Kamis, 08 Oktober 2026

            

Sorot

Api di Atas Kanopi

Bencana karhutla di Indonesia juga membuat satwa-satwa seperti primata dan burung ikut menderita

Kamis, 08 Oktober 2026
Tampak satu orangutan bertahan hidup di areal HCV perusahaan perkebunan sawit yang terbakar di Ketapang, pada 23 September 2026. Sumber: YIARI.
Tampak satu orangutan bertahan hidup di areal HCV perusahaan perkebunan sawit yang terbakar di Ketapang, pada 23 September 2026. Sumber: YIARI.

BETAHITA.ID - Benak Karmele Llano Sanchez membuncah tiap kali timnya mendapat kabar keberadaan orangutan yang terjebak di hutan atau lahan yang terbakar. Ia menjadi tak sabar untuk segera mengambil kotak medis dan beranjak ke lokasi kebakaran untuk melakukan penyelamatan.

Karena masih membekas dalam ingatannya, saat beberapa waktu lalu, ia menyaksikan sepasang induk dan anak orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) yang tampak kurus dan lemah sedang berjuang hidup terkepung asap di atas pohon kering, di hutan tersisa di areal high conservation value (HCV) perkebunan sawit, yang sudah terbakar di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Saat itu, ia bisa membayangkan, betapa menderitanya dua orangutan yang kemudian diberi nama Mama Abu dan Abu tersebut terpaksa bertahan selama berhari-hari di lokasi yang tanpa ada sumber air dan pakan sama sekali. Karena jangankan buah-buahan, bahkan dedanunan hijau pun sudah tak ada lagi di sekitarnya. Tak ada pula tempat perlindungan di areal itu setelah api melahap segalanya.

Yang lebih menyesakkan hati Karmele, induk orangutan itu gelisah. Sambil menggendong anaknya, orangutan itu berusaha menghindar saat ia dan timnya tiba di areal hutan yang hangus penuh abu dan asap. Karmele tahu, orangutan itu sedang ketakutan dan panik melihat kedatangannya bersama tim.

"Ya pasti sedih sekali, mereka tidak paham kalau tim rescue itu datang di sana untuk menyelamatkan mereka," kata Karmele, Direktur Eksekutif Yayasan Inisiasis Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), pada Minggu (4/10/2026). Karmele adalah primatolog sekaligus dokter hewan yang kerap ikut terjun ke lapangan saat tim YIARI melakukan upaya penyelamatan satwa yang terdampak karhutla. 

Karmele Llano Sanchez saat memberi penanganan medis pada bayi orangutan yang terdampak karhutla di Ketapang, pada 23 September 2026. Sumber: YIARI.

Karmele mengakui, realita yang ia temui di lapangan itu bukan hanya membuatnya sedih, tapi juga memicu sedikit frustasi. Sebab Karmele merasa bahwa ia dan timnya mungkin tak akan mampu untuk menyelamatkan semua orangutan dan jenis satwa lainnya dari kobaran api yang membakar hutan itu. 

Karmele bilang, penyelamatan satwa yang terdampak kebakaran hutan dan lahan bukanlah hal mudah, karena upaya tersebut berisiko sangat tinggi, bagi timnya maupun satwa. Sering kali, orangutan akan merasa tertekan atau stres dan akhirnya melarikan diri saat akan selamatkan. Kalau sudah begitu, maka proses evakuasi dan penyelamatannya akan semakin butuh waktu lama, juga menghabiskan energi tentunya.

"Itu sangat berat bagi tim dan sangat mempengaruhi pikiran kita, dan juga," katanya.

Tapi, di antara kesedihannya itu, terbersit pula rasa kesal di hati Karmele. Ia mengatakan, di Kalimantan Barat, khususnya di Ketapang, sebenarnya banyak perusahaan pemegang konsesi berbasis lahan yang memiliki areal hutan konservasi di areal izinnya. Namun, pada kenyataannya, areal hutan tersebut juga banyak yang terbakar, padahal hutan konservasi itu disisakan karena memiliki nilai konservasi tinggi.

"Mereka sangat tidak bertanggung jawab, dan sangat tidak melakukan proses preventif untuk kebakaran dan tidak juga pemadaman dengan cara yang sesuai," ujar Karmele.

"Dan efek dari perusahaan itu, yang tidak menjaga hutan dengan baik, akhirnya banyak habitat orangutan yang telah hilang dan itu sangat berdampak pada populasi orangutan di sekitar Ketapang ini," imbuhnya.

Pengaruh karhutla terhadap primata

Karmele menuturkan, kebakaran yang melanda hutan dan lahan, yang marak dan masif terjadi di berbagai daerah di Kalimantan, sangat berdampak pada seluruh satwa, termasuk primata. Kebakaran akan mengakibatkan sumber pakan dan tempat berlindung satwa hilang seketika.

Pada kasus orangutan, dampak pembakaran hutan dan lahan (karhutla) paling besar akan dirasakan oleh betina induk. Menurut Karmele, orangutan betina cenderung akan menetap di satu tempat, di sekitar di mana ia dilahirkan. Beban orangutan betina akan berlipat ganda ketika ia bersama anak yang harus dilindunginya.

Sedangkan orangutan jantan, yang punya areal jelajah yang lebih luas, ketika menemui kondisi yang memaksa seperti adanya kebakaran hutan, ia masih bisa menjelajah ke tempat yang lebih jauh untuk mencari tempat aman, hutan yang masih hijau dan sumber air.

"Tapi kalau betina dia tidak akan pindah. Dia akan tinggal. Di mana dia berada, di posisi itulah rumah dan tempat jelajahnya. Makanya lebih banyak orangutan betina yang terjebak di areal yang terbakar," kata Karmele.

Anggota tim YIARI sedang menggendong orangutan di areal HCV perusahaan perkebunan sawit yang terbakar di Ketapang. Sumber: YIARI.

Namun begitu, terlepas dari perbedaan kecenderungan antara betina dan jantan, karhutla dalam skala luas akan tetap membahayakan satwa-satwa arboreal seperti primata. Karmele menuturkan, primata seperti orangutan tak jarang harus turun ke tanah untuk berpindah tempat menghindari kebakaran, dan hal tersebut sangat berisiko tinggi.

Dalam kasus kebakaran besar pada hutan gambut, permukaan tanah biasanya masih menyimpan bara api yang sangat panas, sehingga primata yang terpaksa berpijak di atasnya bisa dipastikan akan menderita luka bakar pada kaki dan tangannya.

"Kita juga sudah lihat beberapa kasus, kalau terjebak di area hutan yang dikelilingi api, tidak ada tempat di mana dia bisa lari, bisa saja terbakar. Kita lihat di Kalimantan Selatan, satu kelompok bekantan (Nasalis larvatus) itu terbakar semua," kata Karmele.

Karmele yakin, banyak sekali primata yang terjebak kemudian mati sampai terbakar habis, di habitat yang mengalami kebakaran hebat. Karena menurutnya, tidak semua satwa itu punya kesempatan dan tempat tujuan untuk melarikan diri. Contohnya primata jenis kukang kalimantan (Nycticebus borneanus), yang terkenal memiliki pergerakan sangat pelan dan daya jelajah yang rendah.

"Pada saat ada kebakaran di sekitarnya, dia (kukang) tidak mungkin bisa menemukan tempat untuk melarikan diri. Jadi sudah otomatis dia pasti mati karena terbakar," ujar Karmele.

Sejak Agustus lalu, tim rescue YIARI telah menyelamatkan dan mengevakuasi 46 individu orangutan dari areal hutan yang terbakar di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Tak hanya orangutan, beberapa jenis satwa lain juga mereka selamatkan, di antaranya 13 ekor trenggiling (Manis javanica), 3 ekor bekantan, 4 ekor kukang, 1 ekor lutung (Presbytis rubicunda) dan 1 ekor musang (Arctogalidia trivirgata).

Primata juga bisa kena penyakit pernapasan

Ancaman lainnya, lanjut Karmele, juga datang dari asap atau aerosol yang dihasilkan karhutla. Potensi penyakit pada primata, terutama orangutan, tidak akan jauh berbeda dengan manusia. Karena secara anatomi, mereka sangat mirip dengan manusia.

Sehingga, seperti halnya manusia, primata seperti orangutan juga bisa mengalami penyakit pernapasan, dan kasus ini sudah ditemukan pada orangutan yang berada di beberapa tempat rehabilitasi yang terpapar asap karhutla. Ia menjelaskan, asap karhutla mampu mengiritasi saluran pernapasan yang kemudian membuat satwa ini rentan terkena infeksi, dan sebagai efek dominonya penyakit lain akan ikut bermunculan dialami spesies ini. 

"Sama juga seperti manusia, untuk individu yang punya penyakit bawaan misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru, akan lebih rentan terhadap kondisi asap di sekitarnya," katanya. 

Karmele menduga, kasus semacam ini terjadi pada Sampurna--orangutan yang sempat diselamatkan dan dievakuasi oleh tim YIARI dari areal terdampak kebakaran beberapa waktu lalu. Ia berpendapat, Sampurna kemungkinan besar memiliki penyakit bawaan. Diperparah oleh dehidrasi serta pernapasan yang tidak baik, karena terpapar asap yang sangat tebal, orangutan jantan tersebut pada akhirnya tidak bisa bertahan hidup, meski sempat ditangani secara medis.

"Kalau efek lain dari asap pada orangutan dan juga jenis primata lain seperti owa atau kelempiau, pernah terbukti memengaruhi suara. Mungkin sama seperti kita (manusia) juga," ujar Karmele.

Pengaruh asap terhadap suara satwa ini, menurut Karmele, tidak bisa dianggap remeh, karena perpengaruh pada perilaku satwa lain. Dalam dunia satwa, sambung Karmele, suara yang satwa keluarkan memiliki fungsi-fungsinya tersendiri, misalnya untuk tujuan perlindungan, dan untuk memanggil individu lain. Sehingga gangguan terhadap suara satwa itu pasti memiliki efek pada perilaku satwa secara keseluruhan.

Proses penyelamatan Mama Abu dan Abu di areal HCV perusahaan perkebunan sawit di Ketapang, pada 23 September 2026. Sumber: YIARI.

"Kalau tentang efek kronis (potensi mengidap penyakit berkepanjangan), kita kurang penelitian. Tapi pendapat saya tentu seperti yang terjadi pada manusia. Karena primata mirip dengan manusia, efeknya pasti sama. Bedanya, mereka tidak punya pilihan mencari tempat yang tidak ada asap, tidak bisa bersembunyi di dalam rumah, atau menggunakan masker," tuturnya.

Pakar Genetika Ekologi sekaligus Guru Besar IPB University, Ronny Rachman Noor, sebelumnya juga sempat menyinggung dampak paparan asap karhutla pada kesehatan orangutan. Menurut Ronny, partikel mikroskopis PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan orangutan, hingga alveolus paru-paru, menyebabkan peradangan dan iritasi. 

Dalam jangka pendek, lanjut Ronny, paparan asap ini dapat memicu kekurangan oksigen, batuk, dan sesak napas, sedangkan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan bronkitis dan penyakit paru obstruktif kronis.

“Dari sisi kesehatan orang utan, keberadaan asap dan cemaran akibat kebakaran hutan sangat berbahaya bagi paru-paru dan metabolisme mereka karena sistem pernapasan mereka sangat sensitif terhadap polusi udara,” ujarnya, pada Senin (7/9/2026).

Dampak asap, sambung Ronny, juga dapat mengganggu metabolisme dan sistem imun akibat stres oksidatif. Penurunan nafsu makan dapat membuat orangutan lemas, kurang aktif, dan mengalami penurunan berat badan. Bahkan, stres fisiologis akibat paparan asap berpotensi mengganggu sistem reproduksi dan menambah tekanan terhadap populasi orangutan.

Habitat yang hancur sulit dipulihkan

Kebakaran hutan dan lahan secara masif, seperti yang sedang terjadi saat ini, menurut Karmele, tentu saja akan membuat habitat utama satwa menjadi lebih terfragmentasi, dan bahkan memutus konektivitas antara satu kantong habitat dengan kantong yang lain. Walhasil, satwa-satwa yang selamat dari kebakaran pun tetap akan menghadapi kesulitan bertahan hidup.

"Karena tidak ada konektivitas ke hutan yang lebih besar, maka fragmen-fragmen habitat yang tersisa itu cenderung tidak layak lagi untuk orangutan bertahan hidup," katanya.

Karmele mengungkapkan, salah satu habitat favorit orangutan adalah hutan gambut. Alasannya, karena pada hutan gambut, jenis pakan untuk orangutan dan primata lainnya lebih bervariasi dan tersedia sepanjang tahun.

Tapi sayangnya, kebakaran tahun ini justru banyak melanda hutan bergambut. Bara api yang merayap dan menyebar di bawah permukaan tanah, telah menyebabkan sistem perakaran pepohonan ikut terbakar. Hasilnya, pepohonan tumbang dan perlahan habis terbakar.

"Nah, pohon yang terbakar itu tidak mungkin dalam satu atau dua tahun bisa hidup kembali. Mungkin butuh 10 sampai 15 tahun bisa hidup dan membentuk hutan lagi. Dan di areal bergambut, lebih lama lagi," ujar Karmele.

Untuk itu, Karmele berpendapat, apabila tidak ada upaya restorasi maka hutan bekas terbakar ke depannya tidak akan layak lagi untuk menjadi habitat satwa seperti orangutan. Karmele bilang, di masa awal suksesi hutan, biasanya memang akan tumbuh pohon-pohon pioner yang pertumbuhannya cepat. Tetapi pohon-pohon ini bukan jenis pohon yang bisa memberikan pakan untuk orangutan atau jenis satwa lainnya.

Tampak dari ketinggian habitat orangutan yang terbakar di areal HCV perusahaan perkebunan sawit di Ketapang, pada 23 September 2026. Sumber: YIARI.

"Kalau ada upaya restorasi, bisa direstorasi dengan jenis ubah atau ubar (Syzygium), jenis pohon yang menjadi sumber pakan untuk orangutan dan jenis primata lain. Pertumbuhan dari jenis itu juga lebih cepat," katanya.

Karmele mengingatkan, jika tidak ada upaya restorasi, areal bekas terbakar juga akan ditumbuhi oleh vegetasi yang nantinya justru menjadi bahan bakar untuk api, seperti ilalang dan pakis-pakisan. Seperti pada karhutla yang terjadi pada 2015, 2019, 2023 dan tahun ini, kebakaran yang terjadi cenderung di areal yang sudah terbakar pada tahun-tahun sebelumnya, yang tidak ada upaya restorasi atau penanaman pohon kembali.

"Dan semakin banyak areal hutan yang terbakar, menjadi areal yang tumbuhannya bukan berupa pohon, tetapi lebih ke ilalang dan pakis-pakisan itu, menjadi areal yang sangat rentan untuk terbakar kembali. Dan begitu terus menurut siklusnya," ucap Karmele.

Karmele tidak bisa menyebut secara pasti berapa lama individu orangutan atau primata lain bisa bertahan di bekas areal hutan yang terbakar. Bisa dalam hitungan hari atau hitungan minggu, tergantung pada ketersediaan pakan dan sumber air. 

Meski primata seperti orangutan bisa mencoba memakan kulit pohon, tapi bahan pakan itu, menurut Karmele, tidak bisa memberi energi dan kalori yang cukup untuk bertahan lama. Dengan kondisi kritis tersebut, primata seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan orangutan, kerap terpaksa mengakses areal permukiman dan kebun atau ladang masyarakat, demi mencari makan. Perilaku tersebut menyimpulkan masalah baru, yakni konflik dengan manusia.

Tak hanya primata, burung juga sangat terdampak

Tak hanya jenis-jenis primata saja. Karhutla juga memberikan dampak yang sangat signifikan pada penurunan populasi satwa arboreal lain, yakni burung. Ahmad Ridha Junaid, dari Burung Indonesia, menjelaskan bahwa saat api menghanguskan lantai hingga tajuk atau kanopi hutan, burung tidak hanya kehilangan tempat berlindung dan tempat bersarang. Mereka juga kehilangan sumber pakan utama, seperti buah, serangga dan nektar.

Ridha bilang, kematian langsung pada burung akibat karhutla juga sering terjadi. Hal ini terutama menimpa anakan burung di sarang yang belum bisa terbang atau telur yang ikut terbakar habis. Selain itu, hilangnya tutupan kanopi hutan membuat suhu mikro hutan berubah secara drastis. 

"Kondisi ini memaksa burung yang selamat untuk pindah mencari habitat lain. Masalahnya, habitat baru tersebut mungkin sudah terisi oleh burung atau satwa lain. Akibatnya, persaingan ketat terjadi dan hal ini sering berujung pada tingginya angka kematian pascakarhutla," ujar Ridha, pada Rabu (23/9/2026).

Ridha melanjutkan, bencana karhutla berdampak lebih gawat dan amat mematikan bagi spesies burung yang populasinya sejak awal sudah sangat rendah. Umumnya, spesies ini masuk ke dalam kategori terancam punah secara global menurut Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN Red List). Kategori tersebut mencakup spesies yang rentan (vulnerable), genting (endangered), atau kritis (critically endangered). 

Selain itu, ada beberapa kelompok burung yang juga sangat terdampak, antara lain burung dengan wilayah sebaran terbatas (restricted range species). Ia menuturkan, jika satu-satunya habitat burung jenis ini terbakar, mereka tidak memiliki tempat lain untuk mengungsi. Contohnya empuloh paruh-kait (Setornis criniger), burung yang sepenuhnya tergantung pada habitat hutan di lahan gambut Sumatra dan Kalimantan.

Lalu, burung teritorial. Kelompok burung ini, menurut Ridha, memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan di wilayah kekuasaannya meskipun kondisi lingkungan sudah hancur. Contohnya burung asi dada-kelabu (Malacopteron albogulare), burung penghuni bawah tajuk yang sangat teritorial. 

"Dan burung dengan kemampuan dispersal atau daya jelajah yang tidak besar. Contoh utamanya adalah burung-burung dari suku Phasianidae. Burung seperti kuau, sempidan, dan ayam hutan hidup dominan di lantai hutan dan tidak mampu terbang jauh untuk menghindari api dengan cepat," katanya.

Tak hanya itu, asap karhutla juga sangat mengacaukan perjalanan navigasi burung migran. Berdasarkan literatur sains terkini, kabut asap yang pekat akan memaksa burung migran mengubah rute migrasi mereka secara drastis. 


Imbasnya, burung-burung yang tiap tahun bermigrasi melintasi berbagai benua di dunia ini, harus terbang jauh lebih tinggi atau memutar hingga ratusan kilometer sekadar untuk menghindari gumpalan asap tebal. Perjalanan yang menjadi jauh lebih panjang ini menguras cadangan energi mereka secara ekstrem.

Lebih lanjut Ridha mengatakan, jika wilayah persinggahan (stopover) mereka di Indonesia ikut tertutup asap, tempat tersebut tidak lagi layak untuk disinggahi karena populasi serangga dan pakan menurun drastis. Burung migran yang kelelahan terpaksa mendarat di lokasi yang sama sekali tidak ideal atau menunda perjalanan lebih lama. 

"Akibatnya, mereka berisiko tinggi mengalami kelaparan dan kelelahan massal sebelum mencapai tujuan akhir," katanya.

Ridha mengungkapkan, sistem pernapasan burung sangat berbeda dan jauh lebih efisien dibandingkan mamalia. Burung menyerap oksigen hampir dua kali lipat lebih banyak dalam setiap tarikan napas. 

Sayangnya, kehebatan biologi ini justru menjadi kelemahan fatal ketika terjadi kabut asap. Mereka secara otomatis menyerap gas beracun seperti karbon monoksida dan partikel halus dalam jumlah yang jauh lebih masif. 

Paparan asap kronis ini menyebabkan iritasi pernapasan parah, kerusakan jaringan paru-paru, dan melemahnya sistem kekebalan tubuh burung. Dari sisi reproduksi, asap tebal terbukti menurunkan intensitas kicauan atau vokalisasi burung. Padahal, bernyanyi sangat vital untuk menarik pasangan dan mempertahankan teritori kawin. 

"Selain itu, karena burung dewasa lemas akibat polusi, frekuensi pencarian pakan pun menurun tajam. Asupan makanan bagi anakan di sarang tentu berkurang drastis. Pada akhirnya, kondisi gizi buruk ini membuat bobot anakan merosot tajam dan mengancam tingkat kesuksesan reproduksi spesies secara keseluruhan," tutur Ridha.

Angka luas kawasan konservasi dan habitat yang terbakar

Kegamangan para peneliti dan konservasionis satwa menghadapi bencana karhutla tidaklah tanpa alasan. Menurut hitungan Mapbiomas Fire, areal terbakar (burn area) yang dihasilkan bencana kebakaran di Indonesia, periode Januari-Agustus 2026, luasnya mencapai 677.743 hektare atau setara 10 kali luas wilayah DKI Jakarta.

Menurut metodologi penghitungannya, angka 677.743 hektare tersebut mencakup angka luas kebakaran berulang yang terjadi di suatu areal tertentu. Kebakaran berulang dimaksud ditetapkan dengan melihat waktu kebakaran terjadi. 

Jika kebakaran terjadi pada 3 bulan berturut, maka kebakaran pada bulan kedua akan dianggap sebagai kebakaran yang sama dengan kebakaran di bulan pertama. Namun kebakaran di bulan ketiga akan dihitung sebagai kebakaran berulang.

"Penyesuaian waktu ini dilakukan untuk mengakomodir kebakaran berulang yang mungkin terjadi pada areal gambut," kata Sesilia Maharani Putri, peneliti Auriga Nusantara yang membidani angka luas areal terbakar versi Mapbiomas Fire, pada Selasa (29/9/2026).

Karhutla di Kalteng. Foto: Inisiatif Solidaritas Publik Anti Asap Karhutla (ISPA)

Sementara itu, sambung Sesil, dengan sudut pandang berbeda, bila areal terbakar berulang hanya dihitung satu kali--areal yang sama yang mengalami kebakaran berulang di waktu berbeda tidak dihitung dua kali, maka angka luas areal terbakar menjadi sekitar 637.011 hektare. 

"Dengan lain perkataan, dari angka 677.743 hektare itu, sekitar 40.732 hektare di antaranya merupakan luas areal yang terbakar berulang atau terus menerus terbakar selama beberapa bulan," kata Sesil.

Berdasarkan data yang disajikan platform Mapbiomas Fire, luas areal bernilai konservasi tinggi di Indonesia angkanya cukup besar. Kawasan keanekaragaman kunci (key biodiversity areas-KBA) misalnya, yang memiliki arti penting secara global untuk pelestarian keanekaragaman hayati, tercatat mengalami kebakaran seluas total sekitar 74.167 hektare.

Lima KBA dengan areal terbakar terluas yakni Wasur sebesar 8.305 hektare, Muara Kendawangan 7.524 hektare, Gunung Tambora 6.248 hektare, Rawa Aopa Watumohai 5.773 hektare dan Rawa di Pesisir Kapuas seluas 3.892 hektare.

Bukan hanya KBA, bila dilihat dari status kawasannya, areal terbakar di kawasan hutan konservasi luasnya secara total mencapai 72.907 hektare. Yang menarik, lebih dari separuh areal terbakar di kawasan konservasi ini atau sekitar 36.547 hektare, berada di kawasan hutan konservasi yang berstatus taman nasional (TN). Sedangkan sisanya berada di kawasan hutan konservasi non-taman nasional (cagar alam-CA, suaka margasatwa-SM, taman hutan raya-Tahura dan taman wisata alam-TWA) dengan total luas 36.360 hektare.

Bencana karhutla di Indonesia tahun ini juga melahap habitat spesies kunci Indonesia. Menurut Mapbiomas Fire, areal habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terbakar seluas 8.283 hektare, habitat gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) 3.285 hektare, habitat badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) 4.765 hektare, dan habitat orangutan (Pongo pygmaeus dan Pongo abelii) 6.888 hektare. 

Khusus untuk habitat orangutan, setidaknya ada 55 kantong habitat yang luas areal terbakarnya mencapai 3 hektare atau lebih. Lima teratas kantong habitat dengan luas areal terbakar terbesar yakni Pygmaeus Fragmented South (Kalimantan Barat) sekitar 1.364 hektare, Gunung Palung-Sungai Putri (Kalimantan Barat) 1.249 hektare, Trumon Singkil (Aceh) 595 hektare, Pematang Gadung (Kalimantan Barat) 471 hektare, dan Rawa Tripa (Aceh) 335 hektare.

Berdasarkan data Mapbiomas Fire, diketahui pula bahwa setidaknya 6 dari 8 situs ramsar yang dimiliki Indonesia, mengalami kebakaran, yakni TN Wasur (8.759 hektare), TN Rawa Aopa Watumohai (4.994 hektare), TN Tanjung Puting (606 hektare), TN Danau Sentarum (521 hektare), TN Sembilang (43 hektare), dan TN Berbak (10 hektare).

Situs ramsar ini sendiri adalah kawasan lahan basah yang diakui secara internasional memiliki nilai ekologis penting, berdasarkan Konvensi tentang Lahan Basah. Situs-situs ini berfungsi, salah satunya sebagai tempat transit dan jalur migrasi burung air (burung migran). Beberapa situs ramsar yang menjadi rest area bagi jutaan burung migran di Indonesia ini contohnya adalah TN Wasur dan TN Sembilang. 

Selain sebagai tempat singgah burung migran, fungsi lain dari situs ramsar adalah sebagai benteng terakhir perlindungan satwa langka dan endemik. TN Tanjung Puting salah satunya, yang menjadi rumah terbesar bagi orangutan kalimantan dan bekantan.