Berita
Mikroplastik Dicurigai Picu Kepunahan Ikan di Kali Surabaya
Lima jenis ikan yang diteliti Ecoton dari Kali Surabaya mengandung mikroplastik dengan total 159 partikel.
Rabu, 14 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Penelitian yang dilakukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) baru-baru ini mengungkap hal yang membahayakan. Berdasarkan penelitian itu, ikan yang masih bertahan di Kali Surabaya, Jawa Timur, ternyata membawa jejak plastik di dalam tubuhnya.
Temuan ini muncul tidak lama setelah Veryl Hasan, peneliti Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, menemukan bahwa sedikitnya 12 spesies ikan Kali Surabaya telah dinyatakan punah dan sekitar 35 spesies masih tersisa.
Pada September 2026, Ecoton menganalisis lima jenis ikan lokal yang ditemukan dalam kegiatan sensus ikan. Hasilnya, kelima jenis ikan tersebut mengandung mikroplastik dengan total 159 partikel.
159 partikel ini terdiri dari 78,61 persen fragmen, 20,12 persen fiber, dan 1,25 persen film. Fragmen merupakan serpihan plastik, fiber berupa serat, sedangkan film berbentuk lembaran plastik tipis.
Ikan jenis jendil (Clupisoma sinense) memiliki jumlah partikel paling banyak, yaitu 50 partikel. Tetapi jumlah tersebut tidak bisa langsung dijadikan ukuran bahwa jendil memiliki paparan paling tinggi. Sampel jendil juga memiliki berat paling besar, yaitu 500 gram.
"Ketika jumlah partikel dihitung berdasarkan berat sampel, palung memiliki angka tertinggi, yaitu 0,257 partikel per gram, disusul bader merah sebesar 0,245 partikel per gram," kata Prigi Arisandi, Peneliti Ecoton, pada Selasa (13/10/2026).
Menurut Prigi, perhitungan berdasarkan berat membantu melihat perbedaan antar sampel dengan ukuran yang berbeda. Namun angka tersebut belum dapat digunakan untuk menyatakan tingkat risiko biologis pada ikan. Untuk mengetahuinya, masih diperlukan informasi lebih lanjut mengenai bagian tubuh yang dianalisis, ukuran partikel, jenis polimer, jalur paparan, dan lama paparan.
Mikroplastik ada di mana-mana
Prigi mengatakan, mikroplastik tidak muncul begitu saja di sungai. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini dapat terbentuk ketika plastik mengalami pelapukan, terbakar, atau bergesekan. Gesekan ban kendaraan juga dapat menghasilkan partikel, sementara pakaian berbahan sintetis dapat melepaskan serat saat dicuci.
Partikel-partikel tersebut kemudian dapat berpindah melalui udara, debu, air hujan, aliran air di permukaan tanah, dan air limbah hingga masuk ke sungai. Di Kali Surabaya, Ecoton menemukan mikroplastik pada beberapa media lingkungan.
"Di udara sekitar pabrik daur ulang plastik di Balongbendo dan timbunan sampah di Kedunganyar tercatat 630,5 partikel per jam. Pada air Kali Surabaya ditemukan 0,73–3,6 partikel per liter, sedangkan pada sedimen tercatat 0,22–0,54 partikel per gram," kata Prigi.
Sementara itu, pada limbah cair pabrik daur ulang plastik di aliran Brantas ditemukan 4,46–9,18 partikel per liter. Yang semula terlihat sebagai sampah di daratan atau partikel di udara pada akhirnya dapat berpindah dan masuk ke perairan.
Persoalan ini tidak hanya terjadi di Kali Surabaya. Mikroplastik merupakan persoalan yang semakin meluas di Indonesia. Penelitian Ecoton sebelumnya, mengungkapkan bahwa udara 18 kota mengandung mikroplastik dan selain itu Ecoton juga menemukan serat sintetis pada 68 sungai.
"Bagi Ecoton, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan mikroplastik tidak bisa hanya dilihat dari apa yang terlihat di sungai. Sumber pencemarnya berada jauh sebelum partikel itu sampai ke air," ujar Prigi.
Sebelumnya, Ecoton bersama PT Petrokimia Gresik melakukan sensus ikan di Kali Surabaya, pada 12-12 September 2026. Dalam sensus tersebut Ecoton menemukan 71 ekor ikan dari tujuh jenis, yaitu jendil, bader merah, bader putih, rengkik, palung, nilem/muntho, dan muraganting.
Jendil menjadi jenis yang paling banyak ditemukan, sebanyak 44 ekor atau sekitar 65 persen dari seluruh tangkapan sensus. Hal lain yang menjadi perhatian adalah komposisi jenis kelamin. Sekitar 80 persen ikan yang tertangkap teridentifikasi berkelamin betina.
Data tersebut menarik untuk diteliti lebih lanjut karena rasio jantan dan betina dapat menjadi salah satu informasi dalam melihat kondisi populasi. Namun, hasil sensus ini belum cukup untuk menyimpulkan adanya gangguan hormonal atau reproduksi.
Ecoton mendorong pengendalian pencemaran dilakukan sejak sumbernya. Lembaga masyarakat sipil tersebut menawarkan sejumlah langkah pengendalian. Langkah tersebut berupa penghentian pembakaran sampah terbuka yang disertai perluasan layanan pengangkutan dan pemilahan sampah hingga tingkat desa. Langkah lainnya adalah memperkuat pengawasan limbah industri, terutama daur ulang plastik, agar tidak menjadi sumber kebocoran mikroplastik ke perairan.
Pemantauan juga harus memasukkan mikroplastik sebagai materi yang harus diawasi, selain memperkuat penelitian untuk mengidentifikasi jenis polimer, pemeriksaan air dan sedimen, kajian plankton dan pakan alami, serta penelitian parameter reproduksi ikan. Yang tak kalah penting adalah pemulihan habitat ikan, perlindungan suaka ikan, pemulihan vegetasi bantaran, dan pemantauan bersama masyarakat.
Prigi mengatakan, pencemaran mikroplastik tidak datang dari satu sumber. Penanganannya juga tidak bisa hanya mengandalkan satu program.
"Ikan yang masih hidup di Kali Surabaya memberi tanda bahwa sungai ini masih punya kehidupan yang harus dipertahankan. Tetapi kehidupan itu membutuhkan sungai yang sehat," katanya.



