Senin, 12 Oktober 2026

            

Berita

Keseimbangan Jenis Kelamin Ikan di Kali Surabaya Terganggu

Paparan bahan pencemar yang mengandung estrogen sintetis maupun alami, mendorong terjadinya feminisasi secara masif pada larva ikan.

Senin, 12 Oktober 2026
Ikan jenis jendil yang ditemukan dalam sensus ikan Kali Surabaya oleh Ecoton, pada 12-13 September 2026. Sumber: Ecoton.
Ikan jenis jendil yang ditemukan dalam sensus ikan Kali Surabaya oleh Ecoton, pada 12-13 September 2026. Sumber: Ecoton.

BETAHITA.ID - Populasi ikan di Kali Surabaya, Jawa Timur, tidak seimbang. Dari setiap 10 ikan lokal di kali tersebut, sekitar 8 di antaranya berjenis kelamin betina. Menurut pakar, fenomena ketimpangan populasi tersebut dapat disebabkan oleh polutan yang memengaruhi penentuan dan diferensiasi kelamin dan larva ikan. 

Guru Besar Departemen Budidaya Perairan IPB University, Alimuddin, mengatakan, secara alami rasio kelamin ikan umumnya mendekati seimbang, yakni 50-50 persen. Namun kondisi di Kali Surabaya menyimpang jauh dari persentase tersebut.

"Penetapan dan diferensiasi kelamin pada larva ikan sangat peka terhadap dinamika kualitas air dan polusi lingkungan,” ujarnya, pada Senin (12/10/2026).

Salah satu pemicunya, lanjut Alimuddin, adalah polutan dan senyawa kimia. Paparan bahan pencemar yang mengandung estrogen sintetis maupun alami, seperti sisa obat kontrasepsi atau fitoestrogen, mendorong terjadinya feminisasi secara masif pada larva ikan.

Selain itu, menurut Alimuddin, kondisi air yang cenderung asam terbukti menghasilkan populasi betina yang lebih dominan. Fluktuasi suhu ekstrem pada masa perkembangan larva turut memengaruhi arah diferensiasi kelamin.

Dampak ketimpangan ini tidak bisa dianggap sepele. Alimuddin mengatakan, dominasi populasi betina yang ekstrem berdampak signifikan terhadap keberlangsungan spesies lokal jika terjadi terus-menerus. Tingkat kepekaan tiap spesies berbeda, bergantung pada sistem perkawinannya (mating system).

Menurut Alimuddin, terdapat tiga dampak utama yang akan terjadi. Pertama, keterbatasan sperma (sperm limitation). Dengan proporsi jantan hanya 20 persen, ikan jantan berisiko mengalami kelelahan reproduksi (sperm depletion), sehingga pembuahan telur menurun drastis.

Kedua, penurunan variasi genetik (genetic bottleneck). Jumlah jantan yang sedikit memicu perkawinan sekerabat (inbreeding), yang meningkatkan risiko cacat genetik dan menurunkan daya tahan populasi terhadap penyakit.

Ketiga, kegagalan pemijahan dan perawatan induk. Betina yang gagal menemukan pasangan mengalami penyerapan kembali telur (atresia). Pada spesies yang membutuhkan pejantan untuk menjaga telur, kekosongan peran jantan menyebabkan mortalitas telur tinggi akibat serangan predator.

Alimuddin menawarkan langkah strategis kepada pemerintah dan pengelola lingkungan untuk memulihkan ekosistem Kali Surabaya. Langkah pertama adalah pemantauan dan identifikasi senyawa pengganggu endokrin (EDC).

"Perlu identifikasi spesifik terhadap kandungan EDC seperti ethinylestradiol, pestisida, dan phthalates pada air dan sedimen, serta pemetaan titik sumber pencemar atau hotspot mapping," katanya.

Yang kedua, perbaikan regulasi dan baku mutu air. Alimuddin menuturkan, standar baku mutu air perlu diperbarui dengan memasukkan parameter zat pengganggu hormon, disertai pengetatan izin Pembuangan Limbah Cair (IPLC) dan sanksi tegas bagi industri pencemar.

Kemudian yang ketiga, modernisasi infrastruktur instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan restorasi. Teknologi pengolahan limbah tingkat lanjut (AOPs, MBR) perlu diterapkan dan constructed wetlands dibangun sebagai biofilter.

"Aktivitas penyebaran benih dan restocking sebaiknya ditunda sampai kualitas air membaik," ucapnya. 

Sensus ikan di Kali Surabaya

Sebelumnya, berdasarkan sensus yang dilakukan di Kali Surabaya pada 12-13 September 2026, tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama PT Petrokimia Gresik, menemukan 71 ekor ikan terdiri dari 7 jenis, yaitu jendil, bader merah, bader putih, rengkik, palung, nilem atau muntho, dan muraganting. 

Dari 71 ikan yang ditemukan, data jenis kelamin berhasil dicatat pada 67 ekor. Sebanyak 52 ekor atau 77,6 persen merupakan ikan betina, sedangkan 15 ekor atau 22,4 persen merupakan ikan jantan.

Dari 7 jenis ikan ini, jenis jendil menjadi ikan yang paling banyak ditemukan. Sebanyak 44 ekor jendil tercatat dalam sensus atau sekitar 65 persen dari seluruh ikan yang ditemukan. Pada Jendil, tercatat 35 ekor betina dan delapan ekor jantan.

Namun, menurut Ecoton, angka tersebut belum dapat menggambarkan kondisi populasi ikan Kali Surabaya secara keseluruhan. Sensus dilakukan pada waktu dan lokasi tertentu sehingga hasilnya perlu dilihat bersama pengamatan berikutnya. Karena itu, pengukuran yang dilakukan kembali akan membantu melihat apakah komposisi jenis kelamin, jumlah, ukuran, dan jenis ikan menunjukkan pola yang sama.

Founder Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan bahwa Kali Surabaya masih memiliki keanekaragaman ikan yang perlu dijaga. Ia bilang, di kali ini terdapat sekitar 35 jenis ikan.

Prigi mengatakan, penebaran ikan perlu diikuti dengan upaya menjaga kualitas air dan habitatnya. Karena itu, penebaran ikan perlu diikuti dengan upaya menjaga kualitas air dan habitatnya. Tanpa kondisi sungai yang baik, ikan yang ditebar akan sulit bertahan dan berkembang.

“Kalau ingin ikan-ikan tetap hidup, kita tidak boleh membuang sampah ke sungai. Industri juga kami harapkan tidak membuang limbah tanpa diolah ke sungai," katanya, pada . 

Menurut Ecoton, keberadaan ikan di Kali Surabaya tidak dapat dilepaskan dari catatan mengenai perubahan keanekaragaman ikan di sungai tersebut. Sebelumnya, penelitian dan pemberitaan mengenai Kali Surabaya telah mencatat adanya jenis ikan yang semakin jarang ditemukan. 

Sejumlah jenis bahkan pernah dilaporkan hilang dari sungai akibat perubahan kondisi habitat dan pencemaran. Catatan tersebut menjadi salah satu alasan untuk kembali melihat jenis ikan apa saja yang masih ditemukan di Kali Surabaya.

Namun, Ecoton menegaskan, hasil sensus ini tidak dapat langsung diartikan bahwa jenis ikan yang sebelumnya dilaporkan hilang telah kembali. Waktu, lokasi, metode penangkapan, dan cakupan pengamatan berbeda sehingga hasilnya perlu dibaca secara hati-hati. Sebaliknya, jika suatu jenis ikan tidak ditemukan dalam satu kali sensus, kondisi tersebut juga belum cukup untuk menyatakan bahwa ikan tersebut telah punah.