan dengan kotoran mencret dan nafsu makan berkurang.
Atas kondisinya tersebut tim medis BBKSDA Riau kemudian segera melakukan pemeriksaan dan dalam diagnosa awal Gajah Diego mengalami cacingan, karena ditemukan beberapa cacing dalam kotoran yang dikeluarkan. Tim medis selanjutnya melakukan pemberian obat antibiotik, antiradang antiinflamasi, dan pemberian obat cacing.
Menurut tim medis, setelah beberapa hari pengobatan secara intensif, nafsu makan Gajah Diego meningkat, dan kotorannya juga sudah berbentuk. Namun tindakan pengobatan terus dilakukan sampai kondisi kondisinya membaik. Sembari diobati, tim medis melakukan pemeriksaan feses di Laboratorium PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo di Pekanbaru dan dinyatakan negatif dari cacing.
Namun pada 15 September 2026, mahoutnya melaporkan bawha Gajah Diego kembali mengalami sakit. Ia tidak mau makan sama sekali, mengalami diare dengan frekuensi sering, dengan bentuk kotorannya yang keluar hanya berupa cairan, dan kondisi fisik sangat lemah.
Tak hanya itu, menurut mahout, aktivitas minum gajah jantan ini juga sangat minim. Gajah Diego hanya minum 5 tegukan pada pagi hari, siang hari ketika akan diberi obat ia minum 3 tegukan, dan sore saat dimandikan hanya 1 tegukan.
"Tim medis BBKSDA Riau segera melakukan pengobatan, dengan pemberian cairan infus, obat-obatan supportif (vitamin) dan antiradang serta antiinflamasi. Tim juga mengambil sampel fesesnya untuk dilakukan pemeriksaan parasit," kata Ujang, pada Kamis (17/9/2026).
Keesokan harinya, lanjut Ujang, pengobatan terhadap Gajah Diego dilanjutkan. Namun, saat tim hendak melakukan treatment hari kedua, dengan treatmen pengambilan sampel darah dan pemberian cairan infus serta obat-obatan lainnya, Gajah Diego tiba-tiba terduduk dan tumbang, tidak lama berselang tanda-tanda vital hilang dan dinyatakan dalam kondisi mati pada pukul 12.00 WIB.
Berdasarkan hasil bedah bangkai (nekropsi), Gajah Diego diduga akibat infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis. Tim Medis mengambil sampel organ utuk dilakukan pemeriksaan laboratoris guna peneguhan diagniosa. Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dilakukan, individu Gajah Diego kemudian dikubur sesuai prosedur yang berlaku.
"Gajah Diego merupakan gajah jinak jantan berusia sekitar 17 tahun yang lahir pada tanggal 3 september 2009 dan dibesarkan di PLG Minas dari induk betina Vera dan induk jantan Reno. Diego merupakan salah satu gajah binaan yang berperan dalam menyambut para pengunjung di PLG Minas," tutur Ujang.
Ujang mengatakan, BBKSDA Riau menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang telah bekerja tanpa mengenal waktu selama proses perawatan Gajah Diego. BBKSDA Riau juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian gajah Sumatera yang saat ini masih menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya.
"Upaya konservasi hanya dapat berhasil melalui kolaborasi seluruh pihak dalam menjaga habitat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar, serta mendukung berbagai program perlindungan dan penyelamatan gajah di Indonesia," katanya.




