Berita
Yang Baru Dalam Koleksi 5.0 Mapbiomas Indonesia
Platform Mapbiomas Indonesia memutakhirkan datanya menjadi 21 kelas dan menambah tiga tema baru.
Rabu, 14 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Mapbiomas Indonesia meluncurkan pembaruan terkini pada platformnya, yang mencakup sejumlah tema dan kelas tutupan yang dinilai relevan dengan perkembangan pemantauan hutan saat ini.
Pembaruan tersebut, yang dinamakan dengan Koleksi 5.0, mencakup sejumlah penambahan tutupan kelas dan tema. Pada peluncuran di Jakarta, Kamis, 9 Oktober 2026, Tim Mapbiomas Indonesia mengumumkan pemutakhiran delapan kelas baru, sehingga terdapat total 21 kelas yang tercakup dalam jaringan pemantauan hutan tersebut.
Platform tersebut–yang merupakan inisiatif nasional jaringan masyarakat sipil berbagai daerah–juga menambah tiga tema baru dalam koleksinya, yakni deforestasi tahunan, vegetasi sekunder atau regenerasi, dan perairan (padang lamun).
Koordinator Teknis Mapbiomas Indonesia Dedy Sukmara mengatakan, tambahan tema baru pada platform tersebut penting jika melihat perkembangan terkini dari level nasional hingga global.
“Di darat, perhatian kita untuk melihat kehilangan hutan sekaligus pemulihannya. Kita tidak hanya bisa melihat berapa luas dan lokasi tutupan yang hilang, tapi juga monitoring di mana hutan yang tumbuh kembali di wilayah-wilayah alami,” kata Dedy.
Dedy mengatakan, pemutakhiran ini (regenerasi) sangat relevan dengan berbagai upaya reforestasi dan restorasi.
“Ini bisa menjadi alat monitoring keberhasilan regenerasi hutan yang terdegradasi. Selain itu kita juga melihat skenario ketika tanpa adanya perlakuan restorasi, bagaimana tutupan alami itu tumbuh kembali. Kita mau membandingkan ini. Jadi kita tidak hanya melihat kerusakan, tapi juga melihat lahan yang terganggu dan bagaimana dia tumbuh dan oleh faktor apa,” ujarnya.
Isu regenerasi juga merupakan sesuatu hal yang jarang dibahas dalam sistem monitoring hutan. Padahal, kata Dedy, melihat hal ini penting dalam upaya perlindungan hutan. Saat ini Indonesia memiliki hutan seluas 96 juta hektare. Dari luas tersebut, yang dilindungi hanya 40 juta hektare dan semuanya masuk dalam kategori hutan primer.
Pemantauan hutan terdegradasi yang tumbuh kembali menjadi hutan sekunder dalam platform ini memungkinkan pengguna dan pegiat hutan untuk melihat sejauh ini lahan beregenerasi. Mulai dari usia pohon sejak terganggu hingga kerapatan vegetasi.
“Dari pantauan umur hutan ini kita mau bilang bahwa ini memang hutan sekunder. Tapi jika usia regenerasinya sudah 30 tahun sejak dia mengalami gangguan, maka tidak bisa tidak dia harus dilindungi. Ini bisa mendorong regulasi untuk menambah kuota perlindungan hutan di Indonesiam meskipun dia sudah masuk dalam kategori hutan sekunder,” kata Dedy.
Di sisi lain, tema regenerasi juga relevan dengan perkembangan tren proyek karbon saat ini, kata Dedy.
“Ini bisa menjadi indikator awal untuk mengawal kredit karbon atau biodiversitas, apakah skema proyek seperti itu benar-benar solusinya. Apakah betul ada yang tumbuh. Jadi melihat upaya restorasi itu kita ukur dari tema regenerasi ini,” katanya.
Sementara itu, tema perairan merupakan lompatan baru pada platform yang tadinya fokus pada pemantauan di daratan tersebut. Padang lamun menjadi kelas pertama dari sektor perairan yang masuk, dan merupakan cadangan karbon dunia. Menurut Dedy, ke depannya Mapbiomas Indonesia juga akan memasukkan dua ekosistem yang tidak kalah krusial perannya sebagai cadangan karbon dunia, yakni terumbu karang dan mangrove.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan padang lamun terluas di kawasan tropis, kedua setelah Australia, dengan estimasi terbaru mencapai 660.000 hektare, berdasarkan data pemetaan yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun lalu. Secara total diperkirakan terdapat 1,8 juta hektare potensi padang lamun di seluruh Indonesia.
Dalam pemetaan dan pendataan ini, Mapbiomas Indonesia menggandeng sejumlah kampus dengan keahlian khusus dalam isu perairan, termasuk Universitas Gadjah Mada dan Universitas Bengkulu.
“Posisi Indonesia strategis karena negara maritim dengan potensi padang lamun, mangrove, dan terumbu karang yang sangat luas. Harapan kita, isu maritim bisa menjadi perhatian, dan Mapbiomas mencoba untuk menangkap kesempatan ini untuk memetakan dan membuka informasinya lebih luas ke publik,” katanya.
Untuk tutupan kelas, Mapbiomas Indonesia menambah tutupan kelas baru yang mencakup karet dan kopi, dua komoditas yang diatur dalam Undang-Undang Anti-Deforestasi Uni Eropa (EUDR). Sebelumnya platform ini juga telah mencakup komoditas sawit, yang juga diatur oleh regulasi tersebut.
Penambahan komoditas dalam sistem monitoring ini juga bertujuan untuk melihat kausalitas antara pembukaan lahan dengan komoditas tertentu, atau sebaliknya.
“Hal ini sudah terjadi dengan ekspansi komoditas sawit dan pulp, yang menyebabkan konversi hutan ke komoditas tersebut. Sekarang kita mau melihat apakah kecenderungan yang sama terjadi di komoditas lain seperti karet. Di Cina ini terjadi, di mana komoditas seperti karet menjadi pemicu deforestasi. Sementara di Indonesia tidak. Jadi selain melihat deforestasi yang disebabkan oleh komoditas, kita juga melihat yang komoditas yang bersih juga,” kata Dedy.




