Berita
Indonesia... Tanah Apiku
Per Juli 2026, luas area karhutla sudah 3 kali luas Jakarta. Peringatan di awal El Nino super.
Jumat, 07 Agustus 2026

BETAHITA.ID - Lebih dari 200 ribu hektare lahan telah terbakar selama tujuh bulan pertama 2026, di mana hampir 60 persen terjadi di dalam kawasan hutan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini pun dinilai sebagai peringatan dini di tengah fenomena El Nino yang membuat musim kemarau di Indonesia lebih kering dari rata-rata.
Analisis spasial area indikatif terbakar (AIT) oleh Madani Berkelanjutan mengungkap, terdapat 219.513 hektare lahan terbakar sepanjang periode Januari-Juli 2026, atau setara dengan lebih dari tiga kali luas daratan Jakarta.
Bulan Juli mencatat kenaikan tertinggi, dari 15.474 hektare pada Juni menjadi 124.040 hektare atau lebih dari separuh total luas terbakar tahun ini.
Deputi Direktur Madani Berkelanjutan Giorgio B. Indrarto menyebut hal ini sebagai sinyal kuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum mereda. Di sisi lain, Giorgio menilai, peringatan darurat ini belum diikuti langkah pencegahan dan kesiapsiagaan dari pemerintah.
“Lonjakan AIT pada bulan Juli menunjukkan dengan jelas bahwa kita tidak bisa menunggu kebakaran menjadi besar untuk merespons. Informasi iklim sudah tersedia. Tantangannya adalah menjadikan informasi ini sebagai dasar untuk memperkuat tindakan pencegahan di wilayah berisiko tinggi,” kata Giorgio dalam diskusi media di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.
Madani mencatat, luas kawasan hutan yang terbakar hingga saat ini mencapai 59,21 persen atau 129.900 hektare, yang tersebar di hutan produksi, hutan konservasi, dan hutan lindung, maupun kawasan penting keanekaragaman hayati. Area ini biasanya menjadi habitat spesies langka, endemik, ataupun terancam punah.
Ekosistem gambut juga mencatat kebakaran yang signifikan, dengan luas 81.800 hektare (37,29%). Madani mencatat hampir seluruh area terbakar diidentifikasi di hamparan gambut dengan status rusak ringan hingga berat.
Api juga menjalar ke area moratorium hutan atau yang masuk dalam peta indikatif penghentian pemberian izin baru (PIPPIB) seluas 76.800 hektare. Sementara itu wilayah rencana operasional FOLU Net Sink 2030 mengalami kebakaran seluas 71.500 hektare.
“Ketika area yang terbakar menembus ekosistem gambut, PIPPIB, dan rencana operasional FOLU Net Sink, penanganan karhutla bukan lagi soal teknis pemadaman api. Pencegahan ini sangat menentukan tercapainya komitmen iklim Indonesia di tingkat global,” kata Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan Yosi Amelia.
Analisis Madani juga mengungkap, sekitar 90.000 hektare atau 41 persen area indikatif terbakar tumpang tindih dengan wilayah perizinan atau konsesi perusahaan. Irisan terbesar berada di area izin perkebunan kelapa sawit seluas 35.000 hektare, izin minyak dan gas seluas 19.000 hektare, dan konsesi kehutanan seluas 16.300 hektare. “
“Meski tak serta-merta membuktikan korporasi sebagai pembakar, angka irisan ini mutlak menuntut pengawasan ketat dan transparansi dari pemegang izin,” kata Yosi.
El Nino tahun ini diprediksi menjadi yang terpanjang dalam 30 tahun terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pun telah mengonfirmasi bahwa musim kemarau di Indonesia tahun ini lebih kering dari rata-rata.
Yosi mendorong pemerintah untuk menjadikan perkembangan AIT sebagai peringatan untuk memperkuat pencegahan karhutla selama periode kemarau yang masih berlangsung.
"Pengendalian karhutla perlu bergerak lebih kuat dari pendekatan reaktif menuju pencegahan berbasis data, karakter bentang alam, dan perkembangan musim di masing-masing wilayah," kata Yosi.




