Jumat, 18 September 2026

            

Berita

Lapor, Para Gajah Sesak Napas!

Geopix melaporkan gajah sumatera kian merana setelah rumahnya dibakar. 

Jumat, 18 September 2026
Anak gajah yang ada dalam kelompok kecil di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Jambi. Foto: Geopix
Anak gajah yang ada dalam kelompok kecil di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Jambi. Foto: Geopix

BETAHITA.ID - Sebanyak 4.595 titik api tersebar di 21 kantong habitat gajah Sumatera pada rentang 1 Juni-8 September 2026. Merespon hal ini, Geopix mengatakan gajah Sumatera kian merana, rumah terbakar, dan terancam sesak nafas. 

Api bencana kebakaran hutan dan lahan mengancam hutan habitat satwa. Laporan Geopix berjudul “ALERTA! Bernapas dalam Asap” menyebutkan bencana ini, khususnya di Sumatera, telah berdampak terhadap gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). 

Geopix mengolah data spasial titik api harian Sipongi Kementerian Kehutanan dengan deliniasi 21 kantong habitat gajah Sumatera pada Instruksi Presiden No 8 Tahun 2026 tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. Mereka juga menambahkan citra Sentinel-2/Landsat-8 untuk mengukur tingkat keparahan kebakaran. 

Hasilnya, sepanjang periode pemantauan 1 Juni - 8 September total titik api yang berada di seluruh kantong gajah sumatera mencapai 4.595 yaitu mencapai 12.08 persen dari total 38.028 titik hotspot di seluruh Sumatra. Luas kantong habitat gajah Sumatera terdampak karhutla mencapai 382.779 ha di bulan Agustus.

Sedangkan selama 1-8 September adalah 177.979 hektare dari total luasan total 21 kantong gajah di sumatera yaitu 5.437.862 ha (7,06 persen).

Analisis tingkat keparahan menunjukkan kantong habitat gajah Sugihan - Simpang Heran menduduki peringkat paling rentan, disusul kantong gajah Tebo Serangge dan Tanjung Jabung Barat yang termasuk dalam Bentang Alam Bukit Tiga Puluh. 

Dampak krisis karhutla terhadap gajah sumatera yang harus diwaspadai adalah paparan asap yang berbahaya, potensi kehilangan habitat dan sumber pakan, sumber air dan fragmentasi habitat. 

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyebutkan data ini menyebutkan bencana kebakaran tak hanya mengancam manusia saja melainkan juga satwa.  

“Puluhan bentang alam bernilai konservasi tinggi terancam rusak akibat krisis kebakaran hutan dan lahan ini,” ucapnya. 

Selain itu analisis juga dilakukan dengan pemantauan kondisi tingkat bahaya asap berdasarkan informasi kualitas udara pada laman IQAir. Pemantauan IQair asap kebakaran di kedua wilayah ini menyumbang polusi PM2.5 dengan kategori tidak sehat sampai sangat tidak sehat (level 106-196) di kota dan kabupaten sekitarnya di Sumatera.

Ia pun menyebutkan penanganan dampak krisis karhutla terhadap satwa liar ini memerlukan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Perlindungan gajah sumatera tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor konservasi atau kehutanan semata. 

“Harus ada sinergitas kebijakan-kebijakan lintas sektor yang mempertimbangkan perlindungan dan pemulihan habitat satwa liar yang hilang dan resiko-resiko ikutan lainnya akibat kebakaran hutan dan lahan ini” ujar Annisa.

Ia mendesak penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan karhutla diperkuat. Penanganan tidak boleh berhenti pada pemadaman semata, tetapi harus sampai pada pertanggungjawaban hukum dan penguatan pengenaan pidana tambahan terkait kewajiban pemulihan ekosistem atas kerusakan lingkungan yang ditimbulkan beserta penggantian kerugian ekologis maupun sosial yang terjadi.

Sementara perlu evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan perhutanan sosial dan kemitraan kehutanan di kawasan-kawasan hutan yang beririsan dengan habitat gajah sumatera. Program yang membawa nama pemberdayaan masyarakat tidak boleh digunakan untuk membuka ruang bagi ekspansi tanaman monokultur, perubahan bentang alam, yang meningkatkan potensi konflik antara satwa liar dengan masyarakat. 

Pemberian akses perhutanan sosial harusnya memuat aspek perlindungan hutan sesuai Peraturan Pemerintah No 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan.

“Gajah Sumatera tidak lagi membutuhkan lebih banyak janji-janji konservasi. Mereka membutuhkan habitat yang aman, koridor ekologis yang terhubung, kawasan yang bebas dari asap dan kebakaran, dan tata kelola yang benar-benar bekerja secara komprehensif. Laporan ini harus menjadi dasar untuk melakukan koreksi kebijakan maupun implementasinya di tingkat tapak sebelum kita kehilangan lebih banyak hutan, lebih banyak satwa, dan lebih banyak nyawa,” kata dia.