Berita
Kenali Cara Lepas Liar Tukik Sesuai Animal Welfare
Banyak video beredar di media sosial tukik dilepaskan dari dalam ember secara langsung. Apakah seusai dengan animal welfare?
Minggu, 20 September 2026

BETAHITA.ID - Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan IPB, Mohammad Mukhlis Kamal memberitahu cara pelepasan tukik atau anak penyu sesuai kesejahteraan satwa (animal welfare).
Banyak video beredar di media sosial tukik dilepaskan dari dalam ember secara langsung ke arah gelombang laut. Mukhlis menyebutkan pelepasan tukik dengan cara tersebut pada prinsipnya tidak menjadi masalah, selama dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan kesejahteraan tukik.
“Dengan cara melepaskannya saat ombak menghempas pantai, menurut opini saya tidak apa-apa. Gerakan dinamis air akibat hantaman ombak bukan masalah, karena tubuh tukik dengan kaki depan sebagai ‘dayung’ akan mengatasinya,” ujarnya, dikutip Jumat (18/9).
Meski demikian, ujarnya, pelepasan dengan cara tersebut dapat menimbulkan stres pada tukik karena tidak dilakukan secara perlahan.
Mukhlis, yang menyampaikan hal ini di situs web resmi IPB, menyebutkan setidaknya ada lima prinsip animal welfare ketika melakukan pelepasan tukik, yakni bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa takut atau stres, bebas mengekspresikan perilaku alamiah, serta bebas dari cedera dan rasa sakit.
Umumnya, tukik dilepaskan dengan cara diletakkan di pantai. Apabila ditempatkan berlawanan dengan arah hempasan air laut ke pantai, tukik akan berbalik arah dan bergerak menuju laut.
Ia menekankan hal-hal teknis yang perlu diperhatikan ketika melepaskan tukik.
Pertama, hindari sentuhan tangan. Hal yang justru perlu lebih diperhatikan adalah menghindari kontak langsung antara tukik dan tangan manusia saat akan dilepaskan. Muklis menceritakan pengalamannya pelepasan penyu di Pantai Pangumbahan, Jawa Barat.
“Yang justru paling perlu diperhatikan adalah hindari kontak langsung tukik dengan tangan manusia saat akan melepaskannya. Mungkin khawatir ada kontak bakteri atau virus dari tangan manusia ke tukik,” katanya.
Kedua, konservasi tak sekadar lepas liar. Kegiatan penangkaran penyu yang dilakukan saat ini pada prinsipnya telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Upaya konservasi dilakukan melalui perlindungan terhadap tempat peneluran, tempat mencari makan, serta penyediaan koridor migrasi melalui marine protected area (MPA) atau kawasan konservasi perairan.
Selain perlindungan habitat, konservasi juga dilakukan melalui intervensi manusia. Telur penyu yang ditemukan di lokasi peneluran, selain dilindungi, dapat dipindahkan ke tempat penangkaran untuk dilakukan penetasan buatan dengan perlakuan suhu tertentu.
Penangkaran bertujuan melindungi telur penyu dari perburuan serta ancaman predator, seperti babi, anjing, biawak, dan satwa lainnya. Telur kemudian ditetaskan hingga menjadi tukik dan selanjutnya dilepasliarkan kembali ke laut.
Ketiga, jangan terlalu lama. Menurut Mukhlis, waktu ideal untuk melepas tukik adalah sekitar satu minggu setelah menetas.
“Bilamana ditahan terlalu lama, dikhawatirkan akan mengurangi kemampuan nalurinya untuk pulang,” ujarnya.




