Berita
Spesies Baru Begonia di Sumatera Barat Diberi Nama Mohammad Hatta
Nama hattae dipilih sebagai penghormatan kepada Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia yang berasal dari Sumatra Barat.
Jumat, 31 Juli 2026

BETAHITA.ID - Kekayaan flora Indonesia kembali bertambah. Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mendeskripsikan satu spesies baru Begonia dari Sumatra Barat yang diberi nama Begonia hattae. Selain menemukan spesies baru, penelitian tersebut juga berhasil menemukan kembali tiga spesies Begonia yang sebelumnya lama tidak dijumpai di habitat alaminya, serta mencatat perluasan wilayah sebaran satu spesies lainnya.
Temuan spesies Begonia baru ini memperlihatkan bahwa kawasan Sumatra Barat sebagai salah satu pusat keanekaragaman Begonia di Indonesia, dan masih memiliki potensi besar untuk menghasilkan temuan-temuan baru di bidang biodiversitas tumbuhan. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 2 Tahun 2026 melalui artikel berjudul “A New Begonia Species (Begoniaceae) and Three Rediscoveries from West Sumatra”.
Kajian ini dilakukan oleh Muhammad Efendi dan Intani Quarta Lailaty dari Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Wisnu Handoyo Ardi dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, serta Yudi Suhendri dari Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN. Kegiatan diawali dengan eksplorasi lapangan pada 2022–2023 di sejumlah wilayah di Sumatra Barat, meliputi Padang, Solok, Sijunjung, Tanah Datar, Payakumbuh, Lima Puluh Kota, dan Pasaman Barat.
Selama survei, tim mengumpulkan biji, spesimen herbarium, dan koleksi hidup yang selanjutnya dibudidayakan di Kebun Raya Cibodas. Koleksi tersebut kemudian diamati secara intensif untuk mengkaji karakter morfologi, termasuk bunga dan buah, sehingga dapat memastikan identitas serta status taksonomi setiap spesies yang ditemukan.
Dari hasil eksplorasi tersebut, tim berhasil mendeskripsikan Begonia hattae sebagai spesies baru yang ditemukan di kawasan Perbukitan Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian juga mengonfirmasi keberadaan kembali Begonia halabanensis, Begonia goegoensis, dan Begonia longipedunculata di habitat alaminya. Selain itu, tim mencatat keberadaan Begonia lilliputana di Sumatra Barat, memperluas wilayah persebarannya yang sebelumnya hanya diketahui berasal dari Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Muhammad Efendi, menjelaskan penemuan spesies baru ini menunjukkan masih besarnya potensi eksplorasi flora Indonesia, khususnya di kawasan Sumatra yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman Begonia dunia.
“Eksplorasi botani yang dilakukan secara intensif masih membuka peluang ditemukannya jenis-jenis tumbuhan yang belum pernah dideskripsikan. Penemuan Begonia hattae menunjukkan kawasan Sumatra Barat masih menyimpan kekayaan flora yang sangat penting untuk didokumentasikan dan dilestarikan,” kata Efendi, dalam keterangan tertulis, pada Senin (27/7/2026).
Secara morfologi, Begonia hattae memiliki kemiripan dengan Begonia raoensis. Namun dapat dibedakan melalui jumlah tepal pada bunga jantan dan betina, bentuk daun, tidak adanya rambut membentuk cincin pada ujung tangkai daun, serta jumlah benang sari yang lebih sedikit. Karakter-karakter tersebut menjadi dasar penetapan Begonia hattae sebagai spesies yang berbeda.
Nama hattae dipilih sebagai penghormatan kepada Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia yang berasal dari Sumatra Barat. Penamaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas jasa beliau sekaligus mengangkat identitas daerah asal ditemukannya spesies baru tersebut.
Efendi menambahkan lokasi ditemukannya Begonia hattae bersama beberapa spesies Begonia endemik lainnya berada pada ekosistem hutan batu kapur di kawasan Halaban yang saat ini menghadapi tekanan akibat aktivitas pertambangan.
“Temuan ini tidak hanya menambah daftar spesies flora Indonesia, tetapi juga menjadi pengingat bahwa habitat alami tumbuhan endemik memerlukan perhatian serius. Informasi ilmiah mengenai persebaran spesies sangat penting sebagai dasar penyusunan strategi konservasi,” ujarnya.




