Berita
Tsunami Limbah Pusat Data 25 Tahun Lagi
Limbah elektronik akibat kontruksi pusat data untuk AI akan melonjak 25 tahun ke depan.
Sabtu, 19 September 2026

BETAHITA.ID - Sebuah laporan baru memproyeksikan bahwa upaya untuk membangun ribuan pusat data berskala masif demi kebutuhan kecerdasan buatan (AI) akan memicu "tsunami" limbah elektronik. Hal ini menempatkan dunia pada jalur peningkatan tiga kali lipat volume tahunan limbah elektronik beracun dalam 25 tahun mendatang.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa limbah elektronik yang dihasilkan AI dalam kurun waktu 25 tahun ke depan dapat mengisi kontainer pengiriman dalam jumlah yang cukup untuk mengelilingi bumi sebanyak enam kali. Namun, menurut laporan dari kelompok lingkungan nirlaba Basel Action Network (BAN), belum ada rencana untuk menangani limbah tersebut—yang umumnya mengandung zat beracun seperti timbal, merkuri, kadmium, dan bahan kimia abadi.
"Limbah elektronik sudah menjadi jenis limbah dengan laju pertumbuhan tercepat di dunia, dan hanya seperlimanya yang dikelola dengan benar," ujar Jim Puckett, salah satu pendiri BAN, Selasa, 15 September 2026.
Menurut laporan tersebut, terdapat 4.871 pusat data baru yang sedang dalam tahap pembangunan di AS. Meskipun tidak semuanya secara khusus ditujukan untuk kecerdasan buatan (AI), banyak di antaranya memang akan digunakan untuk keperluan tersebut.
Para peneliti menghitung volume limbah elektronik yang berasal dari server komputer untuk AI, serta dari "ribuan ton tembaga, baja, dan beton" yang digunakan untuk peralatan pendingin, distribusi daya, jaringan, dan penyimpanan energi di dalam pusat data.
Untuk memperkirakan totalnya, laporan tersebut menghitung besaran daya komputasi yang diproyeksikan akan dibangun oleh para analis—mencapai total kapasitas baru sekitar 100 gigawatt di seluruh dunia pada 2030 saja, dengan angka yang terus bertambah setelahnya.
Selanjutnya, dilakukan analisis mengenai kebutuhan peralatan berdasarkan beratnya, termasuk rak server komputer dengan berat masing-masing 1.360 kg, switch dengan berat hingga 30 kg, serta ratusan kilogram kabel tembaga yang menghubungkan setiap rak.
Laporan tersebut memproyeksikan bahwa peralatan semacam itu tidak akan dirancang untuk perbaikan maupun penggunaan kembali, sehingga harus diganti sepenuhnya setiap dua hingga lima tahun sekali.
Selain itu, laporan ini mengasumsikan bahwa perkembangan AI akan mendorong penggantian cepat perangkat komputer, ponsel, dan peralatan telekomunikasi konsumen akibat kebutuhan komputasi sistem-sistem baru tersebut.
Dengan meninjau secara luas berbagai jenis limbah elektronik yang akan dihasilkan, laporan BAN memproyeksikan bahwa pensiunnya peralatan akibat AI akan menghasilkan hingga 13 juta metrik ton limbah per tahun pada 2030—sebuah estimasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa studi sebelumnya.
Sebuah laporan tahun 2025 memperkirakan bahwa, demi mewujudkan rencana industri teknologi dalam meluncurkan kecerdasan buatan, diperlukan belanja modal hampir US$7 triliun secara global dalam lima tahun ke depan untuk membangun pusat data yang menjalankan jutaan server komputer selama 24 jam sehari.
Laporan BAN mencatat bahwa pengeluaran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya ini "kira-kira setara dengan biaya untuk mengakhiri kelaparan dunia selama 75 tahun ke depan—namun dihabiskan hanya dalam waktu lima tahun".
"AI mungkin terasa tak berwujud, namun setiap modelnya bergantung pada perangkat keras mutakhir yang sangat khusus dan berjumlah masif," kata Puckett.
"Selama ini, perdebatan lingkungan terkait AI lebih berfokus pada aspek listrik, karbon, dan air, sementara nasib perangkat keras itu sendiri sebagian besar terabaikan," katanya.
"Jika perusahaan dan pemerintah tidak mulai mengantisipasi 'tsunami limbah' baru ini, pengembangan AI saat ini bisa memicu krisis limbah beracun yang jauh lebih dahsyat daripada yang sedang kita hadapi sekarang," ujar Puckett.




