Selasa, 13 Oktober 2026

            

Berita

Minyak Sawit Domestik dan Deforestasi 'Teman Baik': Riset Trase

Data Trase menunjukkan dua pertiga deforestasi akibat produksi minyak sawit di Indonesia terhubung dengan permintaan domestik.

Selasa, 13 Oktober 2026
Areal Bentang Seblat, di kawasan hutan produksi Air Teramang yang menjadi habitat gajah sumatera dikuasai dan ditanami kelapa sawit yang masih dipanen rutin. Didokumentasikan pada 10 Februari 2026. Sumber: Auriga Nusantara.
Areal Bentang Seblat, di kawasan hutan produksi Air Teramang yang menjadi habitat gajah sumatera dikuasai dan ditanami kelapa sawit yang masih dipanen rutin. Didokumentasikan pada 10 Februari 2026. Sumber: Auriga Nusantara.

BETAHITA.ID - Auriga Nusantara dan Trase meluncurkan hasil kajian dan data terbaru mengenai rantai pasok minyak sawit Indonesia periode 2023–2024 dan data deforestasi 2025 di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Kajian tersebut menunjukkan pasar domestik terhubung dengan dua pertiga deforestasi yang disebabkan oleh minyak sawit. Ini berarti hampir sembilan kali lipat dari deforestasi yang terkait dengan ekspor ke India, pasar terbesar luar negeri. 

Trase adalah inisiatif nirlaba yang didirikan pada tahun 2015 oleh Stockholm Environment Institute dan Global Canopy untuk menghadirkan transparansi dalam deforestasi dan perdagangan komoditas agrikultur. Auriga Nusantara adalah LSM lingkungan hidup Indonesia dan mitra utama Trase di Indonesia.

Menurut kajian ini, lebih dari separuh produksi minyak sawit Indonesia dikonsumsi di dalam negeri pada tahun 2024 – angka tertinggi sepanjang sejarah yang didorong oleh meningkatnya permintaan domestik, termasuk untuk produksi biodiesel.

“Pasar domestik yang terus berkembang membuat transparansi di seluruh sektor menjadi lebih penting dari sebelumnya. Untuk memperkuat konservasi hutan, diperlukan pelaporan yang lebih baik mengenai pembeli domestik serta lokasi-lokasi pengadaannya yang dapat diakses publik untuk rantai pasok domestik,” kata Adelina Chandra, peneliti Trase.

Empat grup perusahaan besar terus mendominasi ekspor adalah Royal Golden Eagle (RGE), Sinar Mas, Musim Mas, dan Wilmar. Royal Golden Eagle, Sinar Mas, Musim Mas, dan Wilmar secara keseluruhan menyumbang 52% dari volume ekspor pada tahun 2024.

Perusahaan eksportir menengah mengalami pergeseran peringkat yang lebih signifikan: KPN Corp naik dari peringkat ke-15 ke peringkat ketujuh, sementara Permata Hijau turun dari peringkat kelima ke peringkat ke-12.

Papua dan Kalimantan, Titik Paling Rawan Deforestasi

Meskipun produksi minyak sawit Indonesia mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024, konversi hutan baru tetap berada pada angka yang jauh lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya. Namun, laju deforestasi untuk perkebunan sawit di Papua meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sementara Kalimantan menyumbang 56% dari total deforestasi yang disebabkan oleh perkebunan sawit di Indonesia.

Penurunan lahan gambut yang disebabkan oleh perkebunan sawit dan kebakaran gambut menyumbang 85% dari emisi gas rumah kaca di sektor tersebut.

“Sebagaimana ditunjukkan oleh pemetaan area terbakar yang dilakukan oleh MapBiomas Indonesia, di antara semua konsesi ekstraktif, konsesi sawit masih mencatat jumlah kebakaran terbanyak. Industri sawit masih perlu melakukan perbaikan,” kata Timer Manurung, Direktur Eksekutif Auriga.