Berita
Jakarta Berstatus 'Awas' Kekeringan
BPBD DKI Jakarta melakukan upaya pengisian reservoir untuk cadangan air serta mengimbau masyarakat menghemat air.
Kamis, 17 September 2026

BETAHITA.ID - Seluruh wilayah DKI Jakarta berstatus kekeringan, dengan kategori “Awas”. BPBD Jakarta menyatakan melakukan berbagai upaya kesiapsiagaan, seperti mengisi reservoir dan menghimbau masyarakat menghemat air.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan, peringatan dini kekeringan di wilayah DKI Jakarta didasarkan pada informasi BMKG dasarian II September 2026.
“Saat ini di seluruh wilayah DKI Jakarta dalam pemantauan kekeringan. Seluruh wilayahnya berada pada level “Awas”. Namun tingkat dampaknya terhadap ketersediaan air bersih dapat berbeda di masing-masing wilayah,” kata Marulitua saat dihubungi redaksi, Rabu, 16 September 2026.
“Kami terus melakukan pemantauan terhadap kondisi di lapangan, khususnya wilayah yang sudah terdapat laporan masyarakat mengenai keterbatasan atau kebutuhan air bersih,” ujarnya.
Marulitua mengatakan, pihaknya juga berkoordinasi dengan PAM Jaya untuk memastikan ketersediaan air, termasuk pengisian reservoir sebagai cadangan air untuk menghadapi kondisi kemarau berkepanjangan. Pihaknya juga mengantisipasi dampak lain, dengan memantau kondisi cuaca dan kualitas udara.
“Masyarakat juga kami imbau untuk menghemat penggunaan air, menggunakan air secara bijak, dan menyiapkan cadangan air untuk kebutuhan penting,” katanya.
“Selain itu, pada kondisi kering seperti sekarang, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan menghindari pembakaran sampah maupun lahan,” ujar Marulitua.
Musim kemarau di Indonesia tahun ini lebih kering dan lebih panjang, yang diperparah oleh fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang disebut dengan El Nino.
Pekan lalu, Organisasi Meteorologi Dunia PBB mengumumkan bahwa El Nino akan menjadi sangat kuat, membawa dampak terhadap pola curah hujan dan kenaikan suhu bumi. Fenomena ini berlangsung hingga Februari 2027. Puncaknya diprediksi menjelang akhir tahun 2026, dan dampaknya akan terus berlanjut hingga tahun depan.
Melalui laman Instagram @infobmkg, Rabu, 16 September 2026, BMKG merilis data peringatan dini kekeringan. Saat ini terdapat 81% wilayah Indonesia mengalami musim kemarau pada periode Dasarian II September 2026.
Kekeringan ini dipicu oleh rendahnya intensitas hujan, di mana curah hujan berkisar 0 hingga 150 mm per dasarian sampai periode Dasarian I Oktober 2026.
BMKG mencatat terdapat 1.637 titik wilayah di Indonesia bagian selatan mengalami hari tanpa hujan kategori ekstrem, yaitu lebih dari 60 ekstrem berturut-turut.
Sejumlah wilayah di Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, dan Papua Selatan masuk dalam kategori “Waspada”.
Sementara itu status “Siaga” termasuk beberapa wilayah di Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua Selatan.
Termasuk dalam level “Awas” selain DKI Jakarta adalah Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Maluku Utara.




